Uncategorized

Spiritualitas tidak sebatas teks…

Menjelang Ramadan tahun ini, seperti tahun sebelumnya, puluhan SMS mampir ke Ponsel saya. Isinya macem-macem. Ada ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, doa agar puasa yang kita diterima Allah SWT, mohon dimaafkan lahir dan batin. Meskipun, untuk yang terakhir ini, kadang-kadang saya bingung mau memaafkan apanya karena di antara kawan-kawan yang mengirim SMS praktis tidak pernah kontak, apalagi ketemu dalam satu tahun terakhir. Saya tidak merasa kawan saya itu punya kesalahan atau dosa. Tapi, baiklah, apapun saya sangat menghargai SMS kawan-kawan.

Tak hanya di Ponsel, status facebook(FB) yang menjadi kontak saya pun mayoritas berisi pesan-pesan Ramadan. Saya tidak bisa menyebut satu-persatu. Seorang kawan di FB terheran-heran karena hampir semua  status kawannya selalu terkait Ramadan.

Dan, bukan hanya saat  Ramadan, setiap hari saya temukan ungkapan rasa syukur, menikmati rahmat Allah yang tiada tara, diberi keluarga yang bahagia, doa-doa, kutipan ayat suci, kutipan mutiara hadis, dll. Kadang saya berpikir, “Oh betapa religius kawan-kawan saya itu”. Setiap menerima nikmat, musibah, atau apapun selalu mengingat nama Allah.

Realitas  di atas menjadi salah satu contoh betapa masyarakat kita sebenarnya kaya akan nilai-nilai spiritualitas.  Di setiap Ramadan, betapa marak masyarakat kita menyambutnya. Orang mau pergi haji harus antre dalam waiting list, paling tidak dua tahun sebelumnya. Buku-buku tentang agama dalam berbagai judul laris manis. Stasiun TV tak ketinggalan berlomba membuat program keagamaan. Orang berjilbab, berjubah, bercelana cingkrang sebagai “pakaian agama”, bisa kita temukan di setiap tempat.

Namun, di balik maraknya fenomena religiusitas masyarakat, ada hal yang membikin  gelisah. Kadang saya berpikir, sebenarnya kurang agamis apanya sih kita ini? Tapi mengapa bentuk penyimpangan, penyelewengan, perilaku amoral masih terjadi di sekeliling kita? Kita sering menyebut nama Allah, tapi mengapa perilaku kita seperti kita tidak mengenal Allah? Bahkan ada saudara-saudara kita yang berbuat tidak terpuji justru di balik pernyataan atas nama Allah? Mengapa spiritualitas kita sebatas teks? Ungkapan, tulisan dan pernyataan-pernyataan lainnya? Mengapa seperti ada jarak yang jauh antara ajaran teologi agama dengan konteks sosiologis? Seolah ada jurang pemisah antara keyakinan keagamaan dengan pengamalan nilai-nilai? Bukankah spiritualitas selalu menuntut implementasi?

Dalam  pemahaman saya, agama tidak sebatas berisi keyakinan. Tuhan pun tidak sebatas untuk disebut, disembah dan diagungkan. Toh tanpa disebut dan diagungkan pun Tuhan akan tetap Maha Agung. Yang lebih penting, spiritulitas itu menuntut konsistensi dalam perilaku. Tidak sebatas mengungkapkannya dalam bentuk teks. Lebih utama lagi mengamalkannya dalam perilaku. Bagi saya, tidak begitu penting, misalnya, ketika orang menerima nikmat, kemudian dia mengungkapkan secara verbal “Saya bersyukur…”. Begitu pula tidak begitu urgen ketika seseorang memberi sesuatu kepada orang lain dengan mengungkapkan “Saya ikhlas…” Atau ungkapan kesabaran ketika menerima musibah. Bagi saya, justru ajaran-ajaran indah itu bisa berkurang maknanya kalau kita ungkapkan. Karena yang  lebih penting bagaimana  mengimplementasikannnya rasa syukur, ikhlas dan sabar itu ke dalam perilaku nyata. Buat apa kita bilang bersyukur, ikhlas, dan sabar kalau perilaku kita tak sejalan dengan ungkapan itu? Percuma bukan?…

Buat saya, spiritualitas yang paling penting adalah menghadirkan Tuhan ke dalam perilaku. Kesadaran bahwa Allah selalu hadir, menyatu dengan kita, sangat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Syech Siti Jenar menyebut manunggaling kawulo lan gusti. Pengakuan akan hadirnya Tuhan dalam diri kita akan menjadi kontrol yang kuat. Nilai-nilai ketuhanan akan selalu mewarnai langkah kita, saat berada dalam situasi dan kondisi apapun. Dus, agama akan menjadi kekuatan moral yang mendorong pemeluknya untuk selalu di jalan yang benar. Secara demikian hadirnya agama benar-benar kita rasakan. Jangan sampai timbul gugatan, pertanyaan nakal. Apa sebenarnya perbedaan orang beragama dengan yang tidak?  Orang yang mengakui Tuhan dengan orang yang mengingkari-Nya? Kalau toh perilakunya setali tiga uang?

Ingat, beragama tidak cukup sebatas teks, tapi, konteks….!

Solo, 06 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s