Agama

Sabar (tak) Ada Batasnya…

Sabar adalah kata yang terlalu sering kita ucapkan dan terlalu sering pula kita dengar. Sabar sering kita ucapkan kepada orang lain manakala mereka sedang menerima musibah. Nasihat itu kita sampaikan agar orang lain menerima musibah dengan lapang dada, tetap berada dalam kepasrahan kepada Allah seberat apapun ujian itu. Nasihat yang sama juga sering kita terima kala kita sedang menghadapi masalah.
Sabar menurut Imam Ghozali adalah “memilih untuk melakukan perintah agama ketika desakan hawa nafsu datang.” Artinya kalau nafsu menuntut kita untuk berbuat sesuatu, tetapi kita memilih kepada yang dikehendaki Allah, maka di situ ada kesabaran. Tidak ada kesabaran, misalnya, kalau kita ini didesak oleh nafsu lalu memenuhi tuntutan nafsu itu (Jalaluddin Rahmat, 2002). Penelusuran yang saya lakukan di Alquran Digital (silakan dikoreksi kalau salah), kata sabar dijumpai pada 92 item dengan berbagai bentuk pengertian. Dari beberapa ayat bisa ditarik benang merah bahwa sabar selalu terkait dengan musibah, sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Sungguh, kami pasti akan terus menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya). Merekah itulah yang mendapat banyak keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan (pendidik dan pemelihara) mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah : 155-157).
Dalam pengertian sehari-hari sering kita tidak pas dalam memaknai kesabaran. Seorang kawan pernah bercerita kepada saya. Sewaktu dia mengalami demam, oleh dokter dia diminta melakukan check up darah di sebuah laboratorium. Petugas menjanjikan dalam waktu satu jam hasilnya bisa diketahui. Setelah satu jam berlalu, ternyata hasilnya ternyata belum jadi. Petugas laboratorium meminta agar ditunggu sebentar lagi. Setelah ditunggu-tunggu hingga dua jam, hasil pemeriksaan darah belum juga kelar. “Terus terang saya marah sama petugas. Bagaimanapun sabar itu ada batasnya,” begitu ceritanya kepada saya. Saya yakin kita pun sering mendengar pernyataan serupa dari orang lain. Atau jangan-jangan kita sendiri pun sering mengungkapkannya. Jika dikembalikan kepada makna sabar seperti di atas, sebenarnya kesabaran tidak ada batasnya. Kita sendiri yang justru membatasi kesabaran kita. Semakin berat musibah yang kita terima, semarah apapun perasaan yang kita rasakan, sesulit apapun persoalan yang kita hadapi, maka semakin besar pula desakan untuk terus bersabar. Bukanlah Allah tidak akan menguji suatu kaum kecuali sesuai batas kemampuannya?
Seperti cerita kawan saya di atas. Ketika dia merasa dipermainkan petugas, membuat dia jengkel, dia memilih mengikuti hawa nafsunya untuk marah ketimbang menuruti perintah agama untuk terus menahan diri. Kalau kita mau jujur sebenarnya ujian yang dihadapi kawan saya tadi masih dalam batas kemampuannya. Dalih “sabar ada batasnya” perlu dipertanyakan. Boleh jadi pernyataan itu sekadar alasan untuk menutupi sikap ketidaksabarannya.
Jika Anda sedang diuji oleh Allah, jika Anda sedang menghadapi orang-orang menyebalkan, jika Anda dikhianati pacar Anda, jika Anda ditinggal selingkuh pasangan hidup hidup, apakah Anda juga akan mengatakan “sabar ada batasnya”? Kalau Anda menjawab “ya”, boleh jadi rahmat Allah sedang menjauhi diri Anda…

Solo, 07 Oktober 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s