Ibadah…

Dalam setiap forum ceramah agama, entah pengajian umum, di televisi, forum kutbah Jumat, sang ustad, khotib selalu mengingatkan kepada para jamaah untuk mengedepankan kepentingan akhirat dan menomorduakan kepentingan dunia. Para penceramah acapkali mengkritik perilaku umat Islam yang “diperbudak” urusan duniawi dengan melupakan hal-hal ukhrowi.

Tak terhitung berapa kali saya mendengar petuah-petuah seperti ini. Dengan mengutip dalil-dalil, para penceramah mengungkapkan, kepentingan duniawi bersifat sementara, yang kekal adalah di akhirat. Karena itu tidak semestinya hidup ini diabdikan untuk hal-hal yang sementara. Sabda Nabi (banyak ulama yang meragukan kesahihan hadist ini) yang sering dikutip adalah, “Carilah urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok” para penceramah ingin menegaskan kepentingan akhiratlah yang harus diutamakan karena seolah-olah “kita akan mati besok”.

Sebenarnya bukanlah hal yang salah jika dalam ibadah orang menginginkan imbalan-imbalan kebahagiaan di akhirat. Namun ada hal-hal sebenarnya perlu diluruskan terkait orientasi peribadan seperti ini. Faktanya banyak orang berpersepsi seolah-olah tugas sebagai muslim (ah) sudah selesai hanya dengan melakukan peribadatan, khususnya peribadan pokok. Ketika orang sudah menjalankan salat lima waktu, berpuasa, berzakat fitrah, ber-Haji, orang sudah merasa dirinya menjadi muslim sempurna. Pada sebagian orang, penilaian kualitas beragama cuma dilihat dari ketataan umat Islam menjalankan perintah beribadah pokok. Seolah tidak ada tolok ukur lainnya…

Religius

Paradigma akherat ini menyebabkan di antara umat Islam tidak menjadikan perilaku di dunia menjadi parameter keislaman seseorang. Sejak lama saya berpikir, bangsa Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa “religius”. Jumlah umat Islam di Indonesia terbesar di dunia. Umat Islam yang pergi haji juga yang paling banyak. Untuk berangkat haji pun harus melalui waiting list dua tahun sebelumnya karena antrenya banyak. Lantas mengapa nilai-nilai religiusitas tidak tercermin dalam kehidupan masyarakat kita? Adakah sesuatu yang salah dalam perilaku keagamaan kita? Bukankah agama hadir untuk memberi pencerahan? Mengapa moralitas bangsa ini lebih parah ketimbang bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan?

Saya tidak perlu menjelaskan satu-persatu kebrengsekan perilaku masyarakat kita. Terlalu banyak untuk diceritakan. Seolah ada jarak yang jauh antara kesalehan orang beribadah dengan ketaatan terhadap kaidah-kaidah agama dalam kehidupan nyata. Orang rajin salat, tapi juga rajin korupsi, rajin menyakiti orang lain, rajin menyelewengkan jabatan, arogan, bersikap belagu, dsb. Orang merasa berdosa kalau meninggalkan puasa, tapi tidak pernah merasa bersalah jika bersikap otoriter, menindas orang lain dan mau menang sendiri. Atas nama penegakan syariat, ada saudara-saudara kita yang tega menganiaya sesama anak bangsa. Atas nama jihad, orang merasa seolah menjadi mujahid kalau berhasil meledakkan bom.

Kalau mau jeli, semua entuk peribadatan yang dilakukan umat Islam diperuntukkan memperbaiki perilaku kehidupan manusia di dunia ini. Salat, puasa, zakat, haji, kesemuanya punya pesan-pesan moral yang sangat agung agar orang yang menjalankannya menjadi manusia paripurna, manusia bermoral tinggi, berakal budi, cerdas secara intelektual dan emosional. Manusia yang selalu mempertimbangkan akal sehat dan nuraniya sebelum bertindak.

