Agama

Andai Tiap Hari Beriedul Fitri…

Pesan mendalam dari perayaan Idul Fitri adalah adanya kerelalan kita untuk saling maaf memaafkan. Dalam Idul Fitri semua bentuk kasta seolah lebur. Atasan tak malu-malu mengakui kekhilafannya dan minta maaf kepada bawahan. Seorang presiden secara terbuka meminta maaf kepada rakyatnya atas kekurangannya dalam memimpin negara. Suami tak sungkan meminta maaf kepada anak dan istri tercintanya. Begitu kebalikannya.
Jarang mereka mau meminta maaf secara terbuka jika di luar momen Idul Fitri. Persoalan apakah permintaan maaf itu benar-benar keluar dari hati atau sekadar pemanis bibir, wallahu’alam. Saya tidak mau bersu’udzon. Saya hanya memandang fenomena maaf-memaafkan dari sudut positif. Sebuah tradisi indah khas Indonesia yang tidak kita temukan di negeri para Nabi, di Arab sana.
Saya membayangkan andaikata tradisi ini bisa kita lakukan tiap hari di luar Idul Fitri, maka ini akan menjadi awal yang sangat anggun guna membangun keharmonisan hidup. Harus diakui, kendati benar-benar mengakui kesalahannya pun orang sangat berat secara ikhlas meminta maaf. Meski orang lain sudah minta maaf pun kita kadang-kadang juga enggan memaafkan. Entah karena malu, entah karena tidak ingin mengorbankan harga diri, entah karena tidak ingin kehilangan muka, atau karena entah entah yang lain.
Saya masih ingat saat terjadi tragedi katering Haji dua tahun silam. Begitu banyak dan besar desakan publik agar pejabat yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan haji meminta maaf. Bukannya langsung meminta maaf seketika itu juga, dengan beribu apologi mereka mencoba berkelit. Kalaupun pun toh akhirnya minta maaf setelah posisinya terjepit dan tidak bisa mengelak lagi. Itulah watak para pejabat kita.
Watak bebal ini entah disadari atau tidak juga sering kita alami sendiri. Ketika Anda seorang atasan jelas-jelas salah pun sulit mau minta maaf saat itu juga kepada bawahan. Ketika Anda seorang staf melakukan keteledoran, pernahkah Anda secara suka rela minta maaf sebelum ketahuan kesalahan Anda? Bukannya minta maaf sering kali kita justru mencari pembenaran atas tindakan-tindakan kita. Sebagai orangtua pernahkah Anda minta maaf kepada anak-anak Anda saat Anda melakukan kesalahan? Pernahkan kita langsung memaafkan pembantu kita yang tak sengaja memecahkan piring saat mencuci? Boleh jadi kita akan marah-marah, menuduh pembantu ceroboh, tidak hati-hati, menghabiskan piring, dsb.
Sisi kemanusiaan seperti ini yang kadang mengganjal relasi antarsesama kita. Orang lebih suka marah-marah ketimbang memaafkan. Seolah dengan marah semua masalah selesai. Ketika sedang marahi orang lain kita tak sadar kita pun sebenarnya sering melakukan kesalahan yang sama. ups..betapa tidak konsistennya kita. Kalau dipikir, apa sih manfaatnya marah-marah? Kita tidak akan dapat apa-apa kecuali kepuasan karena bisa balas dendam. Benar, marah adalah sisi kemanusiaan yang tidak bisa dihindari. Orang paling sempurna di dunia ini Muhammad pun bisa dan pernah marah. Namun kasih sayang Nabi lebih menonjol ketimbang rasa amarahnya. Ketika Nabi marah kepada istrinya ia paling banter mencubit hidung istrinya, tidak lebih. Tidak ada dalam riwayat Rasulullah marah-marah meski dihina dan dilecehkan. Nabi lebih suka memaafkan ketimbang balas dendam. Marah adalah wajar. Tapi kalau marah diwujudkan dalam bentuk marah-marah, hakekatnya kita sedang mengikuti kehendak hawa nafsu.
Tradisi agung tiap Idul Fitri ini perlu terus didorong untuk menjadi watak kita di luar momentum Idul Fitri. Memaafkan tanpa orang lain minta maaf, memberi maaf tanpa orang lain minta maaf. Jika sikap ini bisa kita bangun, oh..betapa indah kehidupan ini.
Pada momentum Idul Fitri ini dari lubuk hati paling dalam saya mohon maaf kepada semua kawan, komunitas MP, sekiranya postingan atau komentar-komentar saya tidak berkenan. Sungguh tidak ada niat setitik pun dalam benak saya untuk menyakiti orang lain. Kalaupun ada yang tersinggung itu semata-mata karena ketololan diri saya…
SELAMAT IDUL FITRI, Taqabbalallahu minna waminkum taqabbal ya kariim. Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Solo, 25 September 2008
Salam damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s