Uncategorized

1 Dari 4 Orang Indonesia Sakit Jiwa

Beberapa waktu lalu saya terkejut sewaktu mendengar berita di TV, bahwa satu dari empat orang di Indonesia menderita sakit jiwa.  Artinya tiap ada empat orang, satu diantaranya menderita gangguan kesehatan jiwa. Mengerikan bukan? Saya jadi khawatir, jangan-jangan saya menjadi satu orang dari empat orang itu. Ah, semoga saja tidak….

Pertumbuhan orang yang sakit jiwa saat ini mencapai tahap mengkhawatirkan. Dari pemberitaan media, kita bisa melihat betapa orang-orang yang mengalami gangguan jiwa ada di sekeliling kita. Fenomena bunuh diri, orang yang membunuh secara keji tanpa perasaan bersalah, orang yang tega membunuh anggota keluarganya sendiri, ibu yang membuang bayinya, menjadi beberapa contoh problem kejiwaan (dan sosial) di Indonesia. Krisis ekonomi, desakan kebutuhan hidup, kasus PHK yang merajalela, problem rumah tangga, yang kian hari kian berat menjadi beberapa faktor yang memicu gangguan jiwa.  Makin beratnya beban hidup, memungkinkan orang yang terancam penyakit jiwa makin membengkak jumlahnya.

Fakta ini tentu perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. Saya memperkirakan setelah Pemilu nanti jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa akan meningkat. Seperti pada Pemilu sebelumnya, banyak Caleg yang stres, depresi, bahkan menjadi gila karena gagal menjadi anggota Dewan. Mereka kadung mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, sudah membayangkan jadi ”orang-orang terhormat” sebagai wakil rakyat, namun tiba-tiba harapannya itu cuma semu.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia sudah menjadi masalah serius. Pada 2001 WHO memperkirakan sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 saja, di Indonesia diperkirakan sebesar 264 dari 1000 rumah tangga menderita gangguan kesehatan jiwa. Dalam hal ini, menurut Prof Dr Azrul Azswar MPH, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, angka itu menunjukkan jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di masyarakat Indonesia sangat tinggi. Yakni satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa dari rasa cemas, depresi, stres, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia. 

Menurut Prof Dr dr H Aris Sudiyanto SpKJ, guru besar ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) Fakultas Kedokteran UNS Solo, ada tiga golongan penyebab gangguan jiwa. Pertama, gangguan fisik, biologik atau organik. Penyebabnya antara lain faktor keturunan, kelainan pada otak, penyakit infeksi (tifus, hepatitis, malaria, dll), kecanduan obat dan alkohol, dll. Kedua, gangguan mental, emosional atau kejiwaan. Penyebabnya karena salah asuh, hubungan yang patologis di antara anggota keluarga disebabkan frustasi, konflik, tekanan krisis. Ketiga, gangguan sosial dan lingkungan. Penyebabnya dapat berupa stresor psikososial (baca : perkawinan, problem orang tua, hubungan anterpersonal dalam pekerjaan atau sekolah, di lingkungan hidup, dalam masalah keuangan, hukum, pengembangan diri, faktor keluarga, penyakit fisik) yang ada di sebagian masyarakat saat ini.

Melihat fakta-fakta di atas, agaknya setiap pribadi perlu mawas diri, agar gangguan kesehatan jiwa ini tidak mampir ke kita atau orang-orang terdekat kita. Berbeda dengan penyakit fisik, di mana penderitanya umumnya sadar dirinya sakit sehingga ada upaya untuk menyembuhkannya. Sementara orang yang mengalami gangguan jiwa kadang-kadang tak sadar dirinya sedang sakit. Ini yang susah. Orang-orang di sekelilingnya yang mesti peka dalam memahami fenomena ini.

Contohnya, ketika ada orang lain, entah teman Anda, keluarga Anda, rekan kerja Anda berperilaku yang sulit dipahami dari kacamata umum (keluar dari kepatutan), maka orang itu patut dicurigai ”tidak waras”. Orang yang berperilaku menyimpang menjadi salah satu ciri orang tidak waras. Mereka perlu memperoleh perhatian khusus. Kewaspadaan untuk menangkal penyakit jiwa menjadi sesuatu yang sangat penting. Bagaimanapun, pencegahan dinilai menjadi jalan terbaik ketimbang pengobatan. Sikap pasrah, ikhlas, dan sabar (meskipun dianggap klise) dalam menyikapi setiap persoalan hidup, diyakini beberapa pihak sebagai penangkal ”racun” sakit jiwa. Bahkan puasa, menurut hasil survei, terbukti ampuh menyembuhkan sakit jiwa ketimbang pengobatan sekalipun. Waspadalah….

Solo, 05 Februari 2009 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s