Celaka

Acapkali kita tidak sadar, sebenarnya pesan-pesan moral ibadah ini menjadi hal yang teramat penting. Tanpa melakukan pesan-pesan moral pelaksanaan ibadah pokok bisa gugur. Dalam batas-batas tentu pesan moral ini justru dapat “menggantikan” ibadah pokoknya. Orang yang tidak mampu berpuasa karena berbagai alasan bisa mengganti dengan membayar fidyah atau memberi makan terhadap orang-orang miskin. Amal saleh menjadi salah satu pesan moral puasa. Di sisi lain orang yang salat pun bisa gugur salatnya kalau tidak dibarengi dengan penegakan amar makruf nahi mungkar sebagai tujuan salat. “Maka ‘celakalah’ orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salat mereka, orang yang berbuat riya, dan menghalangi (menolong dengan) barang-barang berguna (QS Al-Maun 4-7).

Prof Dr M Qurais Shihab melalui Tafsir Al-Misbah menafsirkan kecelakaan orang-orang yang salat itu tertuju kepada mereka yang lalai tentang esensi makna dan tujuan salat. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang salatnya tidak mencegah dari kejelekan dan kemungkaran, maka salatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah Swt.” Puasa hanya sekadar mendatangkan lapar dan dahaga jika yang menjalankannya tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Ibadah haji tak berguna apa-apa (haji mardud) jika setelah beribadah orang-orang yang berhaji ini tidak bisa mentansformasikan diri menjadi manusia-manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam berbagai hadis disebutkan, akan datang suatu zaman orang-orang berkumpul di mesjid untuk salat berjamaah tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mukmin. Siapa sebenarnya orang mukmin? Dalam Shahih Bukhari—seperti dikutib Jalaluddin Rakhmat—Rasulullah memberi parameter tentang orang mukmin. (1).Barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya. (2). Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia menyambung tali persaudaraan. (3). Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan akhir hendaknya dia berkata yang benar dan kalau tidak mampu maka dia lebih baik berdiam diri. (4). Tidak dianggap sebagai orang beriman apabila seorang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.

Keimanan

Dari empat hadist di atas menjelaskan bahwa kualitas keimanan seseorang lebih banyak ditentukan oleh sikap seseorang ketika berada di tengah-tengah masyarakat; menghormati tetangga, menyambung tali silaturrahmi, berkata jujur, peduli terhadap sesama, ketika sedang diberi amanah memegang jabatan, bukan saat khusuk berada di mesjid, ketika di mesjidil haram, ketika sedang khusuk membaca kitab suci, atau sedang khusuk berpuasa.

Dalam kaitan ini perubahan pemahaman agaknya perlu dilakukan. Dengan membalik paradigma yang dikemukakan sebagian para ustad itu. Saya menamakan sebagai paradigma dunia. Sebuah paradigma ibadah yang mengorientasikan semua bentuk peribadatan untuk kepentingan dunia, memperbaiki perilaku pemeluknya. Perilaku merupakan kunci keabsahan peribadatan umat Islam. Toh tanpa diorientasikan ke akhirat pun, jika di kehidupan ini manusia mampu membangun perilaku yang mulia, otomatis kekekalan kehidupan akhirat akan bisa diraihnya. Insya Allah…

Solo, 15 September 2008

Advertisements

Saat Agama Kehilangan Ruh…

muhammadiyah logo

Keranjang Pemikiran

Apa sebenarnya agama itu? Tanya seorang murid kepada KH Ahmad Dahlan.

Ahmad Dahlan tak langsung menjawab. Ia justru mengambil biola dan memainkannya. Indah sekali…para muridnya terpesona oleh biola sang kiai.

“Apa yang Anda rasakan,” tanya Ahmad Dahlan.

Murid-muridnya menjawab,” damai, indah, harmoni, keteraturan.”

“Ya begitulah agama,” jawab Ahmad Dahlan. Jawaban singkat tapi penuh makna. Dahlan lantas menyerahkan biola itu kepada muridnya. Dasar tak bisa main biola, sang murid memainkannya sembarangan. Melodinnya tak karuan. Murid lain menutup telinga.

“Apa yang Anda rasakan,”?

“Kacau,” jawab murid-muridnya serentak.

“Begitulah Agama kalau tanpa keteraturan,” sambung Dahlan.

