Membumikan Politik Profetik

Saya tidak bermaksud berutopia bila dalam esai ini mewacanakan kembali politik profetik. Dalam ranah wacana, politik profetik sejatinya bukan isu baru. Kita bisa banyak menemukan banyak artikel yang membahas tema ini.

Di tengah maraknya praksis politik yang kian kumuh di negeri ini, wacana politik profetik menemukan relevasi untuk terus didorong. Ide tentang politik profetik seperti menebar embun di tengah padang pasir: terasa menyejukkan.

Paling tidak paradigma politik profetik akan menjadi narasi tandingan atau antitesis atas narasi dan praktik politik yang kian kehilangan arah. Ide dasar politik profetik sejatinya mengadopsi gagasan cendekiawan Kuntowijoyo tentang perlunya membangun ilmu sosial profetik.

Melalui karyanya, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (2008), Kuntowijoyo menguraikan perspektifnya tentang ilmu sosial profetik itu.  Ia mengkritik ilmu-ilmu sosial yang hanya berhenti saat menjelaskan fenomena-fenomena sosial.

Tugas  ilmu sosial sejatinya tidak hanya menjelaskan, tapi juga menstransformasikannya ke dalam perubahan. Ilmu sosial profetik yang dia sodorkan untuk membuat perubahan berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu.

Cita-cita perubahan itu didasarkan pada tiga prinsip: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi adalah memanusiakan manusia karena proses dehumanisasi di masyarakat industrial terjadi dan menempatkan manusia sebagai bagian dari masyarakat abstrak tanpa wajah kemanusiaan.

Liberasi adalah membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang diciptakan sendiri, seperti kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi, pemerasan, yang kemudian menyatu dengan mereka yang terpinggirkan di tengah-tengah raksasa ekonomi yang membelenggu.

Sedangkan tujuan transendensi adalah menambahkan dimensi transenden dalam kebudayaan. Transendental sebagai bagian yang sah dari fitrah kemanusiaan. ”Kita ingin merasakan dunia ini sebagai rahmat Tuhan,” kata Kuntowijoyo dalam bukunya itu.

Politik profetik sejatinya sebangun dengan konsep Kuntowijoyo itu. Bahwa paradigma politik bukan sekadar urusan kekuasaan seperti yang selama ini kita pahami, melainkan ada sesuatu yang transendental, terkait nilai-nilai adiluhung kenabian.

Muhammad Nur melalui artikel Rekonstruksi Epistemologi Politik: Dari Humanistik ke Profetik di Jurnal Asy-Syirah (jurnal ilmu syariat dan hukum)  Volume 48 Nomor 1 Tahun 2014 mengemukakan filosofi profetik sejatinya muncul dari kritik atas kecenderungan ilmu sosial yang kian positivistik.

Positivisme muncul saat prosedur-prosedur ilmu alam diadopsi dalam ilmu sosial sehingga fenomena sosial tidak lagi dianggap sebagai produk kegiatan manusia tapi sebagai sesuatu peristiwa alam.  Gejala sosial diterima apa adanya, bebas nilai.

Di artikel itu, Muhammad Nur menulis bahwa politik profetik juga bisa menjadi narasi tandingan terhadap filsafat politik barat yang bercita rasa humanis an sich.  Kerja politik berasal dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia.

Politik profetik mewacanakan konsep lain. Politik tidak sekadar urusan manusia, tapi sebagai perwujudan nilai-nilai ketuhanan. Politik profetik bertumpu pada humanisme yang transenden, politik yang memberi rahmat kepada semua (rahmatan lil alamin).

Formalisme

Dari sisi konsep, politik profetik sungguh indah. Memberi tawaran lain dari praktik politik yang bebas nilai itu. Berpolitik tidak semata-mata urusan perebutan kekuasaan yang diatur oleh mekanisme yang disepakati.

Berpolitik punya misi seperti yang diemban para nabi. Sungguh menyedihkan bila wacana politik profetik ini kian terpinggirkan dalam budaya politik di Indonesia.

Praktis tak ada tokoh politik yang (minimal) mewacanakan kerinduan akan politik yang bermisi ketuhanan, seperti membangun kemaslahatan bersama, kemakmuran, membebaskan diri dari eksploitasi, menebar kasih sayang tanpa mengenal sekat identitas.

Alih-alih membumikan politik yang bermartabat, praktik politik di Indonesia justru diwarnai kian kentalnya politik identitas dan formalisme agama. Menguatnya sentimen politik identitas acap kali muncul dari ekspoitasi sistem keyakinan yang dipaksa masuk dalam ranah politik.

Secara paradigmatik, politik identitas bukan menjadi bagian dari politik profetik. Paradigma profetik bertumpu pada nilai-nilai, bukan pada formalisme (simbol) yang kadang mengaburkan substansi.

Kalau saya meminjam perspektif Bassam Tibi, guru besar politik di Jerman, formalisme agama bukan bagian dari agama, melainkan ”politik  yang diagamaisasikan.” Formalisme agama dalam ranah politik sejatinya justru merendahkan agama.

Agama yang agung itu kemudian jadi sekadar komoditas dalam pemasaran politik (political marketing). Politik identitas bukan pula perwujutan politik yang transenden, tapi sebaliknya, politik yang dekaden (mundur, merosot).

Keringnya praktik politik yang transenden itu bisa kita lihat dalam laku politikus—dan para pengikutnya. Kebenaran dalam politik bukan lagi dilandaskan pada kebenaran hakiki, lahir dari cara berpikir yang sistematis, melainkan kebenaran berdasarkan perspektif kepentingan.

Politikus begitu mudah berubah sikap, mengubah sudut pandang, hanya karena kepentingan yang berubah. Mereka beretorika politik itu dinamis, padahal hakikatnya adalah mencla-mencle .

Demokrasi bukan lagi sebagai mekanisme politik yang menggembirakan, tapi justru membikin stres sebagian warga ini.  Segelintir elite politik, ketua partai politik  yang menjadi penentu kebijakan, seperti berada dalam zona nyaman, menikmati situasi yang boleh jadi menyenangkan bagi mereka.

