Politik

Refleksi sidang paripurna Century : Kemerdekaan yang tergadaikan…

Kawan-kawan saya gemes saat menyimak sidang Paripurna DPR yang membahas kasus Century, beberapa hari lalu. Kata mereka, perilaku anggota Dewan masih saja “kampungan”.  Ribut, banting botol air dalam kemasan, celometan tak bermutu, debat asal bunyi. Tak berkualitas sama sekali. Saya tak mengerti apakah wakil-wakil saya di Senayan tak sadar sidang paripurna disiarkan langsung? Tingkah mereka bisa disaksikan jutaan pasang mata?

 Kawan saya yang lain menyatakan kemuakannya. Sidang “orang-orang terhormat” sama sekali tak menunjukkan perilaku orang yang pantas dihormati. Persis [pinjam istilah Gus Dur] perilaku anak taman kanak-kanak.

 Saya sendiri tak begitu kaget dengan tingkah para legislator. Toh, sejak dulu perilaku mereka tak jauh beda dengan saat ditampilkan pada sidang paripurna kasus Century. Yang menjadi perhatian saya justru pada kemandirian seorang anggota Dewan. Jujur, saya sangat kasihan kepada wakil rakyat itu. Setelah mereka terpilih masuk Senayan, seseorang tak lagi bisa menjadi diri sendiri. Makhluk yang berkehendak bebas, independen, tanpa kekangan. Mereka tak lagi punya kemerdekakan menyuarakan isi hati dan akal sehatnya.

 Kenapa?  Karena kemerdekaan mereka hakekatnya sudah tergadaikan. Mereka sekadar panjang tangan kepentingan partai induknya. Lebih khusus lagi sikap ketua umumnya. Semakin dekat ketua umum dengan pusat kekuasaan, semakin tak bebas mereka untuk menyuarakan isi hatinya. Mereka harus mempertimbangkan kepentingan rezim penguasa yang mereka sokong. Persetan dengan kebenaran. Persetan dengan kejujuran. Toh politisi bisa membuat seribu satu alasan untuk menjadi pembenar atas sikapnya. Tak pentinglah sikap itu benar atau tidak. Toh mereka bisa berdalih [yang sudah klise] “demi kepentingan bangsa dan Negara”, “demi stabilitas ekonomi dan politik”, “demi konsistensi koalisi”, “demi keberlangsungan program pembangunan”, dan demi-demi yang lain.

 Sekali lagi, sikap itu tergantung ke arah mana pendulum politik mau di arahkan….Lihat saja pada saat voting. Hampir 100% sikap anggota Dewan sejalan dengan kebijakan politik partai induknya. Hanya segilintir orang yang berani mengambil langkah beda.  Dengan risiko yang berat tentunya. Bisa-bisa induk parpolnya melakukan PAW (pergantian antarwaktu) terhadap anggotanya yang “mbalelo”.   

 

Dalam kasus Century, tak begitu penting apakah anggota Dewan akan memilih opsi “A” [tak ada penyimpangan dalam bailout Century] atau “C” [terdapat penyimpangan]. Saya orang awam. Tak begitu paham istilah-istilah perbankan yang begitu rumit. Mana benar, mana salah, saya tidak begitu mengerti. Itu urusan penegak hukum. Saya cuma heran, kenapa pemerintah begitu “murah hati”  dengan mengggelontorkan dana Rp 6,7 triliun kepada Bank Century? Sedangkan jika untuk kepentingan rakyat, pemerintah sangat-sangat hitungan alias pelit? Wallahu’alam….

 Buat saya, yang paling esensial, betulkah sikap anggota Dewan itu benar-benar keluar dari hatinya? Apakah semua anggota Fraksi Demokrat benar-benar tak melihat ada penyimpangan dalam kebijakan bailout? Sebaliknya, Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Partai Golkar, Fraksi PKS, Fraksi Gerindra, Fraksi Gerindra, benar-benar menemukan bukti kuat adanya penyimpangan? [Saya tak perlu menyebut Fraksi PAN, karena fraksi ini benar-benar tak punya sikap. Di Pansus, fraksi PAN tegas menyatakan bailout menyimpang. Sedangkan di paripurna berubah 180%. Hmmm…..Masih mendingan sikap PKB yang “istiqomah”, tak berubah sikap. Agaknya partai ini begitu nyaman berlindung di ketiak penguasa]. Ataukah perbedaan pandangan antarparpol itu hanya karena beda kepentingan politik? Ataukah sikap tersebut benar-benar berpijak pada fakta kebenaran???

 Saya yakin banyak anggota Dewan yang terpaksa membohongi nuraninya. Sebrengsek-brengseknya orang, toh mereka masih punya nurani yang menyuarakan kejujuran. Meski seringkali suara nurani itu ditutupi oleh selimut kepentingan [politik maupun ekonomi]. Bagi anggota Dewan yang berbohong pada nuraninya inilah, terus terang, saya kasihan.

 Merekah telah kehilangan prinsip paling mendasar dalam hidupnya : kebebasan!!!. Mereka tak memiliki kemerdekaan menyuarakan kebenaran. Suara kebenaran sudah tereduksi oleh kepentingan politik partai. Meski mereka hidup serba mewah, dengan gaji yang “ruaarrr biasa” [untuk ukuran masyarakat kita], hakekatnya mereka hidup dalam kemiskinan. Miskin kebebasan, miskin kejujuran, miskin idealisme.

 Lantas apalah  arti kehormatan, fasilitas mewah, kekuasaan jika kemerdekaan anggota Dewan tergadaikan? Mereka tak ubahnya wayang. Sikap, perilaku, pendapat-pendapatnya tergantung sang dalang….

 Sejatinya mereka telah kehilangan hakekat kehidupannya…

 Gimana, Anda masih berambisi jadi anggota Dewan??? Hmm…

  Solo, 06 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s