Penggalan dialog dalam film Sang Pencerah ini (mungkin dialog di atas tak persis karena keterbatasan ingatan saya) sangat mengesankan saya. Meski setting cerita ini terjadi sekitar 100 tahun silam, pemaknaan agama Ahmad Dahlan sangat pas di saat agama mulai kehilangan ruhnya.

Meski hanya dalam film, dialog Ahmad Dahlan dan murid-muridnya ini memberi pelajaran berharga. Bahwa agama hadir di…

View original post 347 more words

Andai Tiap Hari Beriedul Fitri…

Pesan mendalam dari perayaan Idul Fitri adalah adanya kerelalan kita untuk saling maaf memaafkan. Dalam Idul Fitri semua bentuk kasta seolah lebur. Atasan tak malu-malu mengakui kekhilafannya dan minta maaf kepada bawahan. Seorang presiden secara terbuka meminta maaf kepada rakyatnya atas kekurangannya dalam memimpin negara. Suami tak sungkan meminta maaf kepada anak dan istri tercintanya. Begitu kebalikannya.
Jarang mereka mau meminta maaf secara terbuka jika di luar momen Idul Fitri. Persoalan apakah permintaan maaf itu benar-benar keluar dari hati atau sekadar pemanis bibir, wallahu’alam. Saya tidak mau bersu’udzon. Saya hanya memandang fenomena maaf-memaafkan dari sudut positif. Sebuah tradisi indah khas Indonesia yang tidak kita temukan di negeri para Nabi, di Arab sana.
Saya membayangkan andaikata tradisi ini bisa kita lakukan tiap hari di luar Idul Fitri, maka ini akan menjadi awal yang sangat anggun guna membangun keharmonisan hidup. Harus diakui, kendati benar-benar mengakui kesalahannya pun orang sangat berat secara ikhlas meminta maaf. Meski orang lain sudah minta maaf pun kita kadang-kadang juga enggan memaafkan. Entah karena malu, entah karena tidak ingin mengorbankan harga diri, entah karena tidak ingin kehilangan muka, atau karena entah entah yang lain.
Saya masih ingat saat terjadi tragedi katering Haji dua tahun silam. Begitu banyak dan besar desakan publik agar pejabat yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan haji meminta maaf. Bukannya langsung meminta maaf seketika itu juga, dengan beribu apologi mereka mencoba berkelit. Kalaupun pun toh akhirnya minta maaf setelah posisinya terjepit dan tidak bisa mengelak lagi. Itulah watak para pejabat kita.
Watak bebal ini entah disadari atau tidak juga sering kita alami sendiri. Ketika Anda seorang atasan jelas-jelas salah pun sulit mau minta maaf saat itu juga kepada bawahan. Ketika Anda seorang staf melakukan keteledoran, pernahkah Anda secara suka rela minta maaf sebelum ketahuan kesalahan Anda? Bukannya minta maaf sering kali kita justru mencari pembenaran atas tindakan-tindakan kita. Sebagai orangtua pernahkah Anda minta maaf kepada anak-anak Anda saat Anda melakukan kesalahan? Pernahkan kita langsung memaafkan pembantu kita yang tak sengaja memecahkan piring saat mencuci? Boleh jadi kita akan marah-marah, menuduh pembantu ceroboh, tidak hati-hati, menghabiskan piring, dsb.
Sisi kemanusiaan seperti ini yang kadang mengganjal relasi antarsesama kita. Orang lebih suka marah-marah ketimbang memaafkan. Seolah dengan marah semua masalah selesai. Ketika sedang marahi orang lain kita tak sadar kita pun sebenarnya sering melakukan kesalahan yang sama. ups..betapa tidak konsistennya kita. Kalau dipikir, apa sih manfaatnya marah-marah? Kita tidak akan dapat apa-apa kecuali kepuasan karena bisa balas dendam. Benar, marah adalah sisi kemanusiaan yang tidak bisa dihindari. Orang paling sempurna di dunia ini Muhammad pun bisa dan pernah marah. Namun kasih sayang Nabi lebih menonjol ketimbang rasa amarahnya. Ketika Nabi marah kepada istrinya ia paling banter mencubit hidung istrinya, tidak lebih. Tidak ada dalam riwayat Rasulullah marah-marah meski dihina dan dilecehkan. Nabi lebih suka memaafkan ketimbang balas dendam. Marah adalah wajar. Tapi kalau marah diwujudkan dalam bentuk marah-marah, hakekatnya kita sedang mengikuti kehendak hawa nafsu.
Tradisi agung tiap Idul Fitri ini perlu terus didorong untuk menjadi watak kita di luar momentum Idul Fitri. Memaafkan tanpa orang lain minta maaf, memberi maaf tanpa orang lain minta maaf. Jika sikap ini bisa kita bangun, oh..betapa indah kehidupan ini.
Pada momentum Idul Fitri ini dari lubuk hati paling dalam saya mohon maaf kepada semua kawan, komunitas MP, sekiranya postingan atau komentar-komentar saya tidak berkenan. Sungguh tidak ada niat setitik pun dalam benak saya untuk menyakiti orang lain. Kalaupun ada yang tersinggung itu semata-mata karena ketololan diri saya…
SELAMAT IDUL FITRI, Taqabbalallahu minna waminkum taqabbal ya kariim. Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Solo, 25 September 2008
Salam damai

