Politik · Uncategorized

Dahulukan Tabayun, Hentikan Fitnah….

Seorang kawan mengunggah tautan di media sosial facebook yang berisi ulasan mengenai gaya hidup seorang istri tokoh politik yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian banyak orang. Menurut tulisan itu, si suami selama ini dicitrakan sebagai tokoh politik yang sederhana, apa adanya, tak mau bermewah-mewah dan suka blusukan.

Sementara, kata tulisan itu, si istri suka hidup bermewah-mewah, memakai tas yang harganya jutaan. Si istri juga pernah menjadi pengurus sebuah organisasi yang disebut-sebut berhubungan dengan Yahudi dan gerakan zinonisme. Sungguh kontras kehidupannya dengan sang suami.

Setelah kawan itu mengunggah tautan tulisan, muncul beberapa tanggapan.Satu di antaranya menyebut informasi itu sebagai “fitnah”. Namun si peng-upload menanggapi yang seolah-olah ingin meyakinkan bahwa tulisan itu benar karena bersumber dari mantan tim sukses saat si tokoh politik saat masih menjabat walikota. “Bener ora info ini (Benar tidak informasi ini)?,” kata si uploader.

Nah, dari contoh tulisan di atas, menurut saya ada logika yang sangat bertolak belakang. Pertama, si pengunggah berani menautkan sebuah tulisan dan kemudian dia bersikap yang “mendukung” kebenaran isi tautan. Kalau kita memakai prinsip teori ilmu komunikasi, ketika seseorang menyebarkan pesan kepada orang lain, maka dia pasti berniat untuk memengaruhi orang lain sesuai yang diharapkan. Karena esensi komunikasi massa adalah effect yang diinginkan dari audiens. Kedua, hal yang menurut saya sangat aneh, di sisi lain pada awalnya dia bersikap “mendukung”, tapi di belakang ternyata dia masih ragu dan bertanya benar tidaknya informasi itu. Saya jadi heran, “Lha kalau memang belum yakin kebenaran informasi itu, lantas mengapa Anda berani bersikap dan kemudian menyebarkan informasi itu kepada orang lain.”? Sungguh logika yang tidak bisa saya terima. Berarti dia bersikap berdasarkan informasi yang justru dia dipertanyakan kesahihannya.

Kasus di atas hanya salah satu contoh saja. Saya sering menemui model orang seperti kawan saya tadi, apalagi pas musim pemilu presiden seperti sekarang ini. Begitu banyak informasi mengenai capres-cawapres berseliweran, di media sosial broadcast via BBM maupun SMS. Dalam situasi demikian, perlu kehati-hatian ekstra untuk mencerna setiap informasi yang datang.

Menurut saya, ada satu prinsip penting yang diabaikan kawan saya saat mengunggah tulisan itu, yakni verifikasi maupun klarifikasi. Kewajiban verifikasi menjadi keharusan di dunia informasi. Tokoh pers, Bill Covach dalam Sembilan Elemen Jurnalisme-nya menyebut Esensi Jurnalisme adalah disiplinverifikasi. Covach menempatkan verifikasi pada elemen ketiga. Tanpa kewajiban verifikasi, dunia informasi akan menjadi suatu yang sangat mengerikan.Bayangkan kalau setiap orang bisa membuat dan menyebarkan informasi apa saja sesuai kehendak dan kepentingannya. Kita jadi susah membedakan mana data dan mana fitnah, meski keduanya sangat jelas perbedaannya. Menurut Kamus BesarBahasa Indonesia (KBBI), data adalah keterangan yang benar dan nyata. Keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian atau analisis. Sedangkan fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yangdisebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik,merugikan kehormatan orang).

Tabayun

Dalam bahasa agama, verifikasi itu setara pengertiannya dengan tabayun. Dalam KBBI, tabayun adalah pemahaman, penjelasan. Kitab suci Alquran memerintahkan umatnya untuk bertabayun, baik yang tertuang dalam Surat An-Nisa (4) : 94 maupun Surat Al-Hujarat (49) : 6.

