Relasi kekuasaan suami-istri

Belum lama ini saya terlibat debat kusir dengan temen perempuan di kantor. Boleh jadi orang akan menertawakan kami karena kami mendebatkan soal relasi suami-istri, sesuatu yang berada di luar pengalaman kami. Namun, bagi saya itu tidak masalah. Meski sama-sama belum berkeluarga, toh tidak ada kaidah yang melarang untuk sekadar berwacana.

Sebenarnya saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kawan saya itu ketika dia memimpikan laki-laki ideal yang kelak akan menjadi pendampingnya, serta bentuk relasi antarkeduanya setelah berkeluarga. Apapun pasangan yang dipilih, adalah hak yang meski dihormati.

Hal yang mengusik pikiran saya adalah ketika kawan saya itu mengemukakan bahwa  calon suami yang diinginkan adalah orang yang bisa melindungi, lebih dewasa karena suami adalah kepala keluarga, pengambil keputusan, dan suami adalah sosok yang harus ditaati istri. Suami adalah pemberi nafkah sementara istri adalah penerima nafkah.

Yang sering membikin saya bertanya-tanya, kawan-kawan perempuan saya yang lain jika saya tanya soal yang sama, jawabnya pun relatif seragam. Seolah ada titik temu di alam pikiran kawan-kawan perempuan saya. Rata-rata mereka menginginkan suami yang lebih berumur, lebih dewasa, bisa membimbing, dan secara sosial-ekonomi lebih mampu.

Salahkah? Sejatinya tidak.  Namun penggambaran suami seperti di atas sebenarnya justru tidak menguntungkan kaum perempuan. Bahasa yang digunakan kawan-kawan saya itu adalah bahasa kekuasaan yang tidak tidak egaliter. Dengan kriteria itu jelas menempatkan suami sebagai sosok yang lebih berkuasa.  Suami superordinat dan istri subordinat. Kalau semua wanita menginginkan sosok pasangannya seperti itu, maka selama itu pula wanita tak akan pernah bisa berdaya.  Perempuan dalam posisi tertindas. Bukankah para aktivis perempuan sering menuntut adanya kesetaraan?

Lebih baik

Karena masih belum mengerti, lantas saya bertanya lagi. Bagaimana kalau suami Anda ternyata moralitasnya lebih jelek dari Anda, apakah Anda juga akan tetap mentaatinya? Apakah Anda juga tetap menginginkan Anda bisa dibimbing suami? Bagaimana kalau leadership Anda lebih baik ketimbang suami, apakah Anda tetap menyerahkan kursi kepala keluarga kepada suami?, Bagaimana kalau dalam menyelesaikan masalah keluarga argumentasi Anda lebih bagus, apakah Anda tetap menyerahkan keputusan akhir kepada suami?. Kawan saya itu terlihat agak bingung. Setelah diam sejenak, akhirnya dia menjawab, “ya”. “Adalah naluri perempuan untuk selalu ingin dilindungi,” sambungnya lagi.

Dalam alam pikiran saya, interaksi suami-istri adalah relasi yang setara. Sebagai laki-laki saya tidak pernah merasa dilebihkan Tuhan ketimbang perempuan, dalam hal apapun. Tidak pas kiranya jika sebagai laki-laki menempati strata khusus ketimbang perempuan. Dihadapan Tuhan semua makhluk adalah sama. Hanya ketakwaannyalah yang mengangkat derajat seseorang di mata Sang Kholiq. Bahwa ada peran-peran khusus perempuan seperti hamil dan melahirkan, itu adalah fitrah Tuhan yang tidak bisa dibantah, dan peran itu memang tidak mungkin bisa digantikan laki-laki.

Di luar konteks itu, khususnya dalam ranah sosial, peran suami-istri sebenarnya bisa saling menggantikan, tergantung konteks dan realitas yang sedang dihadapi. Saya tidak sependapat dengan relasi aktif-pasif (“me- dan “di-), misalnya, tugas suami menafkahi  dan istri dinafkahi. Dalam bayangan saya (karena baru bisa membayangkan…) kehidupan suami-istri adalah kehidupan untuk “saling”.  Saling mentaati, saling memahami, saling membimbing, saling mengingatkan, saling menafkahi, saling menguatkan. Relasi kekuasaan sebenarnya tidak diperlukan lagi dalam lingkup keluarga.

Kaidah

Sehingga tuntutan agar istri selalu taat kepada suami juga tidak diperlukan. Bagi saya ketataan, loyalitas, itu sebenarnya bukan kepada “siapa”, melainkan kepada “apa”. Undzur ma qola, wa laa tandzur man qola. “Lihatlah apa yang dibicarakan, jangan melihat siapa yang bicara,” begitu kata Rasulullah. Kalau memang istri lebih benar, suami harus rela taat kepada istrinya. Adalah naif ketataan hanya dilandasi perbedaan jenis kelamin. Bukankah kebenaran bisa datang dari siapa saja?, begitu juga dengan ketidakbeneran?.

Dalam bahasa ekstrim saya katakan kepada kawan saya itu, jangankan kepada istri, dengan anak saya kalau memang anak saya benar, saya rela taat kepada anak saya. Bukankah Siti Khatijah, istri pertama Nabi Muhammad, secara sosial-ekonomi justru lebih kuat dari Muhammad? Saat menikah Siti Khatijah berumur 40 tahun, sementara Muhammad 25 tahun?, Khatijah seorang saudagar kaya raya, sementara Muhammad hanya pemuda biasa?

Kalau mau bicara jujur, potensi perempuan sekarang lebih lebih menonjol ketimbang laki-laki. Rekruitmen karyawan di perusahaan-perusahaan yang memenuhi syarat lolos umumnya kaum hawa. Belum lama ini saya dipercaya menjadi juri kontes da’i cilik di lingkungan kantor saya. Dari 6 orang pemenang, hanya satu orang dari kaum adam, lainnya perempuan. Dalam hal moral perempuan rata-rata bermoral “lebih bagus” daripada laki-laki.

Lihat saja di penjara, umumnya penghuninya laki-laki, sementara jumlah penduduk perempuan jauh lebih banyak. Ini menandakan potensi untuk menjadi orang “brengsek” itu lebih didominasi laki-laki. Lihatlah di ruang-ruang konsultasi psikologi di koran, majalah, televisi. Umumnya didominasi istri yang mengeluhkan kelakuan suaminya ketimbang suami yang mengeluhkan istrinya…Kalau faktanya seperti ini, mengapa logika itu tidak dibalik saja? Suami harus taat kepada istri????…

Sayangnya konstruksi sosial, budaya dan agama sampai saat ini tidak berpihak kepada kaum perempuan. Penafsir-penafsir kitab suci umumnya laki-laki sehingga hasil penafsirannya pun sering bias gender. Realitas sosial, budaya, dan agama ini memang sangat kuat di masyarakat kita. Kontruksi tersebut membentuk pola pikir bahwa perempuan dalam posisi lemah seolah-olah itu sudah  fitrahnya, padahal sebenarnya sekadar mitos,  realitas yang semu. Entah sadar atau tidak, konstruksi itu juga memengaruhi mind set (sebagian) kaum hawa dalam memandang dirinya sendiri…termasuk kawan saya itu…

Solo, 05 September 2008

Advertisements

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s