Solidaritas untuk Ahmadiyah

Hari masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul 6.30 WIB. Seperti rutinitas yang saya jalani tiap pagi : bangun tidur, solat subuh, jalan pagi (biar kondisi fisik selalu fit gitu lhoh…) , terus mencari channel berita di TV. Bagi saya, rutinitas nonton berita di TV ini menjadi “menu” wajib harian, guna mengetahui kabar-kabar terkini yang terjadi malam hingga pagi hari. “Siapa tahu ada berita mengejutkan yang bisa saya peroleh pagi ini,” begitu pikir saya saat memencet tombol “on” di remote control TV. Benar saja, pagi itu saya memperoleh kabar yang sangat menyedihkan : “Mesjid Al Furqon, mesjid milik Jemaat Ahmadiyah, di Sukabumi dibakar massa bercadar pada Senin (28/4) dini hari”. Kendati udara di luar masih terasa dingin, saya merasa badan ini tiba-tiba menjadi panas setelah melihat berita itu…

Saya benar-benar terkejut dan tidak bisa mengerti.  Ada sekelompok massa yang tega membakar mesjid, rumah Allah, tempat ibadah yang sangat disucikan ummat Islam. Akal sehat dan nurani saya tidak bisa menangkap sama sekali. Apakah para pembakar mesjid itu masih punya akal sehat? Apakah para perusak rumah ibadah itu masih punya hati nurani? Masih pantaskah para pembakar mesjid itu disebut orang-orang beragama? Apa yang berkecamuk dalam otak mereka saat menghanguskan tempat suci itu? Apakah mereka bangga karena sudah berhasil menghancurkan tempat ibadah orang-orang yang mereka tuduh sesat? Bukankah membakar mesjid hanya pantas dilakukan para setan dan iblis? Ataukah orang-orang itu memang iblis yang sudah berwujud jadi manusia? Wallahu’alam…Naudzubillahi min dzalik…terus terang sampai sekarang saya belum memperoleh jawabannya….

Musibah yang dialami kawan-kawan pengikut Ahmadiyah ini bukan sekali ini terjadi. Sudah puluhan tahun warga aliran Ahmadiyah ini memperoleh perlakukan yang tidak semestinya : dituduh sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), dikafirkan, dianggap keluar dari aqidah Islam, dihardik, tidak boleh memasang papan nama Ahmadiyah, diusir dari kampung halamannya, mesjidnya disegel lantas dibakar. Bagi warga Ahmadiyah perlakuan-perlakuan seperti mungkin dianggap hal itu dianggap hal biasa, karena terlalu sering mereka alami. Tapi bagi saya, itu hal sesuatu yang luar biasa…jangankan dengan sesama umat beragama, dengan orang kafir sekalipun Islam melarang menebar permusuhan…mereka perlu diperlakukan sebagai sesama makhluk Tuhan, dan punya hak sama dalam menentukan pilihan hidupnya…

Pemerintah yang semestinya menjadi pengayom masyarakat, tidak bisa berkutik apa-apa. Aparat kepolisian selalu tidak tegas dalam menindak pihak-pihak yang menyerang Ahmadiyah. Jelas, kekerasan adalah tindak kriminal. Pemerintah malah sedang menyiapkan surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri yang—konon—akan melarang aktivitas Ahmadiyah di Indonesia. Rencana penerbitan SKB ini atas rekomendasi Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang menilai Ahmadiyah menyimpang dari Islam dan diminta menghentikan kegiatannya. Apabila pemerintah benar-benar mengeluarkan SKB, maka ini akan menjadi tragedi luar biasa. Pemerintah bisa melarang sebuah keyakinan, sementara tidak ada hukum-hukum negara yang dilanggar Ahmadiyah…

