Media

Cover Both Sides…

Berita eksekusi trio bomber Bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Ghufron (Mukhlas) tak lagi menghiasi media massa di Tanah Air. Dalam beberapa pekan terakhir, media seolah tak pernah luput memberitakan hari-hari menjelang hingga pelaksanaan eksekusi mati. Hanya berita kemenangan Barack Obama di Pemilu AS pada 4 Oktober lalu yang sempat menggeser headline pemberitaan media. Setelah itu media kembali gegap gempita. Hanya Kompas yang terlihat tidak “bergairah” memberitakannya. Pada edisi Minggu (9/11), Kompas menjadi satu-satunya koran yang tidak memuat berita eksekusi. Padahal bagi media lain momen itu yang justru ditunggu-tunggu. Hampir semua koran nasional menempatkan berita eksekusi sebagai berita utama.
Ada satu hal yang patut direnungkan terkait pemberitaan eksekusi pelaku Bom Bali. Blow up media ternyata berbuntut panjang. Meski pemberitaan eksekusi Bom Bali meredup, bukan berarti dampak pemberitaan ikutan meredup. Entah disadari atau tidak, pemberitaan besar-besaran media telah menggeser posisi Amrozi Cs dari seorang pembunuh berdarah dingin seolah-olah menjadi sosok hero, syuhada, orang yang mati syahid di jalan Tuhan. Kesan itu bisa muncul karena media lupa menerapkan satu kaidah yang sangat penting dalam jurnalisme : cover both side. Prinsip yang menuntut media menyajikan fakta dari dua sisi secara seimbang. Pemberitaan yang meng-cover dari dua sudut ini dimaksudkan agar pihak-pihak yang terlibat dalam berita tak ada yang merasa dirugikan.
Dalam kasus eksekusi Bom Bali, media agaknya lupa (atau pura-pura lupa?), bahwa ada side lain yang tidak mendapatkan porsi secara wajar. Orang-orang yang menjadi korban kebiadaban terpidana mati, seolah menjadi sudut (angle) yang tidak menarik. Umumnya media hanya melihat fakta itu dari satu sudut saja, sisi kehidupan Amrozi Cs dan orang-orang yang “seperjuangan”. Konstruksi media tersebut tentu “menyesatkan” audiens. Fakta-fakta yang tersaji di media malah berpihak kepada terpidana. Seolah-olah Amrozi Cs adalah korban. Dan yang paling menyakitkan, pemberitaan media yang over dosis justru menempatkan para terpidana mati itu seperti sosok pejuang. Kamera TV menangkap dengan jelas orang-orang dengan tangan mengepal sambil mengumandangkan kalimat-kalimat suci kala menyambut dan mengiringi jenazah Amrozi Cs. Sambutan yang hanya pantas buat pahlawan yang gugur di medan laga.

Kameramen TV tulisan besar di makam para terpidana : “Makam pejuang Islam”. Saya tidak ingin berdebat apakah Amrozi Cs mati sebagai pahlawan atau pecundang, syuhada atau mati konyol, karena ini bukan wilayah kemanusiaan, melainkan masuk dalam ranah Tuhan. Yang justru saya pikirkan adalah bagaimana perasaan para korban Bom Bali ketika melihat tayangan-tayangan itu. Mereka yang kehilangan orangtua, sanak saudara, atau anak-anak yang terkasih. Mereka yang terpaksa hidup secara tak “normal” karena cacat seumur hidup. Apa yang mereka rasakan ketika para pengebom itu justru disanjung-sanjung bak manusia superhero? Apakah hatinya tidak tersayat? Apakah mereka tidak menangis? Saya yang bukan korban langsung pun rasanya ingin berontak melihat realitas yang tersaji dilayar kaca. Kalau para pengebom disebut syuhada (orang yang mati di jalan Allah), lantas sebutan apa yang pantas bagi para korban?.

Media juga memuat tim pengacara Amrozi Cs yang mempersoalkan dugaan pelanggaran HAM saat pelaksanaan eksekusi. Boleh-boleh saja media menyoroti hal-hal yang dinilai tak beres dalam pelaksanaan eksekusi, namun apakah media tidak ingat saat trio bomber itu mengeksekusi ratusan orang di Bali 2002 silam? Bukankah itu pelanggaran HAM yang maha dahsyat? Sisi kehidupan para korban, suara para korban luput dari perhatian media. Mereka diperlakukan sebagai bukan pihak yang “terlibat” dalam realitas berita. Dampak lebih jauh fakta yang ditampilkan pun bias.
Kini, tiga pengebom itu telah dihadapkan ke Sang Khalik. Saatnya mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan. PR yang tersisa : menyembuhkan mereka yang terluka akibat pemberitaan. Siapa yang bertanggungjawab?…

Solo, 12 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s