Uncategorized

Fenomen Dukun Cilik Ponari

Fenomena dukun cilik asal Jombang, Ponari, 10, memang absurd, tak masuk akal, susah dipercaya. Begitu komentar sebagian orang.  Tentu tidak ada larangan orang bicara. Setiap orang boleh komentar seperti itu. Tapi, inilah fakta. Kejadian nyara di depan mata kita.

Ribuan orang rela antri berhari-hari, berdesak-desakan, sekadar mendapatkan pengobatan dari dukun kecil (katanya) sakti. Entahlah, apakah kesaktian ini terbukti atau belum, tampaknya tidak begitu penting. Ribuan orang kadung menaruh harapan untuk sembuh dari sang dukun. Pola pengobatannya pun unik. Pasien cukup membawa air putih. Si dukun kemudian mencelupkan batu petir ke air itu, lalu pasien meminumnya.

Diyakini, air hasil celupan ini bisa menyembuhkan semua penyakit. Tak hanya itu, air bekas mandi Ponari, sumur milik orangtua sang dukun, bahkan sumur milik para tetangganya pun ikut dipercaya ketularan kesaktian. Mereka berebut untuk meminumnya, meski airnya keruh. Pasien sembuh kah? Wallahu’alam…

Dari kacamata kewajaran, fenomena Ponari pastilah menyimpang.  Akal sehat, logika, tak bisa menjangkau. Mana mungkin sebuah batu petir bisa menyembuhkan segala penyakit ?(meskipun atas kuasa Tuhan semua kemungkinan bisa terjadi). Kasus Ponari boleh jadi bukan satu-satunya. Kasus-kasus serupa banyak terjadi di masyarakat. Kita tidak tahu karena tidak terekspos media.

Para pengunjung datang ke si dukun umumnya karena sudah lama menderita penyakit. Mereka tak bisa berobat ke dokter karena mahalnya biaya pengobatan. Mereka adalah orang-orang tak mampu. Ketika mendengar ada dukun cilik yang sakti, tanpa pikir panjang mereka pun datang berbondong-bondong. Tak tanggung-tanggung, empat orang rela meregang nyawa karena meninggal berdesak-desakan. Ironis. Saat mereka sakit, datang berobat, bukannya sembuh, malah meninggal!.

Akar fenomena Ponari adalah kemiskinan. Apa boleh buat, kondisi ekonomi itu yang mendorong mereka berbuat nekat, mencari pengobatan alternatif yang sebenarnya berada di luar akal sehat.  Di antara mereka tidak terdaftar sebagai pemegang asuransi untuk orang miskin. Kondisi seperti ini tentu menyedihkan. Setiap orang yang masih punya perasaan tentu akan prihatin. Orang rela mati sekadar untuk memperoleh pengobatan. Seolah nyawa rakyat kecil seperti tidak ada artinya.

Ketika Ketua DPRD Sumut meninggal karena aksi demontrasi, presiden langsung turun tangan, karena ini menyangkut nyawa seorang pejabat. Tapi, kali ini mengapa pemerintah diam? Langkah cepat mestinya juga dilakukan pemerintah, menangani kasus Ponari ini. Empat orang yang mati karena kesalahan penguasa yang tidak bisa memberikan pelayanan terbaik buat rakyatnya. Coba kalau saja pemerintah bisa menjamin pelayanan kesehatan yang prima buat rakyat, saya yakin, kasus-kasus Ponari tidak akan terjadi.Paling tidak kasus serupa bisa ditekan seminimal mungkin. Rakyat tentu akan lebih memilih langkah-langkah rasional ketimbang pergi ke dukun.

Sebenarnya apa yang kau tunggu pemerintah? Apakah menunggu sampai ratusan orang mati sia-sia?  Atau memang tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan? Kasus ini mestinya menjadi tamparan berat buat para pemegang kekuasaan. Betapa pemerintah belum bisa memenuhi kewajibannya memberikan pelayanan kesehatan terbaik, yang menjadi hak setiap rakyat.  Langkah menutup tempat praktik Ponari tidak akan menyelesaikan masalah, tanpa membereskan akar persoalan sebenarnya.

Pemerintah mesti malu melihat rakyatnya datang dari jauh, berdesak-desakan berhari-hari, sekadar memperoleh ”air sakti” penyembuhan.  

Solo, 14 Februari 2009 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s