Media

Berempati Pada Korban

Kasus perkawinan Syech Puji dengan gadis di bawah umur, Bunga (bukan nama sebenarnya), menjadi kabar menarik, baik media elektronik maupun media cetak. Kasusnya yang unik menjadi sesuatu yang bernilai news. Wajar kiranya bila media seolah mendapatkan santapan berita menarik. Di satu sisi saya mengapresiasi media yang mengekspos besar-besaran kasus ini.
Dengan begitu kita jadi tahu “kebusukan” Syech Puji. Saya tidak bisa membayangkan jika media tidak memberitakan. Boleh jadi kita tidak akan pernah tahu. Polisi mungkin tidak akan membawa kasus ini ke dalam ranah hukum. Di balik gencarnya pemberitaan media, entah disadari atau tidak, media sebenarnya telah membuat “korban” baru, dalam hal ini Bunga.
Media selama ini memberitakan Bunga apa adanya. Identitas pribadi seperti nama, rumah orangtua, asal sekolah, bahkan fotonya dipampangkan di koran maupun televisi secara berulang-ulang. Pemberitaan besar-besaran ini dipastikan akan berdampak psikologis yang luar biasa bagi Bunga, baik saat ini maupun ke depannya nanti. Saya memperkirakan di manapun dia berada, hidupnya tidak tenang. Orang lain pasti akan melihatnya dengan tatapan “aneh”. Lantas bagaimana dengan nasib masa depannya nanti? Apakah Bunga tidak akan trauma akan kasus yang menimpanya? Bisa dipahami jika Bunga langsung shock saat tahu perkawinannya dengan pengusaha kaya itu diekspos media. Bisa jadi saat inipun dia masih mengalami perasaan seperti itu. Bunga adalah korban. Melihat umurnya yang masih belia, saya yakin perkawinan itu bukan atas kemauanya. Ada orang-orang menjerumuskannya ke dalam dunia yang belum saatnya dia jalani.
Padahal dalam kaidah jurnalistik, kasus yang menimpa anak-anak identitas pribadi tak boleh disiarkan, baik anak-anak sebagai pelaku kejahatan, terlebih sebagai korban seperti Bunga. Kaidah ini semata-mata agar masa depan si anak tidak terganggu dengan kasus yang menimpanya. Bagaimanapun masa depan anak-anak itu masih panjang. Jika dalam usia dini mereka sudah berkasus, dikhawatirkan nasib si anak di masa datang akan terganggu. Sayangnya sebagian jurnalis tidak memahami kaidah ini. Mereka kadang-kadang mengekspos seenaknya, tidak berpikir akan akibatnya. Dalam kasus ini posisi Bunga memang menjadi sulit. Meskipun Syech Puji diseret ke pengadilan, perkawinannya dibatalkan, Bunga dikembalikan ke orangtua dan sekolah lagi, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mungkin perlu pendampingan psikologis agar Bunga kembali mendapatkan “dunianya”.
Bagi jurnalis, hati-hatilah dalam menulis. Pena Anda sangat tajam. Setiap untaian kata/gambar yang Anda buat, bakal berdampak amat dahsyat. Gunakan nurani dan akal sehatmu..asahlah perasaan empatimu kepada korban. Cukuplah Bunga yang menjadi korban terakhirmu…
Solo, 31 Oktober 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s