Uncategorized

Sorban

Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata ”sorban” bukanlah kata baru. Perbendaharaan kata ini sudah sejak lama kita kenal. Saya tidak tahu persis kapan kata ini mulai dipakai. Tapi, baru-baru ini saja kata ”sorban” mendadak begitu populer. Banyak orang memperbincangkannya. Adalah film ”Perempuan Berkalung Sorban” yang kontroversial yang menjadi pemicunya. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sorban (serban) adalah ikat kepala yang lebar (yang dipakai orang Arab, haji). Dari sisi fisik, sorban bukan hal istimewa, tidak ada bedanya dengan selembar kain lainnya. Sorban menjadi istimewa karena mewakili sebuah simbol. Di kalangan masyarakat kita, kain sorban tidak bisa dipakai sembarang orang. Meski bukan hal yang haram dipakai ”orang biasa”, cobalah Anda yang (mungkin) tidak memenuhi kualifikasi tertentu, memakai sorban di tempat-tempat umum. Pastilah Anda akan disindir orang-orang di sekitar Anda. Entah dikira ulama, kiai, atau minimal Anda akan dipanggil ”Pak Haji”. Kalau Anda orang normal, pasti Anda akan merasa risih, terganggu. Tidak percaya? Coba saja deh…

Sorban adalah simbol kearifan, penguasaan ilmu agama, ketaatan menjalankan perintah agama, kesalehan, dan simbol orang yang sudah menjalankan rukun Islam yang paling mahal : ibadah haji. Orang-orang yang memakai sorban tentulah orang yang memenuhi kualifikasi sebagai ulama, kiai, atau paling tidak pernah berhaji. Diantara pria-pria bersorban itu banyak yang memimpin pesantren, simbol pendidikan Islam di Indonesia.

Tempo dulu, orang-orang bersorban ini menempati posisi istimewa. Bukan hanya karena keluasannya dalam penguasaan ilmu agama (lebih tepatnya lagi : ilmu fikih), ulama dan kiai menjadi panutan umat. Pendapat-pendapatnya selalu didengar umat. Perilakunya, dalam segala hal, menjadi pusat identifikasi sosial bagi masyarakat.

Ketika umat atau individu tengah menghadapi masalah, entah masalah pribadi  atau masalah lain, mereka selalu lari ke ulama, kiai.  Umumnya mereka pun merasa tentram, masalahnya terpecahkan ketika bertemu ”orang-orang suci” itu.  Prinsipnya, para pemakai sorban adalah orang yang punya daya linuwih yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Bagaimana sekarang? Masihkah sorban mewakili simbol-simbol kesucian? Itulah yang saat ini menjadi keprihatinan saya. Saya sedih, sebagai bagian dari umat beragama, saya memandang orang-orang bersorban  bukan lagi orang istimewa.

Sejatinya, saya tidak ingin mengubah pandangan saya ini. Ulama, dalam kitab suci, merupakan orang yang menempati derajat tertentu. Para cerdik pandai yang memegang supremasi keilmuwan. Mereka orang yang pantas kita hormati. Di mata Allah pun mereka ”punya kelas” tersendiri. Sayangnya, belakangan ini, sikap  perilaku, pendapat para ulama itulah yang membuat pandangan saya berubah. Kalau saya boleh berkata jujur, stigma terhadap orang-orang bersorban ini begitu ”rendah”. Pendapat (fatwa) pria-pria bersorban bukan lagi mencerminkan penguasaan supremasi kelimuwan. Apa sebenarnya landasan berpikir para ulama dalam mengeluarkan fatwa, saya tidak tahu. Saya tidak perlu membuat contoh. Fatwa Golput haram beberapa waktu lalu menjadi titik puncak ketidakpahaman saya.

Akal sehat dan nurani saya benar-benar gagal memahami. Saya tidak tahu persis ketidakmengertian saya ini karena akal saya yang terlalu dangkal, atau para pembuat fatwa itu yang ”sempit akalnya”. Entahlah..pastinya, setelah fatwa itu keluar, segala hormat saya terhadap ulama tiba-tiba ”runtuh”. Belum lagi ”fatwa” imam besar Mesjid Itiqlal Jakarta—yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI—meminta menarik film ”Perempuan Berkalung Sorban” dari peredaran, dengan alasan yang susah saya mengerti (padahal dia

mengaku belum pernah nonton filmnya).

 

Dalam acara Empat lawan satu (atau satu lawan empat ya?) di AnTv beberapa waktu lalu, sang imam begitu kedodoran mendapat serangan dari empat nara sumber dan audiens, terkait dua hal : Golput dan boikot film  Sang imam menjadi bulan-bulanan. Ia beberapa kali terlihat sangat terpojok dalam mengemukakan argumentasinya. Saya jadi berpikir, oh..beginilah sosok ulama Indonesia? Beginikah karya-karya ”pewaris para nabi” itu diperlakukan? Jangankan diikuti dan didengar umat, justru menjadi bahan dagelan dan olok-olokkan.

 

Saya jadi berpikir, jangan-jangan ini tanda-tanda kiamat sudah dekat, saat para ulama, kiai, telah kehilangan sorbannya…

Solo, 11 Februari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s