Agama

Memaknai Keikhlasan…

Sewaktu masih menjalani profesi (lebih tepatnya buruh) sebagai jurnalis, sudah tidak terhitung berapa kali saya menerima tawaran amplop dari nara sumber. Alhamdulillah selama empat tahun jadi jurnalis belum pernah tergoda menerima amplop (suap). Selain melanggar etika jurnalistik, secara pribadi saya menilai amplop sebagai bentuk pelecehan profesi. Seolah-olah nilai profesi jurnalis hanya seharga sebuah amplop.

Karena itu dengan berbagai cara saya lakukan untuk menolak “kemurahan hati” para nara sumber. Kalaupun situasi tak memungkinkan untuk mengelak, amplop saya terima dan dikembalikan lagi ke si pemberi lewat kantor. Ini menjadi standar aturan di kantor saya dalam soal amplop. Tidak jarang narasumber setengah memaksa dalam memberi. Entah pemberian itu dikatakan sebagai bentuk persahatan, tidak bermaksud apa-apa, sebagai ucapan terima kasih, sebagai ganti uang transpor, dsb. Sebagian dari nara sumber juga mengatakan,”Saya ikhlas, saya ikhlas…saya tidak ada kepentingan apa-apa kok mas…,” rayunya sambil menyodor-nyodorkan amplopnya.
Ikhlas? Mereka benar-benar ikhlas dalam memberi? Tidak ada kepentingan sama sekali? Kalau memang ikhlas dan tidak ada kepentingan, mengapa amplop itu tidak diberikan kepada orang-orang yang lebih berhak? Para pengemis, gelandangan, dan kaum papa lainnya? Mengapa justru diberikan kepada wartawan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang acapkali lewat dalam pikiran saya, meski saya tidak memungkiri ada juga jurnalis-jurnalis tengik (kata tengik saya adopsi dari istilah politisi tengik yang digunakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi) yang kerjanya cari sogokan dari nara sumber.
Saya akui terlalu sulit memang memaknai kata ikhlas, sesulit kita untuk bersikap ikhlas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ikhlas adalah bersih hati, tulus hati. Mengikhlaskan berarti memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati. Jalaluddin Rahmat (saya sering mengutip pendapatnya karena saya termasuk pengagum pikiran-pikirannya) menggambarkan ikhlas seperti dalam doa iftitah dalam salat. “Sesungguhnya salatku, pengurbananku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian alam (lillahi rabbil alamiin).” Apa artinya lillah? Ada tiga makna “lillah”, yakni karena Allah, untuk Allah, dan kepunyaan Allah. Makna-makna ini, kata Jalaluddin, sekaligus merupakan tingkat keikhlasan seseorang. Jadi ikhlas jika kita melakukan sesuatu karena Allah, atau untuk Allah, atau kepunyaan Allah. Perbuatan yang kita lakukan untuk Allah menjadi tingkat ikhlas yang paling tinggi. Allah juga melukiskan orang ikhlas ketika berkata, “Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian karena Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih.” (QS 76 : 9)
Kerelaan
Ikhlas bisa diartikan sebuah perilaku, perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk membuat, mencari kesan orang lain terhadap diri kita, melainkan semata-mata perbuatan itu untuk mencari rida atau kerelaan Allah. Ketika kita cemberut setelah memberi uang kepada pengemis karena si pengemis langsung nylonong pergi tanpa berterimakasih, menjadi salah satu tanda kita tidak ikhlas karena kita berharap ucapan terimakasih dari pengemis. Kalau benar-benar ikhlas, entah si pengemis mengucapkan terimakasih atau tidak, sikap kita tidak berubah dalam mencari keridoan Allah. Karena yang kita cari sejatinya kesan Allah, bukan kesan dari sesama.
Ikhlas adalah sesuatu yang sangat privat, menyangkut interaksi kita langsung dengan yang di Atas. Boleh jadi kita sendiri juga tidak tahu apakah dalam melakukan sesuatu kita ikhlas atau tidak. Sebab yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk menjadi ikhlas. Apakah usaha kita berhasil atau tidak, hanya Allah sendiri yang tahu. Ucapan dari narasumber “Saya ikhlas…” di atas tidak menjamin keikhlasan seseorang. Sebaliknya dengan mengatakan “saya ikhlas”, sadar atau tidak pada hakekatnya seseorang sedang mencari kesan, keyakinan, pengakuan dari orang lain bahwa dirinya ikhlas. Sebuah sikap yang bertentangan dengan hakekat ikhlas itu sendiri. Seperti halnya ketulusan, keikhlasan letaknya di dalam hati. Saat kita ungkapkan melalui lisan, hilang sudah substansi keikhlasannya.
Lantas bagaimana dengan Anda? Apakah masih ingin mengungkapkan kata-kata “Saya ikhlas…” saat melakukan sesuatu? Boleh jadi Anda sedang mempertontonkan ketidakikhlasan Anda kepada orang lain…

Solo, 09 Oktober 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s