Politik

Sepotong Kenangan tentang Sang Calon Penghuni Istana Negara

Medio Oktober 1997 menjadi awal perkenalan saya dengan Joko Widodo. Pertemuan dengan Jokowi—begitu dia akrab dipanggil—terjadi secara tak sengaja. Sebagai reporter baru di bidang Ekonomi-Bisnis Harian Solopos, saat itu saya kebingungan mencari berita. Koleksi narasumber terbatas. Saya juga belum mampu mengelola isu secara baik. Saat saya bertemu Jokowi, Solopos belum genap berumur satu bulan sejak terbit pada 19 September 1997.

Nah, saat naik bus kota melewati kompleks Perkampungan Industri Kecil (PIK) di Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Sukoharjo, tiba-tiba saya kepikiran untuk masuk ke kompleks tersebut. Saya penasaran, apa sebenarnya aktivitas di komples PIK? Siapa tahu ada berita yang bisa saya tulis.

Setelah mengetuk pintu di kantor kompleks itu, sosok pria kurus, berkacamata, berkaus oblong warna hijau, bercelana jin muncul dari balik pintu menyambut kehadiran saya. Pria itu kemudian mengenalkan diri, Joko Widodo, Ketua Warsi (Warung Sistem Informasi Bisnis) sekaligus eksportir mebel Rakabu yang pabriknya berada di kompleks PIK pula.

Penampilannya yang sederhana menyebabkan saya salah sangka. Semula saya mengira dia adalah karyawan di kompleks itu. Maklum, Jokowi belum terjun ke dunia politik sehingga nama dan wajahnya belum banyak dikenal publik.
Perbincangan saya dengan Jokowi membahas seputar posisinya sebagai Ketua Warsi serta probematika eksportir mebel dalam situasi krisis ekonomi. Gaya bicaranya tenang dan tidak meledak-ledak. Ia juga ramah melayani setiap pertanyaan yang saya ajukan. Gaya Jokowi itu tidak berubah saat menjadi orang penting di negeri ini. Di balik kesederhanaannya, saya menilai Jokowi adalah pengusaha yang berpikiran maju. Sebagai Ketua Warsi, dia begitu akrab dengan Internet, di saat banyak orang—termasuk saya—yang buta terhadap jaringan informasi di dunia maya ini.

Warsi adalah sebuah lembaga yang bertugas menyediakan informasi dan data bagi industri kecil khususnya tentang peluang ekspor ke luar negeri yang dikelola oleh Departemen Perindustrian (Depperindag) Kabupaten Sukoharjo. Warsi didukung sistem jaringan informasi baik dari dalam negeri maupun mancara negara yang bisa diakses melalui jaringan komputer. “Saya biasa berkomunikasi dengan buyer di luar negeri melalui komputer ini,” ujar Jokowi sambil menunjuk personal computer (PC) yang ada di depannya.
Jokowi mengatakan hampir semua informasi peluang bisnis ekspor industri kecil, baik mebel, garmen, maupun kerajinan tangan tersedia di Warsi. Pengusaha kecil tinggal memanfaatkan data dan informasi yang tersedia untuk berhubungan dengan buyer (pembeli). Bila industri kecil/pengrajin kesulitan maka pihak Warsi yang akan menjadi mediatornya. Sayangnya, kata Jokowi, tak banyak kalangan industri kecil yang memanfaatkannya. Padahal apabila informasi dan data dari Warsi ini bisa dimanfaatkan, akan sangat besar manfaatnya.

Setelah mengenal visi dia untuk memajukan industri kecil, saya menyadari narasumber yang saya hadapi ini bukan orang sembarangan. Selain berwawasan luas, dia punya komitmen kuat untuk membela usaha kecil dan mikro.

Eksportir “Kaki Lima”

Pada wawancara dengan Jokowi saya juga menyinggung soal problematika sebagai eksportir mebel dalam situasi krisis. Pada Oktober 1997 krisis ekonomi melanda Indonesia. Nilai rupiah terpuruk atas dolar AS. Saat harga dolar melonjak sebenarnya merupakan saat tepat bagi eksportir seperti Jokowi untuk meraup keuntungan. Namun peluang meningkatkan ekspor itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Kebijakan tight money policy (TMP) atau kebijakan uang ketat yang dibuat pemerintah sangat mengganggu. Suku bunga perbankan melambung. Jokowi mengaku kesulitan finansial untuk bisa memenuhi permintaan ekspor yang cukup banyak. “Mau pinjam bunga tinggi, tidak pinjam finansial juga terbatas,” keluhnya.

Padahal, kata Jokowi, untuk meningkatkan kapasitas ekspor dia membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bagi eksportir kecil seperti dirinya, TMP menjadi kendala untuk memeroleh pinjaman dari bank. Saat itu Jokowi meminta pemerintah memberikan jalan keluar. “Mestinya pemerintah tidak hanya menganjurkan meningkatkan ekspor tapi juga memberi jalan keluar,” pinta Jokowi kepada pemerintah.
Pada 21 Maret 1998 Jokowi menelepon saya untuk bertemu. Jokowi mengeluh soal kebijakan perbankan yang menghentikan fasilitas diskonto L/C (Letter of Credit). Tanpa fasilitas ini eksportir harus menunggu pembayaran ekspor dalam waktu dua hingga satu bulan guna menunggu negosiasi dengan bank luar negeri. Kebijakan bank devisa ini bagi Jokowi sangat mengganggu aktivitas perputaran uang di pabrik mebelnya. Bagi eksportir besar, kebijakan itu tidak jadi masalah. “Namun hal itu sangat memberatkan bagi ekportir ‘kaki lima’ yang cadangan dananya mepet,” ujarnya. Belum lagi eksportir dihadapkan masalah lain seperti naiknya harga bahan pendukung serta sulitnya menemukan kontainer kosong.

Pertemuan saya dengan Jokowi terasa istimewa. Sungguh saya tidak menyangka narasumber yang saya temukan tak sengaja 17 tahun lalu itu, Selasa (22/7), dikukuhkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pemenang Pilpres 2014. Pada 20 Oktober mendatang Jokowi akan dilantik menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia.
Saya berharap saat menjadi presiden mendatang, tak sepantasnya Jokowi mengeluh, seperti kebiasaan presiden lainnya. Saatnya bagi Jokowi untuk mendengarkan keluhan rakyat. Sebagai pengusaha yang berangkat dari nol, Jokowi bisa merasakan betapa susahnya membangun industri kecil dalam situasi yang serba terbatas. Kondisi yang sama dirasakan jutaan rakyat dan para usahawan kecil lainnya. Jokowi juga tak perlu lagi meminta kepada pemerintah untuk memerhatikan orang-orang kecil seperti sebelumnya. Karena tongkat pucuk pemerintahan sebentar lagi ada di tanganmu. Kini saatnya membantu mereka yang berada dalam kesulitan.
Selamat bekerja, Mas Jokowi…

(Dimuat di Solopos edisi 23 Juli 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s