Uncategorized

Munafik…

Dalam forum dialog tokoh-tokoh Parpol di kantor beberapa waktu lalu, seorang Caleg dari Parpol baru mengatakan, dirinya maju menjadi Caleg semata-mata berorientasi mengejar uang. “Saya tidak mau munafik. Saya jadi Caleg memang UUD. Ujung-ujungnya duit!,” tandasnya mantap, dengan raut muka datar, seolah merasa tak berdosa. Apa maksud di Caleg, saya sendiri tidak tahu. Mungkin saja dia ingin menyampaikan kejujuran, biar dianggap pahlawan, atau…Entahlah, tentu si caleg itu sendiri yang tahu.     

Pernyataan seperti itu sebenarnya bukan hal istimewa. Dalam dialog keseharian, toh kita terlalu sering mendengarnya. Namun, hal itu tetap saja menggelitik pikiran saya. Saya jadi ingat, saat para artis yang sering tampil ”terbuka” di layar lebar menghadapi kritik masyarakat, beberapa tahun silam. Apa ungkapannya?  ”Saya kira masyarakat tidak perlu munafik. Kalau mau jujur, masyarakat juga suka kan kalau melihat artis tampil buka-bukaan?.” wow… !

Bagi si Caleg, dengan ungkapannya itu dia seolah ingin menyindir kawan-kawannya sesama Caleg yang banyak mengombar janji muluk-muluk, meski pada akhirnya UUD juga. Sekilas, si Caleg dari partai baru (aku lupa nama partainya. Yang jelas partai gak populer) ingin menunjukkan dirinya bukanlah seorang munafik, dengan bicara apa adanya, tanpa selimut apapun. Ungkapan, “saya tidak mau munafik”, tentu saja dia berharap dirinya benar-benar menjadi orang lurus, tidak masuk golongan orang yang suka bertopeng, bermuka dua, seperti Caleg pada umumnya.

Tapi, benarkah dia tidak munafik? Nanti dulu. Tidak segampang itu menghindar dari kemunafikan. Tidak cukup hanya mengatakan, ”saya tidak mau munafik.” Dalam keseharian, ”munafik” sering disalahartikan. Kata itu kadang diletakkan dalam posisi yang tidak pas. Banyak dipakai apologi atau pembenaran terhadap sebuah perilaku. Secara umum, munafik sering dimaknai : mulutnya bicara baik, tapi hatinya menyimpan kebusukan. Dalam kamus bahasa Indonesia, munafik berarti berpura-pura percaya atau setia dsb kepada kepada agama dsb, tetapi sebenarnya hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. 

Kalau logika kamus di atas dibalik, maka ”tidak munafik” berarti tidak berpura-pura. Mulutnya baik, perbuatannya baik. Bicaranya baik, hatinya juga baik. Lantas bagaimana jika ada orang yang bicaranya jujur tapi sebenarnya perilakunya busuk? Kalau seorang pemerkosa mengakui dirinya  memperkosa, benarkah dia terhindar dari kemunafikan? Bagaimana juga dengan si Caleg yang bicaranya jujur atas perilakunya yang jahat?

Asal tahu saja, uang bukanlah menjadi tujuan seseorang masuk bursa Caleg. Artinya, niat semata-mata mencari duit saat menjadi Caleg adalah bentuk perilaku busuk. Semua orang tahu, kursi wakil rakyat bukanlah lapangan kerja, tapi jabatan politik. Semua bentuk jabatan politik, orientasinya selalu untuk kepentingan rakyat (publik). 

Kesimpulannya, saat si Caleg dengan jujur mengatakan ”saya tidak mau munafik”, sebenarnya dia tengah mengumumkan kemunafikannya kepada orang lain… 

Solo, 12 Januari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s