Uncategorized

Makna Kehadiran Tuhan

Ketika Friedrich Nietzsche mengemukakan “Tuhan telah mati”, dunia heboh. Kalangan agamawan menolak mentah-mentah.  Sampai sekarang pun kaum beragama tidak akan pernah sepakat dengan pendapat filsuf German itu. Tuhan, bagi kaum agamawan, tidak akan pernah mati. Tuhan akan kekal selamanya. Ok, sampai di sini saya sepakat…

Lepas dari kehebohan itu, menurut saya, ada hal menarik. Bukan dalam konteks meng-amini pendapat Nietzsche, akan tetapi, ada hal yang sebenarya lebih substansial yang perlu kita renungkan terkait pernyataan Nietzsche. Benar, bahwa Tuhan punya sifat kekekalan abadi. Dzat Tuhan akan selalu hidup. Dia ada sebelum yang ada ini ada. Dia akan selalu ada meski semua yang ada sudah tidak ada. Bahkan kata ”ada” sendiri sudah tidak ada lagi.

Sayangnya, sebagai kaum beragama kita tidak konsisten dengan keyakinan itu. Kita haqqul yakin akan adanya eksistensi Tuhan. Setiap saat kita selalu menyebut dan mengagungkan nama-Nya, bahkan menyembah-Nya selama lima kali sehari. Namun, kita jarang—bahkan tidak pernah, ”melibatkan” Tuhan dalam perilaku kita. Meski mengakui keberadaan-Nya, kita jarang membuat-Nya ada dalam kehidupan kita. Dengan cara seperti itu pada hakekatnya kita sudah menganggap Tuhan sudah tiada.

 

Dalam beberapa hari terakhir, kita disuguhi pentas politik memuakkan di negeri ini.  Pasca-Pemilu Legislatif, para elit politik disibukkan kasak-kusuk membangun koalisi menuju Pilpres.  Kata-kata ”komunikasi politik”, ”kesamaan platform”, ”kepentingan bangsa dan negara” tidak pernah absen dari kota kata kaum elit. Tidak penting apakah pernyataan politisi itu jujur atau sekadar manipulasi semata. Para politisi tak segan-segan ”bercerai” dengan sekutu politik yang dulu berkawan. Kemudian, berkawan dengan mereka yang dulu bermusuhan. Saling kritik dan saling caci sudah menjadi hal biasa. Kalangan internal Parpol saling sikut untuk menentukan sekutu koalisi.

Apa yang hendak mereka tuju dari semua itu? Apalagi kalau bukan kekuasaan. Demi kursi, orang rela melakukan segalanya. Lupa sopan santun, etika berpolitik, dan nilai-nilai ketuhanan. Siapapun politisinya, agaknya memperlihatkan kecenderungan sama.  Tidak peduli latar belakang dan ideologi partainya. Mau partai sekuler, abangan, nasionalis, bahkan partai agama sekalipun, tingkahnya toh tidak ada beda. Mereka sama-sama tidak melibatkan Tuhan dalam perilaku politiknya. Eksistensi Tuhan sekadar jadi simbol dan jargon, sekadar diakui keberadaannya. Pada hakekatnya, para politisi itu sudah menganggap Tuhan tidak ada lagi dalam kamus politik mereka.

Dalam ranah politik, nilai-nilai ketuhanan bukanlah panglima. Tapi kepentingan kekuasaan-lah yang menjelma menjadi tuhan baru buat mereka. Mungkin para politisi itu lupa, mengabaikan nilai-nilai ketuhanan dalam perilaku berpolitik sama artinya mereka menafikan-Nya. Pasalnya, aplikasi nilai-nilai ketuhanan itulah letak esensi kehadiran Tuhan. Kita menolak pendapat Nietzsche, tapi hakekatnya diam-diam  membenarkannya…

 

Solo, 20 Mei 2009

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s