Terus terang saya menjadi sangat bersimpati terhadap “penderitaan” yang dialami kawan-kawan di Ahmadiyah. Meskipun saya sendiri tidak sepaham dengan keyakinan Ahmadiyah,   tapi saya sangat menghargai prinsip-prinsip yang dipegang pengikut Ahmadiyah. Mereka terlihat gigih mempertahankan pendapatnya meski berseberangan dengan pendapat mainstream umat Islam. Ahmadiyah juga dikenal sebagai kelompok yang anti kekerasan. Sejauh yang saya ketahui, keberadan aliran ini belum pernah bikin ulah…Ahmadiyah juga tidak pernah menggunakan simbol-simbol agama untuk menghantam  pihak lain. Coba bandingkan dengan kelompok-kelompok. FPI misalnya, keberadaannya mereka selalu bikin resah. Mereka sering menggunakan simbol-simbol suci agama guna melakukan tindakan yang justru dapat menodai kesucian ajaran agama itu sendiri. Dalam hal ini, boleh-boleh saja kita tidak sependapat dengan ajaran Ahmadiyah, tapi apakah kemudian kita boleh semena-mena dengan mereka? Bagi saya tidak….”Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi kaum yang kamu olok-olok itu lebih baik dari kamu…”

Paling asasi

Bagi saya, keyakinan adalah hal paling asasi dalam diri manusia. Tiap manusia punya kebebasan meyakini sesuatu atau tidak meyakini sesuatu. Hak ini dijamin oleh prinsip-prinsip universal yang diyakini umat manusia. Konstitusi di negara kita (pasal 29 UUD ’45) pun jelas-jelas menjamin adanya kebebasan beragama. Dalam agama Islam yang saya yakini pun, Allah membebaskan umat manusia untuk menentukan pilihan : mau jadi kafir atau beriman. “Barang siapa ingin kafir, silakan kafir. Barang siapa ingin beriman, silakan beriman.”. Dalam surat Alkafirun juga disebutkan, lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Dalam Alquran sendiri ada 300 ayat (menurut studi Zuhairi Misrawi) yang membahas tentang toleransi, inklusivime, demokrasi, dan pluralisme. Dari keterangan ayat ini, jelas Allah sangat demokratis dalam memberi pilihan kepada manusia meskipun tiap pilihan (kafir atau beriman) punya konsekuensi di mata Allah. Kalau Allah saja sangat demokratis, tepo seliro, memberi kebebasan pilihan, mengapa diantara kita justru bertindak otoriter? Sok merasa paling benar, sok merasa paling Islam dibanding orang lain? Sok merasa menjadi satu-satunya pemilik surga? Huh…

Yang harus diiingat bahwa salah tidaknya keyakinan ini hanya Tuhan yang berhak meminta pertanggungjawaban. Sebagai sesama, manusia (termasuk MUI, yang katanya warasatul ambiya atau pewaris para nabi itu) tidak berhak meminta pertanggungjawaban—apalagi menghukum—orang yang punya keyakinan berbeda. Apakah sebuah keyakinan itu sesat, salah, melenceng dari garis lurus, hanya akan bisa kita ketahui di akhirat nanti. Dus, jika ada orang memvonis sesat keyakinan orang lain, itu sama artinya mereka telah “merebut” otoritas Tuhan. Ya nggak?….bukankah mereka itu orang-orang sesat dalam arti sebenarnya…?

Mulai sekarang agaknya kita perlu mengembangkan sikap dialogis guna menjembatani perbedaan tafsir atas ajaran agama. Jika satu kelompok memandang kelompok lain punya keyakinan yang tidak pas, seharusnya jalan diskusi, tukar pikiran dengan semangat menghargai perbedaan yang bisa ditempuh. Jika cara-cara dialogis ternyata tidak bisa menyamakan persepsi, maka biarkanlah mereka berjalan sesuai keyakinannya…sekali lagi : lakum dinukum waliyadin…kekerasan, dengan dalih apapun tidak bisa dibenarkan, baik oleh etika, hukum, prinsip-prinsip universal, dan ajaran agama manapun…

Buat kawan-kawanku di Ahmadiyah…teruskan perjuanganmu…aku ada di belakangmu…

Solo, 30 April 2008

Advertisements

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s