Indonesia Berduka

Duka mereka adalah duka kita semua. Inilah potret kemiskinan di negeri ini. Siapa yang salah atas semua ini…?    

Advertisements

Indonesia berduka. Berita memilukan datang dari Pasuruan, Jatim, Senin (15/9). 21 Orang meninggal karena berdesak-desakan dan terinjak-injak saat berebut pembagian uang zakat dari seorang saudagar setempat. Sedih, pilu. Saya tak bisa berbicara apa-apa saat mendengar kabar itu. Hampir saja saya tidak bisa berpikir, kok “hanya” demi mendapatkan uang Rp 30.000, warga tak mampu ini rela mengorbankan jiwa. Namun saya sadar, bagi orang mampu uang Rp 30.000 mungkin tak bermakna apa-apa. Bagi kaum duafa, uang itu ternyata sangat berarti. Sebagian dari mereka datang jauh-jauh dari luar Pasuruan, sejak subuh sekadar untuk mengantre.

Sungguh kejadian memilukan, menyayat-nyayat perasaan bagi mereka yang masih punya hati nurani. SEbuah kejadian ironi. Di satu sisi banyak orang menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan tak berarti. Para politisi rela mengeluarkan Rp 300 miliar hanya untuk bisa nampang beriklan di TV, namun di sisi lain ada realitas menyedihkan di sekitar kita. Duka mereka adalah duka kita semua. Inilah potret kemiskinan di negeri ini. Siapa yang salah atas semua ini…?

Bagi saya pribadi, kasus ini menjadi pukulan berharga, betapa selama ini saya tidak banyak bersyukur atas Rahmat Allah. Mungkin tidak banyak, tapi saya masih merasa beruntung tanpa harus menyabung nyawa seperti saudara-saudara saya di Pasuruan. Saya tidak akan banyak bicara. Saya hanya ingin mengajak mari bersama-sama berdoa, semoga para korban, orang-orang miskin, mereka yang tak berdaya ini mendapatkan tempat terhormat di sisi Allah. Karena keterbatasannya, saudara-saudara kita yang di sana mungkin tak bisa hidup layak di alam nyata ini. Tapi, Insya Allah, mereka akan tersenyum bahagia di surga nan abadi nanti. Bukankah agama mengajarkan Allah akan memasukkan orang miskin masuk lebih dulu ke surga ketimbang orang kaya?

Bagi para pejabat, anggota dewan, saya ingin mengetuk hati nurani Anda semua. Setelah melihat kejadian ini, masih tegakah Anda merampok uang rakyat? Uang yang sebenarnya menjadi hak saudara-saudara Anda yang di Pasuruan itu? Kalau nurani Anda tidak tersentuh, tak pantas kiranya Anda mengklaim diri sebagai manusia…

Solo, 15 September 2008

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s