Situasi itu sejatinya membikin ”mual” mereka yang berhati nurani. Protes keras rakyat atas terbentuknya Panitia Khusus Hak Angket DPR untuk Komisi Pemberantasan Korupsi dianggap angin lalu. Mereka bekerja lepas dari mandat rakyat yang memilih mereka.  Mereka sebenarnya mewakili siapa?

Kondisi itu pula yang menyebabkan praktik dan budaya politik di Indonesia nyaris tanpa kemajuan. Dalam beberapa indikator malah menunjukkan kemunduran. Periodisasi sejarah (dalam perspektif Kuntowijoyo) yang mestinya kita sudah masuk era ilmu, era berkemajuan, tapi kita malah kembali lagi ke era ideologi kekuasaan yang masih berdebat tentang bentuk negara.

Bidang-bidang lain (marketing, misalnya) sangat cepat berubah, makin kreatif mengikuti perubahan lingkungan, perubahan teknologi, dan perubahan perilaku konsumen, sementara praktik dan budaya politik kita justru resisten terhadap ide-ide baru.

Saya masih bimbang, apakah dalam lanskap politik di negeri ini masih menyisakan sedikit ruang bagi lahirnya politik profetik, politik berperadaban, berkeadaban, dan  politik yang menebar rahmat itu. Mari bertanya pada nurani kita masing-masing.

 

Keterangan :

Artikel ini pernah dimuat di Harian Solopos, edisi Senin, 17 Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Solidaritas untuk Ahmadiyah

Hari masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul 6.30 WIB. Seperti rutinitas yang saya jalani tiap pagi : bangun tidur, solat subuh, jalan pagi (biar kondisi fisik selalu fit gitu lhoh…) , terus mencari channel berita di TV. Bagi saya, rutinitas nonton berita di TV ini menjadi “menu” wajib harian, guna mengetahui kabar-kabar terkini yang terjadi malam hingga pagi hari. “Siapa tahu ada berita mengejutkan yang bisa saya peroleh pagi ini,” begitu pikir saya saat memencet tombol “on” di remote control TV. Benar saja, pagi itu saya memperoleh kabar yang sangat menyedihkan : “Mesjid Al Furqon, mesjid milik Jemaat Ahmadiyah, di Sukabumi dibakar massa bercadar pada Senin (28/4) dini hari”. Kendati udara di luar masih terasa dingin, saya merasa badan ini tiba-tiba menjadi panas setelah melihat berita itu…

Saya benar-benar terkejut dan tidak bisa mengerti.  Ada sekelompok massa yang tega membakar mesjid, rumah Allah, tempat ibadah yang sangat disucikan ummat Islam. Akal sehat dan nurani saya tidak bisa menangkap sama sekali. Apakah para pembakar mesjid itu masih punya akal sehat? Apakah para perusak rumah ibadah itu masih punya hati nurani? Masih pantaskah para pembakar mesjid itu disebut orang-orang beragama? Apa yang berkecamuk dalam otak mereka saat menghanguskan tempat suci itu? Apakah mereka bangga karena sudah berhasil menghancurkan tempat ibadah orang-orang yang mereka tuduh sesat? Bukankah membakar mesjid hanya pantas dilakukan para setan dan iblis? Ataukah orang-orang itu memang iblis yang sudah berwujud jadi manusia? Wallahu’alam…Naudzubillahi min dzalik…terus terang sampai sekarang saya belum memperoleh jawabannya….

Musibah yang dialami kawan-kawan pengikut Ahmadiyah ini bukan sekali ini terjadi. Sudah puluhan tahun warga aliran Ahmadiyah ini memperoleh perlakukan yang tidak semestinya : dituduh sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), dikafirkan, dianggap keluar dari aqidah Islam, dihardik, tidak boleh memasang papan nama Ahmadiyah, diusir dari kampung halamannya, mesjidnya disegel lantas dibakar. Bagi warga Ahmadiyah perlakuan-perlakuan seperti mungkin dianggap hal itu dianggap hal biasa, karena terlalu sering mereka alami. Tapi bagi saya, itu hal sesuatu yang luar biasa…jangankan dengan sesama umat beragama, dengan orang kafir sekalipun Islam melarang menebar permusuhan…mereka perlu diperlakukan sebagai sesama makhluk Tuhan, dan punya hak sama dalam menentukan pilihan hidupnya…

Pemerintah yang semestinya menjadi pengayom masyarakat, tidak bisa berkutik apa-apa. Aparat kepolisian selalu tidak tegas dalam menindak pihak-pihak yang menyerang Ahmadiyah. Jelas, kekerasan adalah tindak kriminal. Pemerintah malah sedang menyiapkan surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri yang—konon—akan melarang aktivitas Ahmadiyah di Indonesia. Rencana penerbitan SKB ini atas rekomendasi Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang menilai Ahmadiyah menyimpang dari Islam dan diminta menghentikan kegiatannya. Apabila pemerintah benar-benar mengeluarkan SKB, maka ini akan menjadi tragedi luar biasa. Pemerintah bisa melarang sebuah keyakinan, sementara tidak ada hukum-hukum negara yang dilanggar Ahmadiyah…

Terus terang saya menjadi sangat bersimpati terhadap “penderitaan” yang dialami kawan-kawan di Ahmadiyah. Meskipun saya sendiri tidak sepaham dengan keyakinan Ahmadiyah,   tapi saya sangat menghargai prinsip-prinsip yang dipegang pengikut Ahmadiyah. Mereka terlihat gigih mempertahankan pendapatnya meski berseberangan dengan pendapat mainstream umat Islam. Ahmadiyah juga dikenal sebagai kelompok yang anti kekerasan. Sejauh yang saya ketahui, keberadan aliran ini belum pernah bikin ulah…Ahmadiyah juga tidak pernah menggunakan simbol-simbol agama untuk menghantam  pihak lain. Coba bandingkan dengan kelompok-kelompok. FPI misalnya, keberadaannya mereka selalu bikin resah. Mereka sering menggunakan simbol-simbol suci agama guna melakukan tindakan yang justru dapat menodai kesucian ajaran agama itu sendiri. Dalam hal ini, boleh-boleh saja kita tidak sependapat dengan ajaran Ahmadiyah, tapi apakah kemudian kita boleh semena-mena dengan mereka? Bagi saya tidak….”Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi kaum yang kamu olok-olok itu lebih baik dari kamu…”

