Selamatkan Muhammadiyah

Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah (K.H. Ahmad Dahlan)

Advertisements

Sejujurnya saya tidak begitu sreg saat Din Syamsuddin terpilih menjadi Ketua PP Muhammadiyah melalui Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang pada 2005 lalu. Bukannya saya meragukan kemampuan Din dalam memimpin Muhammadiyah, tapi lebih karena latar belakang Din yang pernah menjadi politisi.

Din adalah mantan aktivis dan anggota DPR dari Golkar, partai penyokong rezim Soeharto di era Orde Baru. Saat terpilih menjadi Ketua PP Din memang sudah “tobat” dengan tidak aktif lagi di Golkar, namun itu tidak bisa menghilangkan kekhawatiran saya.

Sebagai orang yang pernah malang melintang di dunia politik, watak politisi Din suatu bisa saja “kambuh” kembali. Kalau ini terjadi akan sangat membahayakan Muhammadiyah. Bagaimanapun profil ketua umum akan mempengaruhi langgam Ormas keagamaan yang berwatak amar makruf nahi mungkar ini. Karakter politisi Din sebenarnya kurang cocok untuk memimpin persyarikatan. Sebagai gerakan moral, Muhammadiyah akan pas dipimpin sosok moralis semacam A Syafii Ma’arif.

Kecurigaan saya mulai muncul saat Din mulai runtang-runtung dengan Megawati Soekarnoputri, Ketua DPP PDI Perjuangan. Din juga ikut memelopori berdirinya Baitul Muslimin, sayap organisasi Islam milik PDIP. Saya, dan beberapa teman di Muhammadiyah lain, mulai menebak, Din sedang bermanuver. Publik dan warga Muhammadiyah juga reka-reka agenda apa sebenarnya yang ada di belakang Din.

Bisikkan…

Kedekatan Din dengan Partai Matahari Bangsa (PMB) semakin memperkuat dugaan saya. Dalam pemberitaan Majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan, Din terang-terangan mendukung PMB. Dalam Rapat Pimpinan Nasional PMB, Din mengungkapkan, “Bisikkan kepada orang-orang. Din sebagai pribadi mendukung partai ini. Meski dinyatakan secara pribadi, tetapi akan sulit dipisahkan dari lembaga.”

Masih menurut Tempo, tidak hanya itu, Din juga juga memberikan fasilitas. Perhimpunan Amanat Muhammadiyah—embrio PMB—bermarkas di Kantor Lembaga Hikmah PP Muhammadiyah. Din dan sejumlah petinggi Muhammadiyah juga aktif dalam rapat-rapat pembentukan partai ini. Beberapa kali rapat bahkan dilakukan di rumah Din.

Sebagai orang yang dilahirkan dari darah daging Muhammadiyah—ayah saya (alm) aktivis Muhammadiyah dan ibu saya aktivis Aisyiyah—sangat prihatin dengan kondisi ini karena Muhammadiyah mulai dijadikan bahan mainan para petingginya. Bagaimanapun sikap Din ini akan mengundang masalah di tubuh Muhammadiyah. Bukan hanya akan berpotensi mengundang konflik internal karena warga Muhammadiyah sangat plural dalam menyalurkan aspirasi politiknya, sikap Din juga menyalahi khittah Muhammadiyah.

Muhammadiyah lahir bukan sebagai organisasi politik, melainkan sebagai Ormas keagamaan yang bergerak di ranah pemikiran keagamaan, pendidikan, dan sosial. Muhammadiyah memang pernah membidani Partai Masyumi. Namun pada Muktamar tahun 1959 Muhammadiyah menyatakan keluar dari Masyumi dan menyatakan tidak terlibat dalam politik praktis hingga saat ini.

Cukup sekali saja Muhammadiyah melakukan “kecelakaan” sejarah dengan secara resmi mendukung pencalonan Amien Rais pada Pilpres 2004 lalu. Senyatannya dukungan resmi Muhammadiyah ini menimbulkan perdebatan yang melelahkan di kalangan internal Muhammadiyah. Celakanya lagi dukungan Muhammadiyah tak membuat Amien Rais memenangi Pilpres. Amien hanya menempati nomor empat dengan sekitar 14 juta suara. Asal tau saja, Muhammadiyah selama ini mengklaim mempunyai puluhan juta pengikut. Dengan perolehan suara tersebut bisa dipastikan warga Muhammadiyah tidak semuanya mendukung calon yang resmi didukung organisasi.

Sebenarnya saya berharap pengalaman dukung-mendukung Muhammadiyah pada kekuatan politik tertentu tidak terulang lagi pada Pemilu 2009 mendatang. Namun tak bisa dipungkiri pernyataan Din dengan memihak PMB jelas merupakan “kecelakaan” politik kedua bagi Muhammadiyah. Wajar kalau saya curiga ada agenda tersembunyi di balik manuver-manuver politik Din.  Agenda apakah itu? tanya saja kepada yang  bersangkutan…

Sebagai orang nomor satu di Muhammadiyah, Din mestinya bisa menjaga amanat Muktamar dengan sebaik-baiknya dengan tidak membawa perahu Muhammadiyah masuk ke ranah politik kekuasaan. Sekiranya Anda (Din) memang benar-benar tidak bisa menahan “syahwat politik” (pinjam istilah A Syafii Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah), sebaiknya lepaskan baju Muhammadiyah. Agar supaya Muhammadiyah aman, dan Din juga bebas untuk bermanuver tanpa terbebani amanat organisasi.

Ahmad Dahlan sudah dengan susah payah mendirikan Muhammadiyah. Jika masih hidup, dia pasti akan menangis bila melihat persyarikatan ini dijadikan kuda tunggangan para penerusnya. Warga Muhammadiyah pasti masih ingat wasiat Ahmad Dahlan, “hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.”

Mau dikemas dengan bahasa apapun, politik kekuasaan tetaplah bagian dari strategi mencari “penghidupan”. Mari kita teriakkan SOM : save our Muhammadiyah…!

Solo, 16 Agustus 2008

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s