Uncategorized

Refleksi 264 tahun Kota Solo…

Kota Solo, Selasa (17/2) pekan depan, genap berusia ke 264 tahun. Tidak muda lagi untuk ukuran Kota. Di usianya yang lebih dari 2,5 abad, banyak hal yang perlu direfleksikan dan dipikirkan kembali. Tidak hanya melihat wajah kota dari sisi fisik, lebih jauh lagi, melihat karakter masyarakat Solo.

Secara fisik, harus diakui, jika dibanding 264 tahun lalu silam, saat perpindahan keraton Kasunanan dari Kartasura ke Dusun Sala sebagai penanda dimulainya lahirnya Kota Solo, wajah Kota Bengawan mengalami lompatan luar biasa. Meski berulangkali hancur akibat  amuk massa, dalam 10 tahun terakhir pembangunan fisik Kota Solo boleh dibilang luar biasa. Pusat perbelanjaan tumbuh menjamur, hotel-hotel berbintang terus bertambah, dua apartemen mulai dibangun, pembangunan kawasan pejalan kaki (city walk), penataan PKL, pembangunan taman-taman kota, dll. Dan, penataan fisik pun hingga kini terus berlanjut. Dalam lima tahun ke depan, diyakini wajah kota Solo akan makin ”cantik”.

Di sisi lain, ekonomi Kota Solo terus tumbuh. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, ekonomi Kota Solo terus membaik. Salah satu indikatornya, laju pertumbuhan ekonomi yang positif sejak 2000-2005. Perhitungan PDRB terus meningkat. Empat tahun pertama tumbuh 6,46%, tahun berikutnya terus naik, meski kenaikannya tak setinggi empat tahun pertama, karena hanya 4,3%.  Jika dibanding di tingkat  Jateng, pertumbuhan PDRB di Kota Solo masih jauh lebih tinggi. Secara demikian Kota Solo termasuk  kota yang maju dan cepat tumbuh.  Status perekonomiannya pun termasuk prima, yakni kondisi tingkat pertumbuhan PDRB melebihi rerata provinsi Jateng.

Membaiknya kondisi ekonomi Kota Solo, tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan, menandakan investor mulai percaya menanamkan modalnya di Kota Solo. Para investor melihat, Kota Solo sebagai kota yang prospektif untuk menanamkan modal. Posisi Kota Solo yang terletak di tengah kota besar di sekitarnya, Semarang dan Yogyakarta (kawasan Joglosemar),   menjadi kawasan strategis sebagai kota perdagangan. Bandara Adisumarmo sebagai Bandara Internasional makin mempermudah akses investor dari luar melakukan penetrasi ke Solo. Tak berlebihan kiranya banyak pihak menilai Kota Solo tengah tumbuh menjadi kota megapolitan. Luar biasa…

Pertumbuhan wajah kota dan perbaikan ekonomi Kota Solo tentu menggembirakan. Namun, rasa bangga saja tidaklah cukup. Sebab, di balik gemerlap Kota Solo, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Sebagai kota yang ”tidak pernah tidur”, Solo sebenarnya menyimpan “bara”, problem laten. Apabila problem tersebut tidak ditangani dengan baik, bakal menjadi problem manifes yang distruktif.

Kota Solo selama ini dikenal sebagai masyarakat yang plural. Tidak hanya dari segi agama, tapi juga etnis dan budaya. Beberapa tradisi berkembang berlandaskan agama : Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu. Dua komunitas yang dominan adalah ; Islam dan Kristen.  Komunitas Islam pun terbagi ke dalam beberapa kelompok : Islam radikal, Islam moderat, dan Islam abangan.  Secara etnisitas, Kota Solo pun majemuk. Masyarakat Solo terdiri dari orang Jawa (dan pendatang), China, Sunda, madura, dll. Solo dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa, pusat berkembangnya tradisi Jawa.