Paling asasi

Bagi saya, keyakinan adalah hal paling asasi dalam diri manusia. Tiap manusia punya kebebasan meyakini sesuatu atau tidak meyakini sesuatu. Hak ini dijamin oleh prinsip-prinsip universal yang diyakini umat manusia. Konstitusi di negara kita (pasal 29 UUD ’45) pun jelas-jelas menjamin adanya kebebasan beragama. Dalam agama Islam yang saya yakini pun, Allah membebaskan umat manusia untuk menentukan pilihan : mau jadi kafir atau beriman. “Barang siapa ingin kafir, silakan kafir. Barang siapa ingin beriman, silakan beriman.”. Dalam surat Alkafirun juga disebutkan, lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Dalam Alquran sendiri ada 300 ayat (menurut studi Zuhairi Misrawi) yang membahas tentang toleransi, inklusivime, demokrasi, dan pluralisme. Dari keterangan ayat ini, jelas Allah sangat demokratis dalam memberi pilihan kepada manusia meskipun tiap pilihan (kafir atau beriman) punya konsekuensi di mata Allah. Kalau Allah saja sangat demokratis, tepo seliro, memberi kebebasan pilihan, mengapa diantara kita justru bertindak otoriter? Sok merasa paling benar, sok merasa paling Islam dibanding orang lain? Sok merasa menjadi satu-satunya pemilik surga? Huh…

Yang harus diiingat bahwa salah tidaknya keyakinan ini hanya Tuhan yang berhak meminta pertanggungjawaban. Sebagai sesama, manusia (termasuk MUI, yang katanya warasatul ambiya atau pewaris para nabi itu) tidak berhak meminta pertanggungjawaban—apalagi menghukum—orang yang punya keyakinan berbeda. Apakah sebuah keyakinan itu sesat, salah, melenceng dari garis lurus, hanya akan bisa kita ketahui di akhirat nanti. Dus, jika ada orang memvonis sesat keyakinan orang lain, itu sama artinya mereka telah “merebut” otoritas Tuhan. Ya nggak?….bukankah mereka itu orang-orang sesat dalam arti sebenarnya…?

Mulai sekarang agaknya kita perlu mengembangkan sikap dialogis guna menjembatani perbedaan tafsir atas ajaran agama. Jika satu kelompok memandang kelompok lain punya keyakinan yang tidak pas, seharusnya jalan diskusi, tukar pikiran dengan semangat menghargai perbedaan yang bisa ditempuh. Jika cara-cara dialogis ternyata tidak bisa menyamakan persepsi, maka biarkanlah mereka berjalan sesuai keyakinannya…sekali lagi : lakum dinukum waliyadin…kekerasan, dengan dalih apapun tidak bisa dibenarkan, baik oleh etika, hukum, prinsip-prinsip universal, dan ajaran agama manapun…

Buat kawan-kawanku di Ahmadiyah…teruskan perjuanganmu…aku ada di belakangmu…

Solo, 30 April 2008

Solidaritas untuk Ahmadiyah

Hari masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul 6.30 WIB. Seperti rutinitas yang saya jalani tiap pagi : bangun tidur, solat subuh, jalan pagi (biar kondisi fisik selalu fit gitu lhoh…) , terus mencari channel berita di TV. Bagi saya, rutinitas nonton berita di TV ini menjadi “menu” wajib harian, guna mengetahui kabar-kabar terkini yang terjadi malam hingga pagi hari. “Siapa tahu ada berita mengejutkan yang bisa saya peroleh pagi ini,” begitu pikir saya saat memencet tombol “on” di remote control TV. Benar saja, pagi itu saya memperoleh kabar yang sangat menyedihkan : “Mesjid Al Furqon, mesjid milik Jemaat Ahmadiyah, di Sukabumi dibakar massa bercadar pada Senin (28/4) dini hari”. Kendati udara di luar masih terasa dingin, saya merasa badan ini tiba-tiba menjadi panas setelah melihat berita itu…

Saya benar-benar terkejut dan tidak bisa mengerti.  Ada sekelompok massa yang tega membakar mesjid, rumah Allah, tempat ibadah yang sangat disucikan ummat Islam. Akal sehat dan nurani saya tidak bisa menangkap sama sekali. Apakah para pembakar mesjid itu masih punya akal sehat? Apakah para perusak rumah ibadah itu masih punya hati nurani? Masih pantaskah para pembakar mesjid itu disebut orang-orang beragama? Apa yang berkecamuk dalam otak mereka saat menghanguskan tempat suci itu? Apakah mereka bangga karena sudah berhasil menghancurkan tempat ibadah orang-orang yang mereka tuduh sesat? Bukankah membakar mesjid hanya pantas dilakukan para setan dan iblis? Ataukah orang-orang itu memang iblis yang sudah berwujud jadi manusia? Wallahu’alam…Naudzubillahi min dzalik…terus terang sampai sekarang saya belum memperoleh jawabannya….

