Paradigma…

Dalam bahasa sederhana paradigma adalah cara pandang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Paradigma adalah kerangka berpikir. Paradigma mirip dengan kacamata yang Anda pakai. Dengan kacamata hitam, maka semua obyek yang Anda lihat akan berwarna hitam. Dengan kacamata kuda, Anda hanya bisa melihat obyek yang ada di depan Anda. Anda tidak akan bisa mengamati wanita cantik yang ada di samping Anda, kecuali dengan menggeser pandangan Anda. Konon, sekarang sudah ada kacamata “tembus pandang” yang bisa mengendus obyek di balik pakaian yang dikenakan orang. Kalau menggunakan kacamata ajaib ini Anda akan bisa melihat obyek di balik obyek yang biasa Anda lihat. Sayangnya saya belum bisa menemukan jenis kacamata ini.

Paradigma akan memengaruhi cara pandang Anda dalam melihat realitas dan bagaimana cara Anda menyikapinya. Ilmuwan sosial Thomas S Kuhn, orang yang kali pertama menggunakan konsep paradigma, melalui buku Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda mengungkapkan paradigma bukan saja bersifat kognitif tapi juga normatif. Paradigma bukan saja memengaruhi cara berpikir kita tentang realitas, tetapi juga mengatur cara mendekati dan bertindak atas realitas. Sewaktu masih hidup ayah saya pernah bercerita. Seorang peternak kambing dilanda kegelisahan yang luar biasa. Musim kemarau panjang mengakibatkan hampir semua daun, rumput-rumput mengering. Si peternak resah dengan nasib kambing-kambingnya karena dia kesulitan mencari rumput dan dedaunan untuk ternaknya. Kambing tak akan mau makan daun dan rumput kering. Dalam situasi kalut si peternak punya ide. Dia pergi ke toko membeli kertas tipis tembus pandang warna hijau.

Kacamata

Kertas-kertas itu kemudian dibuat kacamata dan dipasang di kambing-kambingnya. Dengan kacamata hijau semua obyek yang dilihat kambing menjadi berwarna hijau, termasuk daun dan rumput-rumput kering itu. Kambing yang semula tak mau makan kini dengan lahap makan daun dan rumput yang sebenarnya tidak berwarna hijau lagi. Peternak senang bukan main karena kambing-kambingnya selamat dari ancaman busung lapar. Sebuah ide cerdas sekalipus jahil. Cerdas karena di tengah kesulitan peternak bisa membuat ide cemerlang. Jahil karena ini jelas bentuk pembohongan. Dosakah? Wallahu’alam. Saya tidak tahu membohongi kambing itu dosa atau tidak. Dari cerita ini mengukuhkan betapa dahsyatnya sebuah paradigma karena bisa mengubah realitas di depan Anda.

Jika seorang suami memandang istri sekadar pendamping hidup, maka selama itu pula si suami memperlakukan istri sekadar “pembantu”. Si suami selalu menuntut dilayani. Beda halnya jika suami—atau sebaliknya—memandang istri adalah partner hidup, maka kehidupan dalam posisi sederajat akan tercapai. Jika Anda memandang salat, puasa, dan ibadah lain sebagai kewajiban maka Anda akan merasa terbebani olehnya. Coba ubah pola pikir Anda. Ibadah Anda pandang sebagai sebuah kebutuhan hidup maka semua akan berjalan tanpa beban. Bukankah Allah tidak butuh kita sembah? Bukankah Allah tidak butuh kita agungkan? Tanpa kita agungkan pun Allah tetap maha Agung. Tanpa kita sembah pun Allah akan tetap ada. Kita yang sebenarnya butuh menyembah-Nya. Kita pula yang butuh mengagungkan nama-Nya.

Jika kedudukan, status, jabatan kita pandang sebagai terminal akhir maka ini akan membikin kita tinggi hati. Seolah-olah menduduki jabatan adalah tujuan akhir kehidupan. Coba jabatan Anda pandang sebagai amanah, hanya sebuah alat, maka akan membuat kita rendah hati. Ketika jabtan ada di tangan, justru itu awal perjuangan untuk menebar kebajikan. Kalau Anda memandang pasangan hidup Anda seorang penyelingkuh, maka apapun yang dilakukan pasangan Anda selalu Anda kaitkan dengan perselingkuhan. Menerima SMS, telepon, atau sekadar ngobrol dengan lawan jenis pun akan Anda anggap sebagai bentuk penyelewengan. Padahal bisa jadi hal itu berkaitan urusan kerja dan tidak ada korelasinya dengan perselingkuhan sama sekali. Salah sangka karena Anda menggunakan paradigma yang salah.

Saya yakin kita sering menggunakan paradigma yang keliru dalam memandang realitas. Hal yang menyebabkan kita salah menyikapi dan salah melangkah. Implikasi salah paradigma akan panjang, karena ini menyangkut perilaku hidup kita di dunia ini. Agaknya sebelum bertindak perlu meluruskan cara pandang Anda lebih dulu. Tentu Anda tidak ingin menjadi kambing yang begitu bernafsu makan daun dan rumput kering yang disangkanya daun muda. Sebuah kesalahan cara pandang…

Solo, 25 September 2008.


Advertisements

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s