Sabar (tak) Ada Batasnya…

Sabar adalah kata yang terlalu sering kita ucapkan dan terlalu sering pula kita dengar. Sabar sering kita ucapkan kepada orang lain manakala mereka sedang menerima musibah. Nasihat itu kita sampaikan agar orang lain menerima musibah dengan lapang dada, tetap berada dalam kepasrahan kepada Allah seberat apapun ujian itu. Nasihat yang sama juga sering kita terima kala kita sedang menghadapi masalah.
Sabar menurut Imam Ghozali adalah “memilih untuk melakukan perintah agama ketika desakan hawa nafsu datang.” Artinya kalau nafsu menuntut kita untuk berbuat sesuatu, tetapi kita memilih kepada yang dikehendaki Allah, maka di situ ada kesabaran. Tidak ada kesabaran, misalnya, kalau kita ini didesak oleh nafsu lalu memenuhi tuntutan nafsu itu (Jalaluddin Rahmat, 2002). Penelusuran yang saya lakukan di Alquran Digital (silakan dikoreksi kalau salah), kata sabar dijumpai pada 92 item dengan berbagai bentuk pengertian. Dari beberapa ayat bisa ditarik benang merah bahwa sabar selalu terkait dengan musibah, sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Sungguh, kami pasti akan terus menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya). Merekah itulah yang mendapat banyak keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan (pendidik dan pemelihara) mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah : 155-157).
Dalam pengertian sehari-hari sering kita tidak pas dalam memaknai kesabaran. Seorang kawan pernah bercerita kepada saya. Sewaktu dia mengalami demam, oleh dokter dia diminta melakukan check up darah di sebuah laboratorium. Petugas menjanjikan dalam waktu satu jam hasilnya bisa diketahui. Setelah satu jam berlalu, ternyata hasilnya ternyata belum jadi. Petugas laboratorium meminta agar ditunggu sebentar lagi. Setelah ditunggu-tunggu hingga dua jam, hasil pemeriksaan darah belum juga kelar. “Terus terang saya marah sama petugas. Bagaimanapun sabar itu ada batasnya,” begitu ceritanya kepada saya. Saya yakin kita pun sering mendengar pernyataan serupa dari orang lain. Atau jangan-jangan kita sendiri pun sering mengungkapkannya. Jika dikembalikan kepada makna sabar seperti di atas, sebenarnya kesabaran tidak ada batasnya. Kita sendiri yang justru membatasi kesabaran kita. Semakin berat musibah yang kita terima, semarah apapun perasaan yang kita rasakan, sesulit apapun persoalan yang kita hadapi, maka semakin besar pula desakan untuk terus bersabar. Bukanlah Allah tidak akan menguji suatu kaum kecuali sesuai batas kemampuannya?
Seperti cerita kawan saya di atas. Ketika dia merasa dipermainkan petugas, membuat dia jengkel, dia memilih mengikuti hawa nafsunya untuk marah ketimbang menuruti perintah agama untuk terus menahan diri. Kalau kita mau jujur sebenarnya ujian yang dihadapi kawan saya tadi masih dalam batas kemampuannya. Dalih “sabar ada batasnya” perlu dipertanyakan. Boleh jadi pernyataan itu sekadar alasan untuk menutupi sikap ketidaksabarannya.
Jika Anda sedang diuji oleh Allah, jika Anda sedang menghadapi orang-orang menyebalkan, jika Anda dikhianati pacar Anda, jika Anda ditinggal selingkuh pasangan hidup hidup, apakah Anda juga akan mengatakan “sabar ada batasnya”? Kalau Anda menjawab “ya”, boleh jadi rahmat Allah sedang menjauhi diri Anda…