Musibah yang dialami kawan-kawan pengikut Ahmadiyah ini bukan sekali ini terjadi. Sudah puluhan tahun warga aliran Ahmadiyah ini memperoleh perlakukan yang tidak semestinya : dituduh sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), dikafirkan, dianggap keluar dari aqidah Islam, dihardik, tidak boleh memasang papan nama Ahmadiyah, diusir dari kampung halamannya, mesjidnya disegel lantas dibakar. Bagi warga Ahmadiyah perlakuan-perlakuan seperti mungkin dianggap hal itu dianggap hal biasa, karena terlalu sering mereka alami. Tapi bagi saya, itu hal sesuatu yang luar biasa…jangankan dengan sesama umat beragama, dengan orang kafir sekalipun Islam melarang menebar permusuhan…mereka perlu diperlakukan sebagai sesama makhluk Tuhan, dan punya hak sama dalam menentukan pilihan hidupnya…

Pemerintah yang semestinya menjadi pengayom masyarakat, tidak bisa berkutik apa-apa. Aparat kepolisian selalu tidak tegas dalam menindak pihak-pihak yang menyerang Ahmadiyah. Jelas, kekerasan adalah tindak kriminal. Pemerintah malah sedang menyiapkan surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri yang—konon—akan melarang aktivitas Ahmadiyah di Indonesia. Rencana penerbitan SKB ini atas rekomendasi Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang menilai Ahmadiyah menyimpang dari Islam dan diminta menghentikan kegiatannya. Apabila pemerintah benar-benar mengeluarkan SKB, maka ini akan menjadi tragedi luar biasa. Pemerintah bisa melarang sebuah keyakinan, sementara tidak ada hukum-hukum negara yang dilanggar Ahmadiyah…

Terus terang saya menjadi sangat bersimpati terhadap “penderitaan” yang dialami kawan-kawan di Ahmadiyah. Meskipun saya sendiri tidak sepaham dengan keyakinan Ahmadiyah,   tapi saya sangat menghargai prinsip-prinsip yang dipegang pengikut Ahmadiyah. Mereka terlihat gigih mempertahankan pendapatnya meski berseberangan dengan pendapat mainstream umat Islam. Ahmadiyah juga dikenal sebagai kelompok yang anti kekerasan. Sejauh yang saya ketahui, keberadan aliran ini belum pernah bikin ulah…Ahmadiyah juga tidak pernah menggunakan simbol-simbol agama untuk menghantam  pihak lain. Coba bandingkan dengan kelompok-kelompok. FPI misalnya, keberadaannya mereka selalu bikin resah. Mereka sering menggunakan simbol-simbol suci agama guna melakukan tindakan yang justru dapat menodai kesucian ajaran agama itu sendiri. Dalam hal ini, boleh-boleh saja kita tidak sependapat dengan ajaran Ahmadiyah, tapi apakah kemudian kita boleh semena-mena dengan mereka? Bagi saya tidak….”Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi kaum yang kamu olok-olok itu lebih baik dari kamu…”

Paling asasi

Bagi saya, keyakinan adalah hal paling asasi dalam diri manusia. Tiap manusia punya kebebasan meyakini sesuatu atau tidak meyakini sesuatu. Hak ini dijamin oleh prinsip-prinsip universal yang diyakini umat manusia. Konstitusi di negara kita (pasal 29 UUD ’45) pun jelas-jelas menjamin adanya kebebasan beragama. Dalam agama Islam yang saya yakini pun, Allah membebaskan umat manusia untuk menentukan pilihan : mau jadi kafir atau beriman. “Barang siapa ingin kafir, silakan kafir. Barang siapa ingin beriman, silakan beriman.”. Dalam surat Alkafirun juga disebutkan, lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Dalam Alquran sendiri ada 300 ayat (menurut studi Zuhairi Misrawi) yang membahas tentang toleransi, inklusivime, demokrasi, dan pluralisme. Dari keterangan ayat ini, jelas Allah sangat demokratis dalam memberi pilihan kepada manusia meskipun tiap pilihan (kafir atau beriman) punya konsekuensi di mata Allah. Kalau Allah saja sangat demokratis, tepo seliro, memberi kebebasan pilihan, mengapa diantara kita justru bertindak otoriter? Sok merasa paling benar, sok merasa paling Islam dibanding orang lain? Sok merasa menjadi satu-satunya pemilik surga? Huh…

Yang harus diiingat bahwa salah tidaknya keyakinan ini hanya Tuhan yang berhak meminta pertanggungjawaban. Sebagai sesama, manusia (termasuk MUI, yang katanya warasatul ambiya atau pewaris para nabi itu) tidak berhak meminta pertanggungjawaban—apalagi menghukum—orang yang punya keyakinan berbeda. Apakah sebuah keyakinan itu sesat, salah, melenceng dari garis lurus, hanya akan bisa kita ketahui di akhirat nanti. Dus, jika ada orang memvonis sesat keyakinan orang lain, itu sama artinya mereka telah “merebut” otoritas Tuhan. Ya nggak?….bukankah mereka itu orang-orang sesat dalam arti sebenarnya…?

Mulai sekarang agaknya kita perlu mengembangkan sikap dialogis guna menjembatani perbedaan tafsir atas ajaran agama. Jika satu kelompok memandang kelompok lain punya keyakinan yang tidak pas, seharusnya jalan diskusi, tukar pikiran dengan semangat menghargai perbedaan yang bisa ditempuh. Jika cara-cara dialogis ternyata tidak bisa menyamakan persepsi, maka biarkanlah mereka berjalan sesuai keyakinannya…sekali lagi : lakum dinukum waliyadin…kekerasan, dengan dalih apapun tidak bisa dibenarkan, baik oleh etika, hukum, prinsip-prinsip universal, dan ajaran agama manapun…

Buat kawan-kawanku di Ahmadiyah…teruskan perjuanganmu…aku ada di belakangmu…

Solo, 30 April 2008

Selamatkan Muhammadiyah

Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah (K.H. Ahmad Dahlan)

Sejujurnya saya tidak begitu sreg saat Din Syamsuddin terpilih menjadi Ketua PP Muhammadiyah melalui Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang pada 2005 lalu. Bukannya saya meragukan kemampuan Din dalam memimpin Muhammadiyah, tapi lebih karena latar belakang Din yang pernah menjadi politisi.

Din adalah mantan aktivis dan anggota DPR dari Golkar, partai penyokong rezim Soeharto di era Orde Baru. Saat terpilih menjadi Ketua PP Din memang sudah “tobat” dengan tidak aktif lagi di Golkar, namun itu tidak bisa menghilangkan kekhawatiran saya.