Di sebuah blog marzanianwar.wordpress.com, menuliskan, pengertian tabayyun pada surat An-Nisa bisa dilihat antara lain dalam Tafsir Al-Quran Departemen Agama tahun 2004. Kata itu merupakan fiil amr (kata perintah) untuk jamak, dari kata kerja tabayyana, masdarnya (kata kerja) at-tabayyun yang artinya mencari kejelasan hakekat suatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati.

Menurut Tafsir Al-Misbah karya M Quraish Shihab, ayat dalam surat An-Nisa itu juga menunjukkan betapa Alquran menekankan perlunya menyebarluaskan rasa aman dan kepercayaan di kalangan masyarakat dan menghindarkan segala macam keraguan dan tuduhan yang boleh jadi tidak berdasar, dan karena itu pula terbaca di atas, fa tabayyanu (telitilah dengan sungguh-sungguh) diulanginya dua kali dalam ayat tersebut.

Yang lebih memprihatinkan lagi, kawan-kawan saya yang rajin mengunggah informasi-informasi tak jelas itu adalah orang-orang yang saya kenal “taat” beragama. Sebagian dari mereka adalah aktivis-aktivis partai ber-Tuhan. Uniknya perilaku politiknya tak mencerminkan nilai-nilai ketuhanan. Mereka begitu semangat menyebarkan berbagai informasi yang menyudutkan lawan politik.Bahkan informasi-informasi SARA yang tak jelas juntrungnya. Mereka mengambil sumber dari media, khususnya media online, yang tak jelas pula, tendensius, provokatif dan waton menuduh tanpa disertai oleh data dan logika yang sahih. Mereka tak peduli dengan kebenaran informasi yang mereka sebar, yang diutamakan kepentingan mereka sampai tujuan.

Saya benar-benar heran, mengapa mereka tega menginjak-injak pesan-pesan kitab suci yang mereka agungkan? Mengapa mereka menumpulkan akal sehat? Padahal mereka juga orang-orang yang berpendidikan? Apakah demi kepentingan politik orang boleh menghalalkan segala cara? Termasuk cara-cara memfitnah, menyebarkan kabar bohong, menuduh orang lahir dari etnis tertentu? Padahal etnis yang dituduhkan itu juga bagian dari ciptaan Tuhan? Bukankah mereka sama saja melawan kodrat Tuhan yang sungguh sangat besar dosanya? Bukankah Tuhan menciptakan manusia ke dalam keragaman bangsa dan suku? Bukankah hanya ketakwaan yang membuat kita berbeda di mata Tuhan? Bukankah sebagai orang beragama mereka bisa menerapkan keagungan agamanya dalam perilaku politiknya? Toh mereka sebenarnya bisa bersaing untuk meraih kebajikan (fastabiqul khoirat)? Mengapa mereka menempuh cara-cara yang sangat naif? Apakah tidak cara yang lebih elegan untuk meraih simpati publik?

Apakah memang begini model paradigma berpikir politisi? Yang penting simpulkan dulu, tuduh dulu, lontarkan dulu, terbukti atau tidak tuduhan itu bukan hal penting? Apakah karena politisi punya senjata ampuh yang namanya “retorika dan pembenaran”? Mengapa cara berpikir politisi  sungguh sangat berbeda dengan paradigma keilmuwan? Yang mengharuskan sesuatu dibuktikan kebenarannya dulu, baru kemudian diambil kesimpulan? Dan mempertimbangkan aspek kemanfaatannya untuk disebarkan?

Sebagai orang awam, saya memahami politik itu sesuatu yang suci, sakral. Kekuasaan itu sesuatu yang sangat mulia. Perilaku politisi saja yang membuat politik itu kotor. Dengan memegang kekuasaan, sebenarnya orang punya kesempatan lebih besar untuk menebar kebajikan, mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik,membuat kebijakan untuk kemaslahatan umat manusia (dakwah bil hal/dakwah secara nyata). Bandingkan dengan orang yang tak berkuasa. Paling banter Cuma bisa ngomong atau bahkan cuma bisa berdoa. Kata para ustad, itulah selemah-lemah iman seseorang.

Bermain di luar ring tidak begitu efektif untuk meraih tujuan kebajikan.So, sebagai sesuatu yang suci, maka untuk meraih kekuasaan harus dilakukan dengan cara-cara yang suci pula. Mari tinggalkan fitnah…

 

Solo, 20 Juni 2014.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s