Solo, 07 Oktober 2008

Memaknai Keikhlasan…

Sewaktu masih menjalani profesi (lebih tepatnya buruh) sebagai jurnalis, sudah tidak terhitung berapa kali saya menerima tawaran amplop dari nara sumber. Alhamdulillah selama empat tahun jadi jurnalis belum pernah tergoda menerima amplop (suap). Selain melanggar etika jurnalistik, secara pribadi saya menilai amplop sebagai bentuk pelecehan profesi. Seolah-olah nilai profesi jurnalis hanya seharga sebuah amplop.

Karena itu dengan berbagai cara saya lakukan untuk menolak “kemurahan hati” para nara sumber. Kalaupun situasi tak memungkinkan untuk mengelak, amplop saya terima dan dikembalikan lagi ke si pemberi lewat kantor. Ini menjadi standar aturan di kantor saya dalam soal amplop. Tidak jarang narasumber setengah memaksa dalam memberi. Entah pemberian itu dikatakan sebagai bentuk persahatan, tidak bermaksud apa-apa, sebagai ucapan terima kasih, sebagai ganti uang transpor, dsb. Sebagian dari nara sumber juga mengatakan,”Saya ikhlas, saya ikhlas…saya tidak ada kepentingan apa-apa kok mas…,” rayunya sambil menyodor-nyodorkan amplopnya.
Ikhlas? Mereka benar-benar ikhlas dalam memberi? Tidak ada kepentingan sama sekali? Kalau memang ikhlas dan tidak ada kepentingan, mengapa amplop itu tidak diberikan kepada orang-orang yang lebih berhak? Para pengemis, gelandangan, dan kaum papa lainnya? Mengapa justru diberikan kepada wartawan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang acapkali lewat dalam pikiran saya, meski saya tidak memungkiri ada juga jurnalis-jurnalis tengik (kata tengik saya adopsi dari istilah politisi tengik yang digunakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi) yang kerjanya cari sogokan dari nara sumber.
Saya akui terlalu sulit memang memaknai kata ikhlas, sesulit kita untuk bersikap ikhlas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ikhlas adalah bersih hati, tulus hati. Mengikhlaskan berarti memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati. Jalaluddin Rahmat (saya sering mengutip pendapatnya karena saya termasuk pengagum pikiran-pikirannya) menggambarkan ikhlas seperti dalam doa iftitah dalam salat. “Sesungguhnya salatku, pengurbananku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian alam (lillahi rabbil alamiin).” Apa artinya lillah? Ada tiga makna “lillah”, yakni karena Allah, untuk Allah, dan kepunyaan Allah. Makna-makna ini, kata Jalaluddin, sekaligus merupakan tingkat keikhlasan seseorang. Jadi ikhlas jika kita melakukan sesuatu karena Allah, atau untuk Allah, atau kepunyaan Allah. Perbuatan yang kita lakukan untuk Allah menjadi tingkat ikhlas yang paling tinggi. Allah juga melukiskan orang ikhlas ketika berkata, “Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian karena Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih.” (QS 76 : 9)
Kerelaan
Ikhlas bisa diartikan sebuah perilaku, perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk membuat, mencari kesan orang lain terhadap diri kita, melainkan semata-mata perbuatan itu untuk mencari rida atau kerelaan Allah. Ketika kita cemberut setelah memberi uang kepada pengemis karena si pengemis langsung nylonong pergi tanpa berterimakasih, menjadi salah satu tanda kita tidak ikhlas karena kita berharap ucapan terimakasih dari pengemis. Kalau benar-benar ikhlas, entah si pengemis mengucapkan terimakasih atau tidak, sikap kita tidak berubah dalam mencari keridoan Allah. Karena yang kita cari sejatinya kesan Allah, bukan kesan dari sesama.
Ikhlas adalah sesuatu yang sangat privat, menyangkut interaksi kita langsung dengan yang di Atas. Boleh jadi kita sendiri juga tidak tahu apakah dalam melakukan sesuatu kita ikhlas atau tidak. Sebab yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk menjadi ikhlas. Apakah usaha kita berhasil atau tidak, hanya Allah sendiri yang tahu. Ucapan dari narasumber “Saya ikhlas…” di atas tidak menjamin keikhlasan seseorang. Sebaliknya dengan mengatakan “saya ikhlas”, sadar atau tidak pada hakekatnya seseorang sedang mencari kesan, keyakinan, pengakuan dari orang lain bahwa dirinya ikhlas. Sebuah sikap yang bertentangan dengan hakekat ikhlas itu sendiri. Seperti halnya ketulusan, keikhlasan letaknya di dalam hati. Saat kita ungkapkan melalui lisan, hilang sudah substansi keikhlasannya.
Lantas bagaimana dengan Anda? Apakah masih ingin mengungkapkan kata-kata “Saya ikhlas…” saat melakukan sesuatu? Boleh jadi Anda sedang mempertontonkan ketidakikhlasan Anda kepada orang lain…