Sebagai orang yang pernah malang melintang di dunia politik, watak politisi Din suatu bisa saja “kambuh” kembali. Kalau ini terjadi akan sangat membahayakan Muhammadiyah. Bagaimanapun profil ketua umum akan mempengaruhi langgam Ormas keagamaan yang berwatak amar makruf nahi mungkar ini. Karakter politisi Din sebenarnya kurang cocok untuk memimpin persyarikatan. Sebagai gerakan moral, Muhammadiyah akan pas dipimpin sosok moralis semacam A Syafii Ma’arif.

Kecurigaan saya mulai muncul saat Din mulai runtang-runtung dengan Megawati Soekarnoputri, Ketua DPP PDI Perjuangan. Din juga ikut memelopori berdirinya Baitul Muslimin, sayap organisasi Islam milik PDIP. Saya, dan beberapa teman di Muhammadiyah lain, mulai menebak, Din sedang bermanuver. Publik dan warga Muhammadiyah juga reka-reka agenda apa sebenarnya yang ada di belakang Din.

Bisikkan…

Kedekatan Din dengan Partai Matahari Bangsa (PMB) semakin memperkuat dugaan saya. Dalam pemberitaan Majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan, Din terang-terangan mendukung PMB. Dalam Rapat Pimpinan Nasional PMB, Din mengungkapkan, “Bisikkan kepada orang-orang. Din sebagai pribadi mendukung partai ini. Meski dinyatakan secara pribadi, tetapi akan sulit dipisahkan dari lembaga.”

Masih menurut Tempo, tidak hanya itu, Din juga juga memberikan fasilitas. Perhimpunan Amanat Muhammadiyah—embrio PMB—bermarkas di Kantor Lembaga Hikmah PP Muhammadiyah. Din dan sejumlah petinggi Muhammadiyah juga aktif dalam rapat-rapat pembentukan partai ini. Beberapa kali rapat bahkan dilakukan di rumah Din.

Sebagai orang yang dilahirkan dari darah daging Muhammadiyah—ayah saya (alm) aktivis Muhammadiyah dan ibu saya aktivis Aisyiyah—sangat prihatin dengan kondisi ini karena Muhammadiyah mulai dijadikan bahan mainan para petingginya. Bagaimanapun sikap Din ini akan mengundang masalah di tubuh Muhammadiyah. Bukan hanya akan berpotensi mengundang konflik internal karena warga Muhammadiyah sangat plural dalam menyalurkan aspirasi politiknya, sikap Din juga menyalahi khittah Muhammadiyah.

Muhammadiyah lahir bukan sebagai organisasi politik, melainkan sebagai Ormas keagamaan yang bergerak di ranah pemikiran keagamaan, pendidikan, dan sosial. Muhammadiyah memang pernah membidani Partai Masyumi. Namun pada Muktamar tahun 1959 Muhammadiyah menyatakan keluar dari Masyumi dan menyatakan tidak terlibat dalam politik praktis hingga saat ini.

Cukup sekali saja Muhammadiyah melakukan “kecelakaan” sejarah dengan secara resmi mendukung pencalonan Amien Rais pada Pilpres 2004 lalu. Senyatannya dukungan resmi Muhammadiyah ini menimbulkan perdebatan yang melelahkan di kalangan internal Muhammadiyah. Celakanya lagi dukungan Muhammadiyah tak membuat Amien Rais memenangi Pilpres. Amien hanya menempati nomor empat dengan sekitar 14 juta suara. Asal tau saja, Muhammadiyah selama ini mengklaim mempunyai puluhan juta pengikut. Dengan perolehan suara tersebut bisa dipastikan warga Muhammadiyah tidak semuanya mendukung calon yang resmi didukung organisasi.

Sebenarnya saya berharap pengalaman dukung-mendukung Muhammadiyah pada kekuatan politik tertentu tidak terulang lagi pada Pemilu 2009 mendatang. Namun tak bisa dipungkiri pernyataan Din dengan memihak PMB jelas merupakan “kecelakaan” politik kedua bagi Muhammadiyah. Wajar kalau saya curiga ada agenda tersembunyi di balik manuver-manuver politik Din.  Agenda apakah itu? tanya saja kepada yang  bersangkutan…

Sebagai orang nomor satu di Muhammadiyah, Din mestinya bisa menjaga amanat Muktamar dengan sebaik-baiknya dengan tidak membawa perahu Muhammadiyah masuk ke ranah politik kekuasaan. Sekiranya Anda (Din) memang benar-benar tidak bisa menahan “syahwat politik” (pinjam istilah A Syafii Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah), sebaiknya lepaskan baju Muhammadiyah. Agar supaya Muhammadiyah aman, dan Din juga bebas untuk bermanuver tanpa terbebani amanat organisasi.

Ahmad Dahlan sudah dengan susah payah mendirikan Muhammadiyah. Jika masih hidup, dia pasti akan menangis bila melihat persyarikatan ini dijadikan kuda tunggangan para penerusnya. Warga Muhammadiyah pasti masih ingat wasiat Ahmad Dahlan, “hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.”

Mau dikemas dengan bahasa apapun, politik kekuasaan tetaplah bagian dari strategi mencari “penghidupan”. Mari kita teriakkan SOM : save our Muhammadiyah…!

Solo, 16 Agustus 2008

Relasi kekuasaan suami-istri

Belum lama ini saya terlibat debat kusir dengan temen perempuan di kantor. Boleh jadi orang akan menertawakan kami karena kami mendebatkan soal relasi suami-istri, sesuatu yang berada di luar pengalaman kami. Namun, bagi saya itu tidak masalah. Meski sama-sama belum berkeluarga, toh tidak ada kaidah yang melarang untuk sekadar berwacana.

Sebenarnya saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kawan saya itu ketika dia memimpikan laki-laki ideal yang kelak akan menjadi pendampingnya, serta bentuk relasi antarkeduanya setelah berkeluarga. Apapun pasangan yang dipilih, adalah hak yang meski dihormati.

