Ibadah…

Dalam setiap forum ceramah agama, entah pengajian umum, di televisi, forum kutbah Jumat, sang ustad, khotib selalu mengingatkan kepada para jamaah untuk mengedepankan kepentingan akhirat dan menomorduakan kepentingan dunia. Para penceramah acapkali mengkritik perilaku umat Islam yang “diperbudak” urusan duniawi dengan melupakan hal-hal ukhrowi.

Tak terhitung berapa kali saya mendengar petuah-petuah seperti ini. Dengan mengutip dalil-dalil, para penceramah mengungkapkan, kepentingan duniawi bersifat sementara, yang kekal adalah di akhirat. Karena itu tidak semestinya hidup ini diabdikan untuk hal-hal yang sementara. Sabda Nabi (banyak ulama yang meragukan kesahihan hadist ini) yang sering dikutip adalah, “Carilah urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok” para penceramah ingin menegaskan kepentingan akhiratlah yang harus diutamakan karena seolah-olah “kita akan mati besok”.

Sebenarnya bukanlah hal yang salah jika dalam ibadah orang menginginkan imbalan-imbalan kebahagiaan di akhirat. Namun ada hal-hal sebenarnya perlu diluruskan terkait orientasi peribadan seperti ini. Faktanya banyak orang berpersepsi seolah-olah tugas sebagai muslim (ah) sudah selesai hanya dengan melakukan peribadatan, khususnya peribadan pokok. Ketika orang sudah menjalankan salat lima waktu, berpuasa, berzakat fitrah, ber-Haji, orang sudah merasa dirinya menjadi muslim sempurna. Pada sebagian orang, penilaian kualitas beragama cuma dilihat dari ketataan umat Islam menjalankan perintah beribadah pokok. Seolah tidak ada tolok ukur lainnya…

Religius

Paradigma akherat ini menyebabkan di antara umat Islam tidak menjadikan perilaku di dunia menjadi parameter keislaman seseorang. Sejak lama saya berpikir, bangsa Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa “religius”. Jumlah umat Islam di Indonesia terbesar di dunia. Umat Islam yang pergi haji juga yang paling banyak. Untuk berangkat haji pun harus melalui waiting list dua tahun sebelumnya karena antrenya banyak. Lantas mengapa nilai-nilai religiusitas tidak tercermin dalam kehidupan masyarakat kita? Adakah sesuatu yang salah dalam perilaku keagamaan kita? Bukankah agama hadir untuk memberi pencerahan? Mengapa moralitas bangsa ini lebih parah ketimbang bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan?

Saya tidak perlu menjelaskan satu-persatu kebrengsekan perilaku masyarakat kita. Terlalu banyak untuk diceritakan. Seolah ada jarak yang jauh antara kesalehan orang beribadah dengan ketaatan terhadap kaidah-kaidah agama dalam kehidupan nyata. Orang rajin salat, tapi juga rajin korupsi, rajin menyakiti orang lain, rajin menyelewengkan jabatan, arogan, bersikap belagu, dsb. Orang merasa berdosa kalau meninggalkan puasa, tapi tidak pernah merasa bersalah jika bersikap otoriter, menindas orang lain dan mau menang sendiri. Atas nama penegakan syariat, ada saudara-saudara kita yang tega menganiaya sesama anak bangsa. Atas nama jihad, orang merasa seolah menjadi mujahid kalau berhasil meledakkan bom.

Kalau mau jeli, semua entuk peribadatan yang dilakukan umat Islam diperuntukkan memperbaiki perilaku kehidupan manusia di dunia ini. Salat, puasa, zakat, haji, kesemuanya punya pesan-pesan moral yang sangat agung agar orang yang menjalankannya menjadi manusia paripurna, manusia bermoral tinggi, berakal budi, cerdas secara intelektual dan emosional. Manusia yang selalu mempertimbangkan akal sehat dan nuraniya sebelum bertindak.

Celaka

Acapkali kita tidak sadar, sebenarnya pesan-pesan moral ibadah ini menjadi hal yang teramat penting. Tanpa melakukan pesan-pesan moral pelaksanaan ibadah pokok bisa gugur. Dalam batas-batas tentu pesan moral ini justru dapat “menggantikan” ibadah pokoknya. Orang yang tidak mampu berpuasa karena berbagai alasan bisa mengganti dengan membayar fidyah atau memberi makan terhadap orang-orang miskin. Amal saleh menjadi salah satu pesan moral puasa. Di sisi lain orang yang salat pun bisa gugur salatnya kalau tidak dibarengi dengan penegakan amar makruf nahi mungkar sebagai tujuan salat. “Maka ‘celakalah’ orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salat mereka, orang yang berbuat riya, dan menghalangi (menolong dengan) barang-barang berguna (QS Al-Maun 4-7).

Prof Dr M Qurais Shihab melalui Tafsir Al-Misbah menafsirkan kecelakaan orang-orang yang salat itu tertuju kepada mereka yang lalai tentang esensi makna dan tujuan salat. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang salatnya tidak mencegah dari kejelekan dan kemungkaran, maka salatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah Swt.” Puasa hanya sekadar mendatangkan lapar dan dahaga jika yang menjalankannya tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Ibadah haji tak berguna apa-apa (haji mardud) jika setelah beribadah orang-orang yang berhaji ini tidak bisa mentansformasikan diri menjadi manusia-manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam berbagai hadis disebutkan, akan datang suatu zaman orang-orang berkumpul di mesjid untuk salat berjamaah tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mukmin. Siapa sebenarnya orang mukmin? Dalam Shahih Bukhari—seperti dikutib Jalaluddin Rakhmat—Rasulullah memberi parameter tentang orang mukmin. (1).Barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya. (2). Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia menyambung tali persaudaraan. (3). Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan akhir hendaknya dia berkata yang benar dan kalau tidak mampu maka dia lebih baik berdiam diri. (4). Tidak dianggap sebagai orang beriman apabila seorang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.

Keimanan

Dari empat hadist di atas menjelaskan bahwa kualitas keimanan seseorang lebih banyak ditentukan oleh sikap seseorang ketika berada di tengah-tengah masyarakat; menghormati tetangga, menyambung tali silaturrahmi, berkata jujur, peduli terhadap sesama, ketika sedang diberi amanah memegang jabatan, bukan saat khusuk berada di mesjid, ketika di mesjidil haram, ketika sedang khusuk membaca kitab suci, atau sedang khusuk berpuasa.

Dalam kaitan ini perubahan pemahaman agaknya perlu dilakukan. Dengan membalik paradigma yang dikemukakan sebagian para ustad itu. Saya menamakan sebagai paradigma dunia. Sebuah paradigma ibadah yang mengorientasikan semua bentuk peribadatan untuk kepentingan dunia, memperbaiki perilaku pemeluknya. Perilaku merupakan kunci keabsahan peribadatan umat Islam. Toh tanpa diorientasikan ke akhirat pun, jika di kehidupan ini manusia mampu membangun perilaku yang mulia, otomatis kekekalan kehidupan akhirat akan bisa diraihnya. Insya Allah…

Solo, 15 September 2008

Advertisements

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s