Solo, 09 Oktober 2008

Celana Cingkrang…

Pada Senin (12/10/2009) saya salat magrib di Masjid Kottabarat, Solo. Masjid ini sebenarnya bukan hal asing bagi saya. Saya sering salat di di sana, baik untuk salat Jumat maupun salat Tarawih pada saat Ramadan. Selama itu pula saya tidak pernah merasakan hal aneh. Sebagai masjid yang dikelola Muhammadiyah, saya merasa at home di sana. Namun, pada Senin kemarin saya merasa terusik. Saat muazin mengumandangkan iqomah, saya langsung berdiri dan mengambil tempat di sisi kanan imam di barisan pertama. Sang imam tengok  kiri-kanan untuk mengecek barisan.

Sang imam memperhatikan posisi saya berdiri. Saya tidak memperhatikan apa yang diomongkan. Saya tidak bisa melihat dengan jelas wajah saat imam karena kacamata sudah saya lepas saat mau salat. Pikir saya, paling banter dia meminta saya merapakan barisan. Secara refleks saya meluruskan barisan dengan jamaah lainnya. Selesai. Saya merasa sudah rapat dan lurus. Namun sang imam masih memperhaikan saya dan mengulangi lagi apa yang diomongkan. Lagi-lagi saya meluruskan barisan. Tengok kiri-kanan. “Oke, dah benar-benar lurus,” batin  saya. Anehnya sang imam tak segera memulai salat. Pandangannya masih tertuju ke arah saya. Saya bingung. Salah tingkah. Adakah yang salah pada diri saya? Saya mengecek baju dan celana yang saya pakai. No problem. Dengan celana jins panjang dan jaket saya merasa memenuhi syarat berpakaian untuk salat.

“Dia (imam) minta mas melintingkan celana hingga di atas mata kaki,” kata salah seorang jamaah di samping saya, mencoba membantu memahami “instruksi” sang imam.

Terkejut. Itu reaksi spontan saya. Aneh. Meski hati saya berontak, saya laksanakan perintah sang imam. “Ini untuk melaksanakan sunnah nabi,” kata sang imam dengan nada agak keras sesaat sebelum memulai salat. Mungkin jengkel karena “fatwa”nya tidak saya mengerti. Sebenarnya bisa saja saya mengabaikan instruksi sang imam. Tapi saya tidak ingin ribut-ribut di masjid. Meski saya akui, saya merasa malu ketika ditegur karena menjadi perhatian jamaah lainnya. Saya merasa diperlakukan seperti si “kafir” yang ada di masjid. Jengkel. Salat saya pun jadi tidak khusuk.

