Uncategorized

Budaya Instan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep mengharamkan mengemis. Pemerintah DKI Jakarta melarang memberi sedekah kepada pengemis. Razia terhadap kaum Gepeng (gelandang dan pengemis) marak di berbagai tempat, apalagi menjelang Lebaran seperti ini. Mereka ditangkap, diangkut ke truk, dan diberi “pembinaan”. Setelah itu tidak terdengar lagi kabar mereka. “Bertaubat” jadi Gepeng, atau sudah berubah nasib? Wallahualam.

Ketertiban dan  keindahan kota. Dua alasan klasik yang selama ini mereka pakai.  Penguasa daerah risih  jika wilayah kekuasaannya banyak pengemis. Apapun akan dilakukan. Di Sragen, misalnya, sangat keras menindak pengemis. Sepintas, pengemis hilang dari kawasan ini. Namun, yang berteriak justru pemerintah daerah sekitarnya. Para pengemis dan gelandangan bukannya hilang atau berubah nasib. Mereka bermigrasi ke daerah-daerah sekitarnya. Ke Kota Solo, misalnya.

Kebijakan “meniadakan” pengemis sudah berlangsung lama. Secara rutin kepala daerah selalu merazia mereka. Namun, keberadaannya tetap eksis. Dari waktu ke waktu jumlahnya tidak berkurang. Malah cenderung bertambah. Lantas apanya yang salah?

Buat saya, kuncinya cuma satu : penguasa sudah tertular budaya instan. Budaya yang ingin cepat “jadi”. Cepat menyelesaikan masalah, cepat sukes, cepat jadi kaya, cepat masuk surga, dsb.  Budaya ini memang tengah mengekspansi ke mana-mana, sebagai dampak kapitalisasi global yang menuntut segalanya serba cepat. Sering orang tidak sadar, cara kerja budaya instan tak menyentuh essensi sebenarnya. Penyelesaian hanya bersifat temporal.

Mengenyahkan kaum pengemis dan gelandangan boleh jadi akan mengilangkan mereka dari mata kita. Namun, itu tidak akan menyelesaikan masalah, karena inti dari persoalan pengemis dan gelandangan adalah kemiskinan. Hal ini yang tidak disadari para penguasa. Tanpa mengatasi akar masalah, sampai kapanpun pengemis dan kaum gelandangan akan tetap ada. Strategi merazia, mengeluarkan larangan mengemis/memberi sedekah atau bahkan mengharamkannya sekalipun,  hanya bersifat permukaan. Tak menyentuh pada hakekat. Penguasa sudah puas jika keindahan kota tidak dikotori para pengemis. Mereka tidak sadar, di balik keindahan kota yang dibanggakan menyimpan bara.

Para penguasa mungkin lupa amanat UUD’45, bahwa orang-orang miskin dan orang-orang terlantar dipelihara oleh negara. Tanggungjawab negaralah atas nasib hidup mereka. Jika di daerah masih ada orang miskin, orang telantar, para pengemis, para penguasa itulah yang mesti kita mintai pertanggungjawaban. Bukan sebaliknya, penguasa justru memperlakukan para Gepeng secara tidak manusiawi : merazia, mempertontonkan kepada publik, seoalah-olah mereka sudah berbuat sesuatu untuk mereka. Sungguh keterlaluan!.

Budaya instan kini tidak hanya berada di wilayah sosiologis, melainkan mulai merambah ke ranah teologis. Orang tidak hanya sekadar pingin cepat sukses, cepat pandai, cepat kaya, dan cepat meraih impiannya. Orang beragama pun kini tidak luput dari virus itu. Kaum ulama ingin menyelesaikan masalah sosiologis dengan pendekatan teologis. Mengemis diharamkan. Menjelang Pemilu Golput diharamkan. Entah fatwa apalagi yang akan dikeluarkan para ulama. Orang beragamapun tak luput dari budaya ini. Orang ingin masuk surga secara cepat. Tak mau repot-repot dengan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan yang memang tidak mudah. Jihad, misalnya, sering dimaknai jalan tol menuju surga. Parahnya lagi jihad dimaknai secara keliru. Orang yang terlibat di jaringan terorisme selalu menggunakan terminologi “jihad” untuk membenarkan tindakannya. Menjadi martir dalam bom bunuh diri pun tidak masalah.

Tidak peduli tindakannya meledakkan bom menimbulkan penderitaan panjang bagi para korban. Tidak peduli tindakannya mengundang persoalan kompleks. Tidak peduli begitu banyak orang dibuatnya menangis. Bagi para pelaku ”mujahid” (pelaku ”jihad”), yang penting mereka bisa segera menuju syurga dan bertemu para bidadari cantik di sana.

Virus serba instan membuat orang malas berusaha. Tidak sabaran. Lebih parah lagi, budaya itu telah menumpulkan nurani dan akal sehat. Waspadalah…

 Solo, 10 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s