Hal yang mengusik pikiran saya adalah ketika kawan saya itu mengemukakan bahwa  calon suami yang diinginkan adalah orang yang bisa melindungi, lebih dewasa karena suami adalah kepala keluarga, pengambil keputusan, dan suami adalah sosok yang harus ditaati istri. Suami adalah pemberi nafkah sementara istri adalah penerima nafkah.

Yang sering membikin saya bertanya-tanya, kawan-kawan perempuan saya yang lain jika saya tanya soal yang sama, jawabnya pun relatif seragam. Seolah ada titik temu di alam pikiran kawan-kawan perempuan saya. Rata-rata mereka menginginkan suami yang lebih berumur, lebih dewasa, bisa membimbing, dan secara sosial-ekonomi lebih mampu.

Salahkah? Sejatinya tidak.  Namun penggambaran suami seperti di atas sebenarnya justru tidak menguntungkan kaum perempuan. Bahasa yang digunakan kawan-kawan saya itu adalah bahasa kekuasaan yang tidak tidak egaliter. Dengan kriteria itu jelas menempatkan suami sebagai sosok yang lebih berkuasa.  Suami superordinat dan istri subordinat. Kalau semua wanita menginginkan sosok pasangannya seperti itu, maka selama itu pula wanita tak akan pernah bisa berdaya.  Perempuan dalam posisi tertindas. Bukankah para aktivis perempuan sering menuntut adanya kesetaraan?

Lebih baik

Karena masih belum mengerti, lantas saya bertanya lagi. Bagaimana kalau suami Anda ternyata moralitasnya lebih jelek dari Anda, apakah Anda juga akan tetap mentaatinya? Apakah Anda juga tetap menginginkan Anda bisa dibimbing suami? Bagaimana kalau leadership Anda lebih baik ketimbang suami, apakah Anda tetap menyerahkan kursi kepala keluarga kepada suami?, Bagaimana kalau dalam menyelesaikan masalah keluarga argumentasi Anda lebih bagus, apakah Anda tetap menyerahkan keputusan akhir kepada suami?. Kawan saya itu terlihat agak bingung. Setelah diam sejenak, akhirnya dia menjawab, “ya”. “Adalah naluri perempuan untuk selalu ingin dilindungi,” sambungnya lagi.

Dalam alam pikiran saya, interaksi suami-istri adalah relasi yang setara. Sebagai laki-laki saya tidak pernah merasa dilebihkan Tuhan ketimbang perempuan, dalam hal apapun. Tidak pas kiranya jika sebagai laki-laki menempati strata khusus ketimbang perempuan. Dihadapan Tuhan semua makhluk adalah sama. Hanya ketakwaannyalah yang mengangkat derajat seseorang di mata Sang Kholiq. Bahwa ada peran-peran khusus perempuan seperti hamil dan melahirkan, itu adalah fitrah Tuhan yang tidak bisa dibantah, dan peran itu memang tidak mungkin bisa digantikan laki-laki.

Di luar konteks itu, khususnya dalam ranah sosial, peran suami-istri sebenarnya bisa saling menggantikan, tergantung konteks dan realitas yang sedang dihadapi. Saya tidak sependapat dengan relasi aktif-pasif (“me- dan “di-), misalnya, tugas suami menafkahi  dan istri dinafkahi. Dalam bayangan saya (karena baru bisa membayangkan…) kehidupan suami-istri adalah kehidupan untuk “saling”.  Saling mentaati, saling memahami, saling membimbing, saling mengingatkan, saling menafkahi, saling menguatkan. Relasi kekuasaan sebenarnya tidak diperlukan lagi dalam lingkup keluarga.

Kaidah

Sehingga tuntutan agar istri selalu taat kepada suami juga tidak diperlukan. Bagi saya ketataan, loyalitas, itu sebenarnya bukan kepada “siapa”, melainkan kepada “apa”. Undzur ma qola, wa laa tandzur man qola. “Lihatlah apa yang dibicarakan, jangan melihat siapa yang bicara,” begitu kata Rasulullah. Kalau memang istri lebih benar, suami harus rela taat kepada istrinya. Adalah naif ketataan hanya dilandasi perbedaan jenis kelamin. Bukankah kebenaran bisa datang dari siapa saja?, begitu juga dengan ketidakbeneran?.

Dalam bahasa ekstrim saya katakan kepada kawan saya itu, jangankan kepada istri, dengan anak saya kalau memang anak saya benar, saya rela taat kepada anak saya. Bukankah Siti Khatijah, istri pertama Nabi Muhammad, secara sosial-ekonomi justru lebih kuat dari Muhammad? Saat menikah Siti Khatijah berumur 40 tahun, sementara Muhammad 25 tahun?, Khatijah seorang saudagar kaya raya, sementara Muhammad hanya pemuda biasa?

Kalau mau bicara jujur, potensi perempuan sekarang lebih lebih menonjol ketimbang laki-laki. Rekruitmen karyawan di perusahaan-perusahaan yang memenuhi syarat lolos umumnya kaum hawa. Belum lama ini saya dipercaya menjadi juri kontes da’i cilik di lingkungan kantor saya. Dari 6 orang pemenang, hanya satu orang dari kaum adam, lainnya perempuan. Dalam hal moral perempuan rata-rata bermoral “lebih bagus” daripada laki-laki.