Selama salat saya berpikir. Punya otoritas apa dia memaksa saya menckingrangkan celana saya? Bukankah itu hak saya untuk berpakaian? Lagi pula saya belum pernah menemukan riwayat seorang imam berhak memaksa jamaah memakai celana cingkrang (celana menggantung di atas mata kaki). Jangankan sunnah, yang wajib pun seseorang tidak bisa dipaksa. Sang imam mungkin lupa dengan firman Allah : Laa ikrou fiddin… tidak ada paksaan dalam beragama. Apalagi memaksakan sesuatu yang menurut saya sangat tidak substansial : celana cingkrang…hah?…

Sejauh yang saya tahu, Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpakaian yang tidak menutupi mata kaki karena di Arab waktu itu, berpakaian yang menutupi mata kaki adalah simbol kesombongan. Tentu saja simbol orang Arab itu beda dengan konteks masyarakat kita. Bagi masyarakat Indonesia pakaian yang menutupi mata kaki bukanlah simbol kesombongan. Saya belum pernah dituduh sombong hanya karena berpakaian menutupi mata kaki saya. Sejujurnya saya sangat tidak nyaman jika harus bercelana menggantung seperti itu. Pesan yang saya tangkap dari perintah Nabi itu sebenarnya adalah ajakan kepada kita untuk memerangi semua bentuk kesombongan, keangkuhan. Sikap merasa lebih baik, lebih benar, lebih berkuasa, lebih hebat dari orang lain.

Agaknya kita sering menangkap ajaran agama dari sisi luarnya saja, tanpa memahami spirit moralnya. Contohnya dalam soal celana cingkrang. Karena sang imam merasa sudah melaksanakan sunnah Nabi dengan celana cingkrang, seolah-olah dia mengantungi mandat Tuhan untuk menegur bahkan memaksa makmumnya untuk melakukan hal sama. Duh, baru menjadi imam salat magrib saja sudah otoriter, apalagi kalau menjadi penguasa betulan. Sang imam mungkin tidak sadar, demi terlaksananya ajaran sunnah (bercelana cingkrang) dia telah melakukan hal yang haram.

Membikin orang lain malu, marah dan salatnya tidak khusuk adalah sesuatu yang terlarang.  Menurut Jalaluddin Rahmat, ini adalah contoh orang yang berparadigma fikih dan meninggalkan paradigma akhlak. Selalu mengedepankan ajaran fikih ketimbang mempertimbangkan sisi akhlak.

Dengan kejadian ini, saya jadi bertanya : Siapa yang sebenarnya  sombong? Saya…atau sang imam yang bercelana cingkrang itu? Wallahu’alam….

Solo, 13 Oktober 2009

Nikah Siri : Antara Hukum Agama & Hukum Negara

Belakangan, perdebatan soal nikah siri, kawin kontrak, dan poligami sangat seru. Silang pendapat ini terkait rencana pemerintah yang menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) Hukum Materiil Peradilan Agama tentang Perkawinan. Dalam RUU tersebut pelaku nikah siri, kawin kontrak, dan poligami bisa dipidanakan.

 Sanksi pidana ini diwacanakan mengingat dari ketiga macam pernikahan di atas telah menimbulkan banyak korban. Kementerian Agama mencatat, 48 persen dari 80 juta anak di Indonesia lahir dan proses perkawinan yang tidak tercatat. Artinya, 35 juta anak di Indonesia sulit mendapatkan surat lahir, kartu tanda penduduk, hak-hak hukum seperti hak waris, dan sebagainya. Selain itu, dari dua juta perkawinan per tahun, terdapat 200 ribu perceraian.

 Data ini menunjukkan perkawinan tanpa pencatatan bakal menimbulkan masalah panjang, khususnya bagi anak-anaknya. Belum lagi soal status istri hasil nikah tanpa pencatatan. Mereka tidak terlindungi secara hukum. Jika perkawinanya bermasalah, maka si istri tak bakal bisa mendapatkan hak-haknya secara wajar. Hak waris, hak gono-gini, dan hak-hak perlindunga hukum lainnya.

