Uncategorized

Keyakinan Tak Bisa dipenjara

Keyakinan menjadi hak paling asasi manusia. Setiap orang mempunyai kemerdekaan membangun keyakinan, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Manusia bebas mempersepsikan baik tentang dirinya, lingkungan, dan Tuhannya. Kebebasan itu yang membuat beragamnya keyakinan. Kita bisa saja mengajak orang lain untuk ikut keyakinan kita. Namun, tak seorang pun yang bisa memaksa, apalagi menghukum. Keyakinan merupakan wilayah privat, antara kita dengan Tuhan. Tidak ada kekuatan luar yang bisa mengintervensi. Mengenai kebenaran sebuah keyakinan, hanya Tuhan yang punya otoritas menilai. Keyakinan hanya dipertanggungjawabkan ke Atas, bukan ke sesama.

Sayang, tidak banyak yang sadar akan hak ini. Masih ada kelompok memaksakan keyakinannya kepada orang lain, bahkan mengirimnya ke penjara. Apakah hukuman membuat mereka “bertaubat”? Jawabnya tidak!. Hukuman penjara dua tahun bagi Lia Eden (Lia Aminuddin) tak membuatnya keluar dari keyakinannya. Untuk keduakalinya Lia Eden berurusan dengan aparat hukum, karena ia kembali menyebarkan ajaran-ajaranya. Boleh jadi demikian pula kelompok-kelompok lain yang punya keyakinan berbeda dengan pemahaman mayoritas. Hukuman sekadar membatasi gerak fisik pengikutnya. Tidak demikian dengan persepsi dia tentang agama, tentang Tuhan. Keyakinannya (mungkin) akan hidup dan terus mengembara, sebagai bagian panggilan nuraninya. 

Jangankan kita manusia biasa. Orang-orang hebat di dunia ini pun banyak yang gagal mengubah keyakinan orang-orang dekatnya. Nabi Luth AS dengan segala kesantunanya tak mampu membuat isterinya mengimani apa yang diimaninya, meski keyakinan tersebut benar. Demikian pula Nabi Nuh dengan segala kewibawaannya tak dapat membuat istri serta anaknya beriman. Sebaliknya Firaun dengan segala kekuasaan dan keganasanya tak mampu memaksakan kepercayaannya kepada Asiya, istrinya. Nabi Muhammad SAW dengan segala kearifan, kesantunan, kewibawaan, keamanahan, kefasihan, dan kasih sayangnya tak mampu membuat pamannya, Abu Lahab,  beriman. Ketika Nabi Muhammad seperti hendak “memaksa” karena—dan dengan kasih sayangnya yang agung, Allah yang mengutusnya justru memperingatkan : “Sungguh engkau tidak akan dapat memberi hidayah (membuat iman) orang yang engkau sayangi (sekalipun); tapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Ia kehendaki (QS 28:56).” (KH A Mustofa Bisri, 2008).   

Hidayah adalah hak prerogratif Tuhan. Sekeras apapun usaha kita untuk mengajak orang lain, jika Tuhan tidak memberinya petunjuk, bisa dipastikan tidak berhasil. Yang memprihatinkan, masih banyak ditemukan orang yang tidak menghargai pluralisme (keberagaman). Bentuk-bentuk pemaksaan, mengucilkan, menghukum, memberi cap “sesat” kepada orang-orang yang berbeda keyakinan, banyak kita temukan. Pada 2008 yang akan segera kita tinggalkan, merekam banyak peristiwa pemaksaan kehendak atas nama Tuhan. Aliran Ahmadiyah, misalnya, menjadi bulan-bulanan massa. Selain diserang secara fisik, pemerintah membuat regulasi yang membatasi gerak pengikut Ahmadiyah. Fatwa sesat MUI makin memperkuat asumsi kelompok antipluralisme, bahwa keyakinan Ahmadiyah pantas diberantas.

Mengubah persepsi tentang keyakinan tidak bisa dilakukan secara hukum. Mengajak dialog secara intensif menjadi satu-satunya jalan. Dalam proses dialog, pihak-pihak yang berbeda bisa mengemukakan argumentasinya dalam suasana keterbukaan. Bagaimana jika jalan dialog tidak berhasil? Stop sampai di sini. Jangan terus memaksa mereka untuk mengikuti jalan kita. Beri ruang bebas kepada mereka untuk berekspresi. Bentuk-bentuk pemaksaan selain melanggar hak, juga malah membikin mereka semakin mantap terhadap keyakinannya. Ingat, tindakan ekstrim, akan mengundang tindakan balasan yang ekstrim pula…

Solo, 19 Desember 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s