Lihat saja di penjara, umumnya penghuninya laki-laki, sementara jumlah penduduk perempuan jauh lebih banyak. Ini menandakan potensi untuk menjadi orang “brengsek” itu lebih didominasi laki-laki. Lihatlah di ruang-ruang konsultasi psikologi di koran, majalah, televisi. Umumnya didominasi istri yang mengeluhkan kelakuan suaminya ketimbang suami yang mengeluhkan istrinya…Kalau faktanya seperti ini, mengapa logika itu tidak dibalik saja? Suami harus taat kepada istri????…

Sayangnya konstruksi sosial, budaya dan agama sampai saat ini tidak berpihak kepada kaum perempuan. Penafsir-penafsir kitab suci umumnya laki-laki sehingga hasil penafsirannya pun sering bias gender. Realitas sosial, budaya, dan agama ini memang sangat kuat di masyarakat kita. Kontruksi tersebut membentuk pola pikir bahwa perempuan dalam posisi lemah seolah-olah itu sudah  fitrahnya, padahal sebenarnya sekadar mitos,  realitas yang semu. Entah sadar atau tidak, konstruksi itu juga memengaruhi mind set (sebagian) kaum hawa dalam memandang dirinya sendiri…termasuk kawan saya itu…

Solo, 05 September 2008

Awas, peran kebanci-bancian

Semula saya tidak begitu memahami mengapa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memeringatkan stasiun televisi untuk menghentikan tayangan kebanci-bancian. Peringatan ini agaknya cukup serius. Jika teguran ini tidak diindahkan para pengelola TV, KPI mengancam akan bertindak keras. Izin operasional TV bisa dicabut.

Dalam waktu bersamaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap peran yang bertentangan dengan fitrah jenis kelaminnya. Entah laki-laki memerankan diri sebagai perempuan atau kebalikannya. Fatwa MUI ini sebenarnya tidak mengejutkan karena wacana haram terhadap peran-peran kebanci-bancian ini sudah lama saya dengar. Tak seperti biasanya, peringatan KPI ini sepertinya cukup efektif. Sejauh yang saya lihat tayangan kebanci-bancian sudah mulai menghilang dari layar kaca. Apakah penghentian tayangan ini hanya hangat-hangat tahi ayam alias hanya ditaati awal saja, masih akan kita tunggu waktu-waktu mendatang.

KPI tidak secara gamblang menjelaskan alasan pelarangan tersebut. Sekilas KPI hanya menyebut tayangan kebanci-bancian tidak mendidik bagi anak-anak. Justru penjelasan di luar sikap resmi KPI yang membuka mata saya tentang dampak buruk tayangan itu. Apa dampak tayangan kebancian-bancian bagi anak-anak? Psikolog senior Elly Risman dalam talkshow di stasiun TVOne beberapa waktu lalu menjelaskan tayangan kebanci-bancian memang sangat membayakan. Posisi TV sebagai media pandang dengar sangat mempengaruhi para pemirsanya, khususnya bagi anak-anak usia 0-8 tahun. Pada usia-usia tersebut, kata Elly, anak-anak berada pada fase meniru. Pertumbuhan sel otaknya yang belum sempurna membuat anak-anak tak bisa berpikir secara wajar tentang dampak hal-hal yang ditiru. Berbeda dengan orang dewasa, meski sama-sama meniru orang dewasa sudah punya kontrol kuat.

Di sisi lain gelombang otak pada anak-anak umur tersebut pada posisi alpha & theta sehingga informasi yang datang pun gampang masuk ke alam bawah sadarnya. Jika pada masa umur tersebut anak-anak sering menonton tayangan kebanci-bancian, maka informasi tersebut akan diserap begitu saja. Kelak si anak tidak sekadar meniru perilaku banci, yang lebih berbahaya lagi anak-anak bisa mengalami perkembangan kepribadian yang menyimpang. Kepribadian anak sangat mungkin akan tumbuh menjadi banci dalam arti sebenarnya meski mereka tidak ditemukan gen kebanci-bancian sejak lahir. Banci, lanjut Elly, bisa terbentuk dari interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Pemerannya

Sebuah peran yang dilakukan oleh aktor, aktris baik di layar kaca maupun dilayar lebar tidak hanya perpengaruh terhadap audiens saja, melainkan berpengaruh juga terhadap pemerannya. Menurut para psikolog, sebuah peran yang diulang-ulang akan memengaruhi kepribadian seseorang. Mengutip pendapat para psikolog, Komaruddin Hidayat, di Seputar Indonesia (12/9/2008) menulis seorang aktor yang sering berperan sebagai sosok pahlawan, misalnya peran itu akan berpengaruh terhadap dirinya. Sebab dia dituntut untuk menjiwai alur cerita agar permainannya bisa tampil total dan bagus. Jadi, dalam peran itu ada proses peniruan dan identifikasi.

Konon, ceritanya beberapa aktof kawakan kelas Hollywood seperti Antony Quinn pribadinya berubah setelah memerankan sosok semacam Hamzah dalam film kolosal The Message. Begitu pun aktor lain yang memerankan Saladin, ataupun Mahatma Gandi. Tayangan kebanci-bancian saat ini memang berkurang, namun dampak tayangan ini bukan berarti hilang sama sekali. Sekarang tugas Anda mengamati perilaku anak-anak Anda. Apakah ada gejala anak-anak Anda meniru perilaku banci? Agaknya hal ini yang perlu Anda waspadai…

Solo, 12 September 2008

Ibadah…

Dalam setiap forum ceramah agama, entah pengajian umum, di televisi, forum kutbah Jumat, sang ustad, khotib selalu mengingatkan kepada para jamaah untuk mengedepankan kepentingan akhirat dan menomorduakan kepentingan dunia. Para penceramah acapkali mengkritik perilaku umat Islam yang “diperbudak” urusan duniawi dengan melupakan hal-hal ukhrowi.

Tak terhitung berapa kali saya mendengar petuah-petuah seperti ini. Dengan mengutip dalil-dalil, para penceramah mengungkapkan, kepentingan duniawi bersifat sementara, yang kekal adalah di akhirat. Karena itu tidak semestinya hidup ini diabdikan untuk hal-hal yang sementara. Sabda Nabi (banyak ulama yang meragukan kesahihan hadist ini) yang sering dikutip adalah, “Carilah urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok” para penceramah ingin menegaskan kepentingan akhiratlah yang harus diutamakan karena seolah-olah “kita akan mati besok”.

