Media

Sinetron Religius

Namanya memang keren. Sinetron religius. Tapi jangan harap kita akan mendapatkan pesan-pesan religius yang menyentuh batin kita. Alih-alih justru penodaan nilai-nilai agama yang kita dapatkan. Boom sinetron religi di TV sejatinya sudah mulai berkurang. Namun di beberapa stasiun TV sinetron-sinetron yang mengangkat tema “agama” ini masih sering kita temukan. Tren sinetron religi mencapai puncaknya setelah stasiun-stasiun TV mulai meninggalkan tayangan-tayangan perburuan hantu, setan, kuntilanak, genderuwo, dsb. Saat itu hampir semua channel TV menayangkan sinetron religius. Judulnya pun sungguh islami; rahasia ilahi, misteri ilahi, hikmah, pintu hidayah. Konon sebagian diantaranya diklaim mengangkat kisah-kisah nyata.
Awalnya saya menyambut baik hadirnya tayangan-tayangan religi itu, meski saya sadar apapun kemasan yang dibuat pengelola TV, ujung-ujungnya mengejar rating pemirsa. Rating = iklan, dan Iklan = duit, adalah prinsip yang sering dipegang para pengelola TV. Namun setelah mengamati tayangan-tayangan itu saya mulai muak. Tidak jarang pemirsa disuguhi tontonan yang lebih kental unsur mistiknya ketimbang pesan-pesan moral agama. Sering kita “dipaksa” menikmati tayangan yang bersifat pembodohan. Sebagian diantaranya menampilkan secara fulgar adegan sadisme, kekerasan, dan dalam batas-batas tertentu, pornografi. Meski dalam konteks berbeda, tayangan sinetron (yang katanya) religius umumnya beralur sama. Biasanya digambarkan ada suami atau istri yang jahat. Ketika suaminya yang jahat, istrinya digambarkan baik dan sabar.

Atau ada orangtua yang sangat baik mempunyai anak yang bermoral bejat. Begitu sebaliknya. Ujung-ujungnya si jahat kualat menjelang ajal. Entah sakit kulit yang menjijikkan, kulitnya melepuh, menghitam, keluar air dari seluruh tubuhnya, dan tersiksa saat sakaratul maut. Setelah didoakan ustad, barulah mereka bisa meninggal dengan tenang. Atau pada kasus lain si jahat setelah meninggal mayitnya dikerubuti belatung, singgat, ular, ulat, dan binatang-binatang menjijikkan lainnya.
Petuah-petuah...
Di sela-sela atau diakhir tayangan biasanya muncul ustad atau ustadzah yang memberi petuah-petuah agama tentang tayangan-tayangan tersebut. Mungkin karena kekeringan ide, belakangan cerita-cerita sinetron religius diangkat dari berita-berita di media massa. Seperti kasus munculnya kawat-kawat aneh di perut, cerita para pengoplos BBM, atau kasus penjual daging yang memanfaatkan daging-daging sampah. Mungkin para pembuat sinetron ingin menyampaikan pesan bahwa kejahatan dalam bentuk apapun akan berakibat buruk bagi si pelaku. Sayangnya penggambaran cerita yang serampangan, asal kena, dan kadang-kadang ngawur malah merusak pesan yang ingin disampaikan. Dalam batas-batas tertentu naskah cerita justru menunjukkan kedangkalan para pembuat sinetron dalam memahami agama. Alur cerita bukan memberikan pencerahan pemirsa melainkan malaj meredusir keagungan agama itu sendiri. Agama seolah identik dengan hal-hal aneh yang cenderung mistik.

Tasbih para ustad bisa berubah wujud, bacaan ayat-ayat suci seolah sekadar pengusir hantu pocong, pengusir belatung, singgat, ular, dsb.
Tayangan berjudul “Raja Sawer” di TPI beberapa hari lalu sungguh membikin saya geleng-geleng kepala. Sinetron ini menggambarkan seorang suami yang jahat. Dia tukang mabuk, tukang sawer di acara tayub. Si suami ini juga punya usaha menjadi penimbun BBM. Dokumen-dokumen perusahaannya semua diatasnamakan istrinya, termasuk dalam menandatangani surat-menyurat. Saat usahanya digerebek polisi, istrinya yang rajin beribadah itu justru yang ditahan.

Saat di kantor polisi, dua orang anaknya memohon ibunya berkata apa adanya kepada petugas, bahwa usahanya itu adalah ulah bapaknya. Bapaknyalah yang harus dihukum. Apa kata sang Ibu?. “Tidak nak. Bagaimanapun bapakmu itu kepala rumah tangga. Dan melindungi suami yang jahat adalah bagian dari ibadah, sebagai wujud ketaatan istri pada suami.” Yah..sebuah pesan agama yang bertentangan dengan akal sehat. Melindungi suami jahat kok ibadah…Wajar jika hingga Desember 2007, dari 1126 aduan yang masuk ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tayangan religi dan mistik menempati jumlah terbesar setelah pornografi dan tayangan kekerasan.
Tanpa mengesampingkan tayangan religi yang mencerdaskan, perlu kiranya para pengelola TV untuk merenung. Jangan hanya karena mengejar uang, Anda mengorbankan jutaan generasi masa depan. Jangan hanya karena mengejar rating, kau jadikan agama sekadar bahan jualan. Jika Anda mau berpikir, masih terbuka peluang berkreasi secara cerdas tanpa mengorbankan kesucian agama…

Solo, 25 Oktober 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s