Sosial

Budaya Antre…

Pria itu tiba-tiba menyerobot antrean. Dia tak merasa bersalah sewaktu saya tegur. “Lho, tadi kan saya duluan yang datang?,” katanya membela diri sambil memandang tajam saya. Saya hanya diam, karena memang tak mau ribut-ribut. Beruntung customer service (CS) di sebuah outlet provider seluler itu “membela” saya. “Maaf Bapak ini yang duluan,” jelasnya sambil menunjuk ke arah saya. Si pria itu baru mau mengalah.

Siang itu saya memang mendatangi outlet provider seluler di kompleks Solo Grand Mall (SGM) Solo. Mungkin karena pas hari libur, outlet itu cukup ramai. Tiga buah kursi yang disediakan tentu saja tak cukup menampung customer. Saya berdiri cukup lama menunggu antrean. Pas giliran saya datang, pria yang sejak awal selalu menyerobot di depan saya itu langsung mau duduk di depan CS.

Kasus yang saya alami di atas sekadar contoh kecil saja. Dalam keseharian saling serobot antrean dah biasa terjadi. Pembaca pun pasti sering mengalaminya. Antreannya diserobot, atau jangan-jangan Anda yang malah menyerobot. Masalah ini seolah dianggap sepele saja. “Ah, kan cuma nyerobot antrean,” mungkin begitu pikir sebagian dari kita.

Sejatinya tak tertibnya budaya antre menjadi persoalan serius. Ini menyangkut mentalitas. Saya sering menyebut, inilah mentalitas masyarakat dunia ketiga—istilah halus untuk menyebut masyarakat “terbelakang”. Kenapa terbelakang? Rendahnya budaya antre berarti apresiasi, penghargaan atas hak orang lain juga masih rendah. Antre adalah proses menunggu giliran agar hak kita dipenuhi. Dalam antrean, di depan kita ada hak orang lain. Pun orang di belakang kita. Seseorang mesti sabar menunggu giliran.

Sayangnya sebagian di antara kita tak punya kesabaran untuk menunggu. Selalu saja ada orang yang ingin haknya segera dipenuhi, dengan segala cara. Saat antre di traffic light misalnya, saya sering melihat hal aneh. Saat lampu menyala hijau, klakson kendaraan yang di belakang selalu berbunyi bersahutan. Kenapa sih orang membunyikan klakson? Untuk memberi peringatan kalau lampu sudah hijau? Atau karena memang mereka tak sabar giliran untuk lewat?

Bukankah setiap pengendera di traffic light pasti memperhatikan lampu pengatur jalan itu? Tanpa harus diklakson pun mereka sudah tau kalau lampu menyala hijau? Kenapa mesti mengklakson yang bikin bising?

Kita memang tak sabar. Maunya hak kita ingin dipenuhi lebih dulu. Tak peduli hak-hak orang lain yang terabaikan. Meski orang sering menyebut kita masuk ke era modern, toh tak bisa dipungkiri mentalitas kita sebenarnya masih “primitif”.

Mengubah mentalitas seperti ini memang butuh pembelajaran panjang. Namun itu bukan alasan untuk tidak memulainya. Penghargaan atas hak orang lain adalah awal terwujudnya keteraturan sosial.

Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang. Kita tidak mau kan disebut masyarakat terbelakang? Mari kita terus belajar…

Solo, 7 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s