Sebenarnya bukanlah hal yang salah jika dalam ibadah orang menginginkan imbalan-imbalan kebahagiaan di akhirat. Namun ada hal-hal sebenarnya perlu diluruskan terkait orientasi peribadan seperti ini. Faktanya banyak orang berpersepsi seolah-olah tugas sebagai muslim (ah) sudah selesai hanya dengan melakukan peribadatan, khususnya peribadan pokok. Ketika orang sudah menjalankan salat lima waktu, berpuasa, berzakat fitrah, ber-Haji, orang sudah merasa dirinya menjadi muslim sempurna. Pada sebagian orang, penilaian kualitas beragama cuma dilihat dari ketataan umat Islam menjalankan perintah beribadah pokok. Seolah tidak ada tolok ukur lainnya…

Religius

Paradigma akherat ini menyebabkan di antara umat Islam tidak menjadikan perilaku di dunia menjadi parameter keislaman seseorang. Sejak lama saya berpikir, bangsa Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa “religius”. Jumlah umat Islam di Indonesia terbesar di dunia. Umat Islam yang pergi haji juga yang paling banyak. Untuk berangkat haji pun harus melalui waiting list dua tahun sebelumnya karena antrenya banyak. Lantas mengapa nilai-nilai religiusitas tidak tercermin dalam kehidupan masyarakat kita? Adakah sesuatu yang salah dalam perilaku keagamaan kita? Bukankah agama hadir untuk memberi pencerahan? Mengapa moralitas bangsa ini lebih parah ketimbang bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan?

Saya tidak perlu menjelaskan satu-persatu kebrengsekan perilaku masyarakat kita. Terlalu banyak untuk diceritakan. Seolah ada jarak yang jauh antara kesalehan orang beribadah dengan ketaatan terhadap kaidah-kaidah agama dalam kehidupan nyata. Orang rajin salat, tapi juga rajin korupsi, rajin menyakiti orang lain, rajin menyelewengkan jabatan, arogan, bersikap belagu, dsb. Orang merasa berdosa kalau meninggalkan puasa, tapi tidak pernah merasa bersalah jika bersikap otoriter, menindas orang lain dan mau menang sendiri. Atas nama penegakan syariat, ada saudara-saudara kita yang tega menganiaya sesama anak bangsa. Atas nama jihad, orang merasa seolah menjadi mujahid kalau berhasil meledakkan bom.

Kalau mau jeli, semua entuk peribadatan yang dilakukan umat Islam diperuntukkan memperbaiki perilaku kehidupan manusia di dunia ini. Salat, puasa, zakat, haji, kesemuanya punya pesan-pesan moral yang sangat agung agar orang yang menjalankannya menjadi manusia paripurna, manusia bermoral tinggi, berakal budi, cerdas secara intelektual dan emosional. Manusia yang selalu mempertimbangkan akal sehat dan nuraniya sebelum bertindak.

Celaka

Acapkali kita tidak sadar, sebenarnya pesan-pesan moral ibadah ini menjadi hal yang teramat penting. Tanpa melakukan pesan-pesan moral pelaksanaan ibadah pokok bisa gugur. Dalam batas-batas tentu pesan moral ini justru dapat “menggantikan” ibadah pokoknya. Orang yang tidak mampu berpuasa karena berbagai alasan bisa mengganti dengan membayar fidyah atau memberi makan terhadap orang-orang miskin. Amal saleh menjadi salah satu pesan moral puasa. Di sisi lain orang yang salat pun bisa gugur salatnya kalau tidak dibarengi dengan penegakan amar makruf nahi mungkar sebagai tujuan salat. “Maka ‘celakalah’ orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salat mereka, orang yang berbuat riya, dan menghalangi (menolong dengan) barang-barang berguna (QS Al-Maun 4-7).

Prof Dr M Qurais Shihab melalui Tafsir Al-Misbah menafsirkan kecelakaan orang-orang yang salat itu tertuju kepada mereka yang lalai tentang esensi makna dan tujuan salat. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang salatnya tidak mencegah dari kejelekan dan kemungkaran, maka salatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah Swt.” Puasa hanya sekadar mendatangkan lapar dan dahaga jika yang menjalankannya tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Ibadah haji tak berguna apa-apa (haji mardud) jika setelah beribadah orang-orang yang berhaji ini tidak bisa mentansformasikan diri menjadi manusia-manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam berbagai hadis disebutkan, akan datang suatu zaman orang-orang berkumpul di mesjid untuk salat berjamaah tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mukmin. Siapa sebenarnya orang mukmin? Dalam Shahih Bukhari—seperti dikutib Jalaluddin Rakhmat—Rasulullah memberi parameter tentang orang mukmin. (1).Barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya. (2). Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia menyambung tali persaudaraan. (3). Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan akhir hendaknya dia berkata yang benar dan kalau tidak mampu maka dia lebih baik berdiam diri. (4). Tidak dianggap sebagai orang beriman apabila seorang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.

Keimanan

Dari empat hadist di atas menjelaskan bahwa kualitas keimanan seseorang lebih banyak ditentukan oleh sikap seseorang ketika berada di tengah-tengah masyarakat; menghormati tetangga, menyambung tali silaturrahmi, berkata jujur, peduli terhadap sesama, ketika sedang diberi amanah memegang jabatan, bukan saat khusuk berada di mesjid, ketika di mesjidil haram, ketika sedang khusuk membaca kitab suci, atau sedang khusuk berpuasa.

Dalam kaitan ini perubahan pemahaman agaknya perlu dilakukan. Dengan membalik paradigma yang dikemukakan sebagian para ustad itu. Saya menamakan sebagai paradigma dunia. Sebuah paradigma ibadah yang mengorientasikan semua bentuk peribadatan untuk kepentingan dunia, memperbaiki perilaku pemeluknya. Perilaku merupakan kunci keabsahan peribadatan umat Islam. Toh tanpa diorientasikan ke akhirat pun, jika di kehidupan ini manusia mampu membangun perilaku yang mulia, otomatis kekekalan kehidupan akhirat akan bisa diraihnya. Insya Allah…

Solo, 15 September 2008