Awas, peran kebanci-bancian

Semula saya tidak begitu memahami mengapa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memeringatkan stasiun televisi untuk menghentikan tayangan kebanci-bancian. Peringatan ini agaknya cukup serius. Jika teguran ini tidak diindahkan para pengelola TV, KPI mengancam akan bertindak keras. Izin operasional TV bisa dicabut.

Dalam waktu bersamaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap peran yang bertentangan dengan fitrah jenis kelaminnya. Entah laki-laki memerankan diri sebagai perempuan atau kebalikannya. Fatwa MUI ini sebenarnya tidak mengejutkan karena wacana haram terhadap peran-peran kebanci-bancian ini sudah lama saya dengar. Tak seperti biasanya, peringatan KPI ini sepertinya cukup efektif. Sejauh yang saya lihat tayangan kebanci-bancian sudah mulai menghilang dari layar kaca. Apakah penghentian tayangan ini hanya hangat-hangat tahi ayam alias hanya ditaati awal saja, masih akan kita tunggu waktu-waktu mendatang.

KPI tidak secara gamblang menjelaskan alasan pelarangan tersebut. Sekilas KPI hanya menyebut tayangan kebanci-bancian tidak mendidik bagi anak-anak. Justru penjelasan di luar sikap resmi KPI yang membuka mata saya tentang dampak buruk tayangan itu. Apa dampak tayangan kebancian-bancian bagi anak-anak? Psikolog senior Elly Risman dalam talkshow di stasiun TVOne beberapa waktu lalu menjelaskan tayangan kebanci-bancian memang sangat membayakan. Posisi TV sebagai media pandang dengar sangat mempengaruhi para pemirsanya, khususnya bagi anak-anak usia 0-8 tahun. Pada usia-usia tersebut, kata Elly, anak-anak berada pada fase meniru. Pertumbuhan sel otaknya yang belum sempurna membuat anak-anak tak bisa berpikir secara wajar tentang dampak hal-hal yang ditiru. Berbeda dengan orang dewasa, meski sama-sama meniru orang dewasa sudah punya kontrol kuat.

Di sisi lain gelombang otak pada anak-anak umur tersebut pada posisi alpha & theta sehingga informasi yang datang pun gampang masuk ke alam bawah sadarnya. Jika pada masa umur tersebut anak-anak sering menonton tayangan kebanci-bancian, maka informasi tersebut akan diserap begitu saja. Kelak si anak tidak sekadar meniru perilaku banci, yang lebih berbahaya lagi anak-anak bisa mengalami perkembangan kepribadian yang menyimpang. Kepribadian anak sangat mungkin akan tumbuh menjadi banci dalam arti sebenarnya meski mereka tidak ditemukan gen kebanci-bancian sejak lahir. Banci, lanjut Elly, bisa terbentuk dari interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Pemerannya

Sebuah peran yang dilakukan oleh aktor, aktris baik di layar kaca maupun dilayar lebar tidak hanya perpengaruh terhadap audiens saja, melainkan berpengaruh juga terhadap pemerannya. Menurut para psikolog, sebuah peran yang diulang-ulang akan memengaruhi kepribadian seseorang. Mengutip pendapat para psikolog, Komaruddin Hidayat, di Seputar Indonesia (12/9/2008) menulis seorang aktor yang sering berperan sebagai sosok pahlawan, misalnya peran itu akan berpengaruh terhadap dirinya. Sebab dia dituntut untuk menjiwai alur cerita agar permainannya bisa tampil total dan bagus. Jadi, dalam peran itu ada proses peniruan dan identifikasi.

Konon, ceritanya beberapa aktof kawakan kelas Hollywood seperti Antony Quinn pribadinya berubah setelah memerankan sosok semacam Hamzah dalam film kolosal The Message. Begitu pun aktor lain yang memerankan Saladin, ataupun Mahatma Gandi. Tayangan kebanci-bancian saat ini memang berkurang, namun dampak tayangan ini bukan berarti hilang sama sekali. Sekarang tugas Anda mengamati perilaku anak-anak Anda. Apakah ada gejala anak-anak Anda meniru perilaku banci? Agaknya hal ini yang perlu Anda waspadai…

Solo, 12 September 2008

Advertisements

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s