Uncategorized

Kapan Kita Akan Dewasa?

Hari libur bagiku sangat istimewa. Setelah seminggu berkutat dengan rutinitas kerja, libur  saat tepat memanjakan diri. Biasanya, tiap libur ada dua rutinitas yang selalu aku jalani :  tidur sepanjang hari, dari pagi sampai sore. Sore atau malamnya  biasanya aku jalan-jalan ke toko buku.

Sayangnya, Minggu (22/3) kemarin aku tak bisa menikmati liburanku dengan nyaman. Seharian tidak bisa tidur. Suara bising motor kampanye partai ”besar” benar-benar mengusik ketenanganku. Secara bergelombang mereka hilir mudik di jalan, sambil menggeber motor keras-keras. Benar-benar berisik dan memekakkan telinga. Kebetulan tempat tinggalku tidak jauh dari jalan raya.

Jujur, aku sedih. Bukan hanya karena tidak bisa menikmati istirahat dengan tenang. Lebih dari itu karena sampai saat ini kampanye dengan berkonvoi masih jadi model. Mogleng-mogleng di jalan, mengendarai motor seenaknya, mengabaikan tata krama berlalu lintas, mencopot kenalpot dan menarik gas keras-keras. Seolah-olah mereka benar-benar ingin menikmati ”kebebasan”, mabuk kekuasaan dengan menguasa jalan tanpa memperdulikan pengguna jalan lain. Benar-benar memprihatinkan. Aku tidak bisa mengerti, apa sebenarnya yang mereka maui?.

Dalam pemahamanku, kampanye Pemilu adalah upaya menarik simpati masyarakat dengan menyampaikan visi & misinya. Diharapkan mereka akan memilih partai yang dikampanyekan pada Pemilu nanti. Karena sifatnya untuk menarik simpati masyarakat, kampanye seharusnya dilakukan secara santun dan simpatik. Kenyataannya? Justru sebaliknya. Model kampanye berkonvoi bukannya mengundang simpati, tapi malah antipati. Anggota masyarakat banyak yang menolak karena sebagian hak-haknya telah dirampas peserta kampanye.

Sebuah mindset yang salah fatal tentunya. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi.  Jangankan di kalangan simpatisan, jajaran elite partai dan para Caleg pun sering keliru dalam memandang arti kekuasaan.

Sebetulnya aku berharap, kampanye sebagai bagian dari proses-proses politik berjalan secara dewasa. Model-model kampanye ”primitif” sudah selayaknya ditinggalkan. Tidak ada ceritanya orang tertarik dan menjatuhkan pilihan kepada partai tertentu setelah melihat kampanye urakan seperti itu. Rasanya itu hal yang mustahil. Kecuali si orang itu sama ”gila”-nya dengan orang-orang yang berkampanye. Klop sudah…

Rasanya sudah terlalu lama kita belajar. Merdeka 64 tahun, dan 10 kali Pemilu pada 2009 ini tentu bukan waktu sebentar untuk sebuah proses belajar berdemokrasi. Sayangnya kita ini malas untuk belajar. Jangankan rakyat kebanyakan, para petinggi negeri ini pun bertingkah kekanak-kanakan karena tak mau belajar.

Seorang presiden dan mantan presiden pun tak akur, tak mau bertegur sapa, saling sindir tak bermutu di media. Akar masalahnya hanya sepele : karena kalah bersaing dalam Pilpres. Sungguh panggung politik yang memalukan. Mestinya mereka belajar kepada Mc Cain yang langsung menyampaikan selamat kepada Obama beberapa saat setelah tahu dirinya kalah. Atau belajar kepada Hillary yang siap mendukung Obama dan bergabung di kabinetnya setelah dirinya kalah konvensi di Partai Demokrat.

Tak jauh-jauh ke negeri orang,  kita pun bisa belajar kepada para founding fathers negeri ini. Belajarlah kepada Soekarno dan M Natsir. Meski kedua orang  ini bermusuhan secara politik, ketika Bung Karno tergolek sakit dan tak berdaya, M Natsir datang menjenguk dan mendoakan kesembuhan Bung Karno. Ketika itu muncul desakan dari pendukung Natsir agar dia balas dendam terhadap Bung Karno. Namun, Natsir tak mau melakukannya.

Dalam kultur masyarakat kita, keteladanan memang penting. Proses pembelajaran berdemokrasi mestinya dimulai dari atas. Seperti pepatah Yunani mengatakan ”Proses pembusukan ikan selalu dimulai dari kepala, baru kemudian menjalan ke seluruh tubuh.”

Kalau dari kalangan elitnya tak dewasa, kalangan massa pun tak jauh beda.

Wajar jika perilaku massa Parpol berkampanyenya masih seperti itu. Mereka dari partai besar, tapi sayangnya perilakunya masih kerdil. Entah sampai kapan ini akan berlangsung…

Solo, 23 Maret 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s