Media

Cermin Masyarakat yang Sakit…

Harian Kompas Minggu (16/11) menurunkan liputan yang menurut saya menarik. Laporan bertema Olok-olok soal privasi mengulas maraknya tayangan televisi yang mengungkap persoalan-persoalan pribadi kepada khalayak. Selain berbentuk program reality show, infotainmen menjadi program TV yang paling getol memburu gosip pribadi para selebriti.

Sejatinya bukan kali ini saja wacana tersebut diberdebatkan. Sejak tayangan infotainmen mulai marak di TV, perdebatan sudah mengemuka. Ormas Nahdlatul Ulama (NU) bahkan mengharamkan infotainmen. Saya sangat mendukung fatwa ulama NU ini. Dalam bahasa agama, acara infotainmen, khususnya yang mengusik-usik urusan pribadi orang, bisa dikategorikan sebagai ghibah (menggunjing). Sesuatu yang dilarang dalam agama. Toh demikian, meski dikritik banyak orang, program infotainmen bukannya hilang dari layar kaca. Dari ke hari malah makin menjadi-jadi. Mengapa ini bisa terjadi? ada kepentingan apa di balik semua ini? Hal inilah yang menjadi bahan renungan bersama.

Pada hakekatnya urusan pacaran, perkawinan, konflik rumah tangga, kawin cerai, perpindahan agama menjadi persoalan yang mestinya ditutupi. Dalam budaya masyarakat kita, saat orang mempunyai masalah pribadi, orang cenderung malu menyampaikannya kepada publik. Kalaupun toh diceritakan, boleh jadi hanya kepada orang-orang tertentu yang memang bisa dipercaya. Atau kepada para konselor, psikolog, atau konsultan pribadi yang memang berkompeten menangani dan mencari jalan keluar. Dalam perkembangannya, budaya malu mulai bergeser.

Apalagi setelah kepentingan uang mulai masuk. Hal-hal pribadi bukan lagi menjadi hal yang tidak elok, tidak pantas, atau tidak sopan. Sebaliknya menjadi ladang baru untuk mengeruk keuntungan. Terlebih lagi yang punya masalah pribadi adalah para pesohor, selebriti, atau orang-orang yang dikenal publik. Jelas ini kemedol atau punya nilai jual tinggi. Proses kapitalisasi gosip ini kian merajalela. Tak heran hampir tiap hari tayangan gosip, ganti-ganti pacar, hingga soal kawin cerai bisa kita saksikan di hampir semua stasiun TV. Para selebiriti sepertinya tak malu lagi urusan di atas ranjang ditonton jutaan orang. Setali tiga uang, publik pun ternyata menyukainya. Jika rating dijadikan tolok ukur, setiap tayangan infotaimen ditonton 3,5 juta pasang mata. Jika satu isu ditayangkan 5 stasiun TV, maka tinggal mengalikan saja (17,5 juta orang).

Biasanya, satu isu tak hanya satu kali tayang. Kadang-kadang bisa diulas berulangkali. Siapa yang untung? Tentu para pengelola production house (PH) dan pengelola TV. Tak heran jika para “wartawan” infotainmen menempuh segala cara untuk bisa mengungkap hal-hal pribadi para selebriti. Tak perduli cara yang dilakukan melanggar kode etik jurnalistik.
Tak peduli lagi mana fakta dan mana opini, tak tahu lagi mana fakta mana gosip, isu, bahkan fitnah. Tak tahu mana kepentingan publik dan kepentingan privat, mengorek informasi dengan cara memaksa nara sumber, menembus batas-batas wilayah pribadi hingga kamar tidur sekalipun. Dalam konflik antara Kiki Fatmala dan ibunya, Farida misalnya. Aksi saling cakar antara ibu dan anak dilakukan di kamar tidur. Bagaimana mungkin kameramen infotainmen bisa mengambil gambar di kamar tidur? Bukankah kamar tidur menjadi tempat paling privacy? Entahlah, para selebriti itu sadar atau tidak. Ketika mereka menyampaikan konflik rumah tangganya kepada publik, hakekatnya mereka sedang dieksplotasi demi kepentingan uang. Saya kadang-kadang curiga terhadap sikap permisif selebriti, jangan-jangan mereka ikut diuntungkan? Untuk popularitas, misalnya? Wallahu’alam…
Mungkin inilah cermin masyarakat yang sedang “sakit”. Yang memandang urusan pribadi bukan lagi hal tabu untuk dipertontonkan. Tentu saja ini sebuah anomali (penyimpangan) jika dilihat dari pranata-pranata sosial yang berlaku secara umum. Meski saya masih yakin, sebagian besar masyarakat kita masih memandang hal itu sebagai sesuatu yang tabu. Sekali lagi, menggunjing ketidakberesan orang lain sesuatu yang terlarang. Kecuali Anda menggunjing kebrengsekan para penguasa yang zalim…

Solo, 17 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s