Selamat Datang Ketidakjujuran

Judul dia atas saya cuplik dari artikel seorang teolog Amerika Serikat, R. Albert Mohler JR,  di situs pribadinya www.mohler.com. Artikel berjudul “The Post-Truth Era, Welcome to The Age of Dishonesty” (Era Pasca Kebenaran, Selamat Datang Zaman Ketidakjujuran) itu ditulis pada 2005. Saya tergelitik pada pada kata “welcome” pada judul artikel tersebut. Menurut Kamus Oxford, welcome artinya “menyambut”, “menerima dengan senang hati”.

Kalau dimaknai apa adanya, Mohler menerima dengan bahagia datangnya era ketidakjujuran. Ini sebuah hal yang aneh bukan? Orang kok seneng dengan ketidakjujuran? Namun kalau kita baca artikel secara utuh, sejatinya judul itu hanya sindiran belaka terhadap kecenderungan merajalelanya ketidakjujuran, khususnya di Amerika. Mohler mengulas artikelnya itu dari buku Ralp Keyes,  The Post-Truth Era : Dishonesty and Deception In Contemporary Life yang terbit pada 2004.  Buku Keyes kemudian dikutip Goenawan Mohamad pada pidato penganugerahan di bidang kebudayaan di kampus UNS pada 11 Maret lalu.

Keyes seperti dikutip Mohler, memang banyak mengulas fenomena ketidakjujuran di sekitar manusia. Penipuan, kata Keyes, sudah menjadi biasa di semua level kehidupan kontemporer. Seorang bloger asal Amerika, David Robert, pada 2010 juga menulis artikel sejenis tentang  “post-truth politics” atau pasca kebenaran politik di sebuah blog grist.org. Tulisan itu  untuk mengkritik sebuah budaya politik yang berkembang di negaranya, bahwa politik—dalam hal ini opini publik dan narasi media—hampir terputus dengan kebijakan (yang menjadi substansi perundang-undangan).

Tak hanya di Amerika, fenomena ketidakjujuran belakangan juga menjangkiti ruang publik di Indonesia. Pemicunya tidak jauh dari urusan politik kekuasaan. Ketidakjujuran ini kemudian merembet ke mana-mana karena orang dengan sangat mudah memproduksi ketidakjujuran dan kemudian menyebarkannya secara luas. Banyak orang membuat ketidakjujuran, dan yang bikin miris, banyak pula yang menyukai ketidakjujuran itu. Kepalsuan kemudian menjadi bahan perbincangan di ruang publik yang membuang energi kita.

Virus ketidakjujuran, khususnya di ranah politik, memang bukan fenomena kekinian. Banyak aktor  politik masa lalu yang memanipulasi pesan karena punya agenda tertentu. Hitler semasa berkuasa kerap memproduksi ketidakjujuran  melalui media massa yang dikuasainya untuk membangun loyalitas rakyat Jerman. Sosiolog dan sejarawan besar, Ibu Khaldun, juga pernah mengungkap para sejarawan masa lalu yang memanipulasi karya sejarah hanya untuk menyenangkan para penguasa saat itu. Penguasa Bani Umayyah memanfaatkan kaum agamawan dengan memproduksi hadis palsu guna memengaruhi opini publik untuk melanggengkan kekuasaan. Kaum agamawan pun tidak keberatan memanipulasi hadis sebagai bentuk loyalitas kepada sang penguasa (Rahman, 2017).

Ini menandakan ketidakjujuran, di segala lini, adalah fenomena yang sudah ada sejak  berabad-abad silam. Sedikit perbedaannya, kepalsuan di masa silam banyak diproduksi kaum elit, tapi sekarang bisa diproduksi secara massal. Secara akal waras, mestinya fenomena kepalsuan itu menghilang dari sejarah seiring meningkatnya supremasi ilmu pengetahuan dan akal sehat.  Kalau fenomena ini kemudian marak di era saat ini, bisa dipastikan sebagai bentuk anomali (penyimpangan) atas normalitas sejarah. Padahal kegemaran akan ketidakjujuran itu kita mundur ke masa berabad-abad silam.

