Uncategorized

Jilbab & Politik

Di tengah hiruk-pikuk para politisi menjelang Pilpres, jilbab tiba-tiba menjadi wacana publik. Pakaian khas muslimah yang selama ini ”steril” dengan politik kekuasaan, mulai masuk menjadi komoditas politik.

Seorang tokoh partai politik mengemukakan simpatisan partai tertentu hatinya lebih condong memilih pasangan Jusul Kalla-Wiranto karena istri JK maupun Wiranto sama-sama berjilbab, meski secara resmi partai itu masuk dalam koalisi SBY-Boediono. Asal tahu, istri SBY dan Boediono dalam kesehariannya tidak berjilbab.

Mereka berdalih jilbab menjadi salah satu simbol ketaatan beragama seseorang. Jika istri-istri pasangan JK-Win ini berbusana muslimah, itu menjadi salah satu pertanda keislaman suaminya.Fenonena ini diyakini akan menjadi daya pikat pemilih muslim dalam Pilpres 8 Juli mendatang. Kendati terkesan menyederhanakan masalah, pandangan politik ini sepatutnya kita biarkan mengalir. Lepas setuju atau tidak setuju, sikap politik itu menjadi hak seseorang yang perlu kita hargai. Ini demokrasi bung…!

Hubungan jilbab dan politik bukanlah hal baru di Indonesia. Semasa Soeharto berkuasa, jilbab dipandang mewakili pandangan keagamaan garis keras. Penguasa Orba selalu mengaitkan jilbab dengan revolusi Islam Iran. Bangkitkan para jilbaber (istilah pop wanita berjilbab) dikawatirkan bakal mengundang ideologi revolusioner pimpinan Imam Khomeini masuk ke Indonesia.  Ketakutan luar biasa ini yang mendorong Mendiknas Daoed Joesoef di era 80-an merasa perlu mengeluarkan peraturan untuk melarang siswa sekolah mengenakan jilbab.

Tidak hanya di Indonesia, di sejumlah negara jilbab mendapatkan reaksi politik yang keras. Prancis melarang warganya mengenakan jilbab. Pakaian ini dipandang sebagai simbol agama dan membahayakan paham sekularisme yang dianutnya. Perdana Menteri Turki Recep Toyyib Rodogan juga dikecam banyak orang karena istrinya berjilbab saat tampil di muka umum.

Jilbab memang tidak sekadar pakaian yang dikenakan muslimah yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Fenomena jilbab berkembang jauh ke luar  wilayah yang sebenarnya. Dalam kategori sosiologis, jilbab bisa mencerminkan pandangan maupun perilaku keagamaan seseorang. Jilbab ”klasik” biasanya pemakainya lebih ”ketat” dalam beragama dan punya afiliasi politik tententu. Jilbab bercadar mencerminkan ”fundamentalisme” pemakaiannya. Jilbab modis mencerminkan pandangan Islam ngepop dan condong ”liberal”. Yang agak sulit dikalkulasi adalah fenomena terakhir ini : ”jilbab politik”.

Tentu saja pandangan di atas sekadar kategori sosiologis. Kita tidak akan mampu menangkap substansi jilbab yang sebenarnya. Yakni pakaian yang bukan sekadar  menutupi bagian-bagian tubuh wanita yang selayaknya ditutupi, tapi menyelemuti  pula si pemakainya dari perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan spirit ketuhanan. Kita tidak akan pernah tahu motivasi orang berjilbab. Apakah karena panggilan agama,  sekadar mengikuti tren mode, atau karena ingin menjadikan jilbab sebagai daya tawar politik.

Hanya para jilbaber dan Tuhan-lah yang tahu….

Solo, 28 Mei 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s