Sebagai Kota penting di pulau Jawa, sejak periode Jawa kuno, Kota ini telah menyedot pedagang untuk mengembangkan bisnis dan investasi. Di antaranya, komunitas etnis China yang mendominiasi perdagangan Kota Solo hingga kini (Badrus Sholeh, dkk, makalah).

Membaik

Meski secara ekonomi membaik, tak bisa dipungkiri, Kota Solo tidak lepas dari persoalan. Jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Hal ini ditunjukkan membesarnya indeks ketimpangan dari 0,2538 pada 2000, meningkat menjadi 0,2904 pada 2003, dan diperkirakan terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun terakhir ini.  

Secara kasat mata bisa dilihat, kantong-kantong kemiskinan di Kota Solo umumnya berada di pinggiran kota,  berada di sepanjang Sungai Bengawan Solo, hidup di bantaran sungai, atau menempati tanah-tanah negara.  Di sana masih banyak kita temukan rumah-rumah yang tidak layak huni.  Kota Solo berawajah ganda : makmur di tengah, miskin di pinggir.

Potret sosiologis masyarakat kota yang multi agama, multi etnis, dan multi (penguasaan aset-aset) ekonomi, menjadi problem serius. Kita tahu, di manapun, pluralitas selalu menjadi sumber potensial konflik, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara nyata. Tidak heran gerakan ”radikalisasi” acapkali muncul di Kota Solo, dengan motif-motif ekonomi, pluralitas agama maupun etnis etnis. Kompleksitas bagai bahan bakar yang sangat mudah disulut api. Sedikit saja “disentuh”, akan memantik peristiwa yang maha besar.

Menurut sejarawan Soedarmono, paling tidak Solo dilanda 13 kali kerusuhan massa sejak geger pecinan tahun 1743, dan terakhir peristiwa Rabu Kelabu Mei 1999. Itu belum termasuk konflik-konflik ”kecil” yang tidak sampai berlanjut ke kerusuhan massa. Seperti berulangkali terjadinya kasus sweeping tempat-tempat hiburan malam, maupun konflik-konflik yang berbumbu SARA. Tak heran, meski Solo yang selama ini dikenal masyarakatnya lembut,  berbudi adiluhung, penuh sopan santun, karena faktor-faktor di atas, bisa berubah menjadi ”makhluk liar” yang tega menghancurkan kotanya sendiri.

Memasuki usia Kota Solo yang ke-264 ini, semua pihak, terutama para pemangku jabatan mulai secara serius memperhatikannya, khususnya terkait pembentukan karakter masyarakat Kota Solo. Faktor ini seolah terlupakan, kalah dengan pamor pembangunan fisik Kota Solo yang “wah”. Tidak lengkap kiranya pembangunan fisik yang luar biasa tanpa dibarengi membangun karakternya. Akan sia-sia belaka.   

Selain melakukan perbaikan ekonomi masyarakat pinggiran, membangun pemahaman masyarakat akan kemajemukan, menjadi hal mendesak. Harus disadari, sebagian masyarakat belum memahami benar realitas kemajemukan. Perbedaan masih dipandang sebagai musuh. Hanya karena beda agama dan etnis, orang sering tidak lagi dianggap lagi bagian dari ”kita”, tapi sudah di-”mereka”-kan. 

Membangun kesadaran melalui edukasi masyarakat. Wacana memasukkan muatan ”anti kerusuhan” di kurikulum sekolah yang pernah diwacanakan sebelumnya, agaknya perlu dihidupkan lagi. Tak hanya itu, semua langkah diperlukan agar masyarakat bisa memahami benar arti perbedaan.

Masyarakat Solo perlu belajar dari sejarah. 13 Kali kerusuhan sudah lebih dari cukup untuk diambil hikmahnya. Tidak ada hal yang bisa kita peroleh dari sana, kecuali kehancuran itu sendiri. Siapa yang rugi? Kita semua…Kita cintai Kota Solo sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. 

Dirgahayu Solo-ku tersayang…

Solo, 13 Febuari 2009 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s