Gerakan Intelektual

Di ranah pemikiran, para filsuf masa lalu membuat gerakan intelektual  untuk melawan ketidakjujuran demi pencerahan umat manusia. Gerakan pencerahan renaisans dimulai dari Itali pada dari abad 14 sampai abad 17 yang memelopori lahirnya era filsafat modern. Era renaisans yang mulai mengakui otoritas sains dilanjutkan gerakan serupa, aufklarung, pada abad 18 di Jerman. Gerakan itu kemudian menyebar ke negara Eropa lainnya sehingga  menjadi bagian dari sejarah yang penting bagi perkembangan rasio manusia.  Tokoh penting aufklarung,  Emmanuel Kant, berusaha mempersatukan kebenaran rasio dengan kebenaran empirik yang menjadi perdebatan para filsuf sebelumnya.

Menurut Kant, baik rasionalisme maupun empirisme sama-sama bisa menjadi sumber kebenaran. Ibn Rusyd mengenalkan teori kebenaran ganda (double truth theory) yang berusaha mempersatukan pertentangan kebenaran akal dan kebenaran wahyu. Menurut filsuf  muslim itu, akal maupun wahyu sama-sama tidak perlu dipertentangkan karena keduanya bisa menjadi sumber kebenaran.  Ibn Rusyd ikut menyumbangkan kemajuan peradaban barat. Di Iran kita mengenal tokoh Ali Syariati yang mengenalkan gerakan rausanfikr (pemikir yang tercerahkan). Gerakan intelektual yang mengilhami revolusi untuk memerangi rezim yang menindas. Dari berbagai gerakan itu, semua menuju pada semangat proses pencarian kebenaran yang bisa dipertangjawabkan.

Saya tidak bisa membayangkan bila para pencerah itu masih hidup dan menyaksikan kecenderungan ketidakcerahan akal generasi kontemporer. Bisa jadi mereka akan menangis. Gerakan intelektual yang dengan susah payah dibangun itu seolah-olah dibuang ke tempat sampah oleh generasi sekarang. Sungguh malu rasanya. Kita masih suka nyinyir dan mempersoalkan isu remeh-temeh  yang tidak relevan bagi   perkembangan dan kemajuan peradaban umat manusia.

Yang saya khawatirkan ketidakjujuran, ketidakbenaran, ini menjadi telah menjadi paradigma berpikir sebagian dari warga negara ini. Kalau saya meminjam perspektif sosiolog Thomas S Kuhn, bila sesuatu itu menjadi paradigma, maka orang cenderung menggunakan sesuatu yang dia yakini itu untuk landasan untuk bertindak. Bila ketidakjujuran jadi objek paradigma, maka semua tindakan kita akan mengacu pada “ketidakjujuran” itu.  Kita bakal menjadi makhluk-makhluk “kerdil” yang suka memperdebatkan, menjadikan sebagai bahan obrolan, olok-olokan, bahkan landasan bertindak, yang kesemuanya berdasarkan atas ketidakbenaran itu.

Boleh jadi kita perlu membuat  gerakan pencerahan baru  dengan melakukan shifting paradigm (mengubah paradigm)  dari paradigma ketidakbenaran menuju paradigma kebenaran. Bila anomali itu kita biarkan terus, akan sangat membahayakn terhadap nasib masa depan kita sebagai manusia yang beradab. Kita sama saja tengah menempatkan ketidakbenaran menjadi bagian dari sejarah hidup masa depan kita.

Saya jadi teringat guru-guru agama saya sewaktu sekolah di madrasah. Mereka sering mengatakan  banyaknya kehidupan yang anomali dari ajaran agama sebagai tanda-tanda hari kimat. Jangan-jangan? Ah, entahlah…

 

Penulis :

Sholahuddin

Manajer Litbang Solopos

Artikel ini pernah dimuat di Harian Solopos pada 28 Maret 2017

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: Sholahuddin

Adalah Lelaki Pencari Tuhan...Lahir di Boyolali, Bekerja di sebuah penerbitan pers di Solo. Saya seorang "mualaf" yang tidak pernah lelah untuk terus belajar mencari kebenaran...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s