 Saya menyambut baik rencana pemerintah untuk mengatur soal pernikahan. Bahwa soal bagaimana peraturan pernikahan mesti dilakukan, sanksi pidana maupun perdata bagi yang melanggar, siapa saja yang bisa dikenai hukum, itu soal teknis yang bisa diperdebatkan. Namun, yang penting di sini, Negara sudah punya niat untuk melindungi hak-hak sipil warga yang timbul akibat penyalahgunaan pernikahan. Negara berkewajiban menciptakan harmoni dan keteraturan sosial di tengah masyarakat.

 Harus diakui, nikah siri, kawin kontrak, dan poligami sering disalahgunakan para pelakunya. Dengan beribu satu dalih. Siapa lagi korbannya kalau bukan istri dan anak-anak mereka. Dengan mudahnya mereka kawin-cerai, tanpa memedulikan akibat hukum lebih lanjut.

 Bagi saya, perdebatan ini sah-sah saja terjadi. Silang pendapat ini menunjukkan bahwa dialektika berdemokrasi di negeri ini masih ada. Namun, saya perlu memberi catatan tersendiri terhadap bagi mereka yang tidak sepakat. Pertama, nikah siri sah secara agama. Sehingga Negara tidak bisa mengintervensi kaidah-kaidah agama dalam perkawinan. Logika seperti ini buat saya tidak bisa saya terima. RUU rancangan pemerintah tersebut tidak bermaksud mengintervensi hukum-hukum agama. Karena RUU itu hanya mengatur dampak adiminstratif dan hukum akibat pernikahan tanpa pencatatan. Bahwa soal perkawinan tanpa pencatatan sah secara agama tidak bisa dijadikan dalih.

 Mengingat, antara hukum agama dan hukum Negara bergerak dalam ranah yang berbeda. Hukum agama menuntut pertanggungjawaban kepada yang di Atas. Hukum agama dalam perkawinan muncul saat zaman kenabian Muhammmad 14 abad silam, di saat Negara secara administrative belum ada. Wajar jika syariat Islam tak mengatur pencatatan pernikahan.

 Sementara hukum Negara mempertanggungjawabkan pelaksanaanya kepada Negara. Apalagi Negara kita bukan Negara agama. Dus, menentang rencana RUU pernikahan dengan dalih melanggar hukum Tuhan tentu bukan alasan yang tepat. Toh di Negara-negara Islam sekalipun, aturan seperti ini mulai diberlakukan. Di Jordan, misalnya.

 Kedua, dengan larangan nikah siri maka akan memarakkan perzinahan, pelacuran, seks bebas, dsb. Terus terang, saya sangat geli mendengar argumen ini. Apa hubungannya antara larangan nikah siri dengan seks bebas? Seks bebas, pelacuran itu masalah moralitas manusia. Orang yang berargumen seperti ini mungkin tidak sadar, dengan pendapatnya itu secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa nikah siri sebagai bentuk “seks bebas” yang dilegalkan agama. Tentu ini logika sesat…

 Dalam konteks pernikahan siri, para penafsir kitab suci agaknya perlu merenungkan kembali tentang makna kehadiran agama di muka bumi. Agama lahir untuk memberi pencerahan hidup bagi siapa saja, khususnya bagi pemeluknya. Agama selalu menentang praktek keagamaan yang berpotensi merugikan pihak lain. Termasuk dalam soal pernikahan.

 Sudah saatnya kaum agamawan membuka pikiran dan hatinya untuk menemukan spirit pelaksanaan ajaran agama. Waktu terus bergerak. Dinamika zaman terus berputar. Kita tak bisa berpegang secara kaku tentang dogma-dogma agama. Kalau kita cuma berpatok pada ketentuan “syariat”, yang terjadi adalah bentuk kekauan. Saya tidak bermaksud mengajak mengubah ajaran agama, tapi mengajak menafsirkan kembali agama sesuai spirit agama itu sendiri.

 Jangan sampai keagungan ajaran agama justru dijadikan jubah untuk menutupi kezaliman…

  Solo, 26 Februari 2010