Sosial

Premanisme…

Begitu genderang perang terhadap preman ditabuh Kapolri Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri, sudah ribuan preman berhasil ditangkap polisi. Sebagai sebuah langkah awal, tentu gebrakan ini patut kita apresiasi. Meski bisa dibilang terlambat, operasi ini bagus guna menekan aksi para preman. Keberadaan mereka selama ini seolah-olah tidak tersentuh hukum. Ujung-ujungnya aikap permisive aparat terhadap preman ini berdampak luas. Timbul persepsi seolah-olah memalak, memeras, sebagai perilaku wajar dan sah.
Operasi ini akan berhasil dengan baik jika tidak hanya hangat-hangat tahi ayam. Serius di depan, loyo di belakang. Mestinya polisi tak hanya membekuk preman-preman kelas teri, jaringan preman yang terorganisir juga harus diterus dibongkar sampai ke akar-akarnya. Tak peduli “orang-orang penting” berada di belakang mereka. Jika komitmen Kapolri dilakukan secara konsisten, saya yakin rasa aman masyarakat akan semakin baik.
Preman adalah sebutan untuk orang-orang jahat, seperti perampok, pemalak, pemeras. Vrijmen (bahasa Belanda) adalah kata dasar preman yang berarti “orang bebas”. Ada juga yang menyebut dari kata free man. Mengapa disebut “orang bebas”? Karena preman merasa bisa bertindak apa saja secara bebas. Tak peduli melanggar batas-batas norma dan hukum. Dalam beberapa hal kata “preman” memang bisa bermakna lain. Misalnya, “polisi berpakaian preman”, yang berarti polisi yang tidak berseragam atau polisi berpakaian sipil. Tentu makna lain lagi dengan istilah “preman berseragam”. Saya berharap operasi Pak Polisi ini tidak hanya berhenti memberantas para preman jalanan, melainkan terus digalakkan dengan memerangi fenomena premanisme. Tentu ini bukan hanya tugas Pak Polisi semata. Semua individu punya kewajiban mencegah timbulnya premanisme, lantaran begitu luasnya spektrum premanisme. Tangan polisi tak kan mampu menjangkau semuanya tanpa partisipasi masyarakat. Secara nyata premanisme tak kalah berbahaya dengan preman. Premanisme menunjuk pada sikap, ideologi, tindakan yang dilakukan seseorang layaknya perilaku preman.
Premanisme adalah sikap, tindakan yang merebut hak orang lain secara tidak sah, baik itu menyangkut hak ekonomi, sosial, budaya (ekosob), seperti hak memperoleh rasa aman, hak mendapatkan kemerdekaan, hak mendapatkan kehidupan dan penghidupan yang layak, hak untuk bekerja secara nyaman. Premanisme bisa dilakukan siapa saja, tanpa memandang status, kedudukan, pendidikan, jenis kelamin, agama. Premanisme tidak hanya dilakukan orang-orang jalanan, bertampang sangar, bertato, suka mabuk. Siapaun bisa. Orang-orang berdasi, berkulit bersih, taat beribadah, berpakaian “agamis”, pejabat, suami terhadap istri (atau sebaliknya), orangtua terhadap anak (atau sebaliknya) bahkan dilakukan oleh negara sekallipun. Faktor ekonomi, kekuasaan (politik), atau agama menjadi beberapa faktor yang mendorong aksi premanisme.
Karena menyangkut sikap, perilaku, budaya, dan keyakinan, premanisme memang lebih sulit untuk diberantas. Apalagi para pelaku premanisme kadang-kadang tidak sadar akan tindakanya sebagai bagian dari premanisme. Ini yang susah. Orang sering menyebut premanisme sebagai gray area atau wilayah abu-abu, lebih sulit teridentifikasi. Kepintaran “membungkus” dengan berbagai selimut dan keyakinan, bisa-bisa malah membelokkan fakta sebenarnya. Karena itu perlu proses dan pemahaman yang panjang untuk mengubah paradigma berpikir seseorang. Kasus eksekusi Amrozi Cs beberapa hari lalu menjadi contoh proses pembelokan fakta. Meledakkan bom adalah tindakan premanisme, karena telah mengkoyak hak orang lain. Hak untuk tidak diganggu, hak untuk hidup, hak untuk merasa aman dan nyaman. Sayangnya sebagian orang justru menganggap para bomber sebagai pahlawan. Sekali lagi : selimut…
Kalau kita mau jeli, sebenarnya begitu banyak aksi premanisme di sekitar kita. Suami menampar istri atau orangtua membentak anak, sehingga si anak ketakutan, juga bagian dari premanisme. Bukankah saat kita membentak anak, kita telah merebut hak anak untuk bebas dari rasa takut? Toh itu tidak ada bedanya dengan preman jalanan yang membentak korban kalau tak mau memberinya uang? Suami yang kawin lagi tanpa restu istri pertama juga tindakan premanisme, karena si suami telah merebut hak istri untuk tidak disakiti. Tapi sadarkah kita hal-hal “sepele” tersebut bagian dari premanisme? Kekerasan dalam berbagai manifestasinya adalah bentuk perampokan atas hak orang lain, apapun dalihnya. Sebab itu, sebagai bagian dari perang terhadap premanisme, ada baiknya kita mengaca pada pribadi kita masing-masing. Boleh jadi (entah sadar atau tidak) kita juga menjadi bagian dari premanisme…

Solo, 18 November 2008

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s