Sosial

Demonstran, Apa sih yang Anda Cari?

Sopir taksi itu langsung ngomel begitu melihat metromini yang membawa demonstran lewat di jalanan Ibu Kota, beberapa hari lalu. Agaknya, sang sopir begitu membenci demonstrasi. Tiap hari, katanya, di Jakarta tak pernah luput aksi demonstrasi. Bahkan dalam waktu bersamaan aksi demo bisa terjadi di berbagai tempat. 

 Kata Pak Sopir, demontsrasi sering menyebabkan kemacetan. Jangankan ada demo yang melibatkan massa banyak, dalam kondisi normal pun macet menjadi realitas sehari-hari warga Jakarta. Sebagai orang yang mencari penghidupan di jalanan, sopir taksi tentu merasakan betul dampaknya. “Saya ini orang kecil, mbok ya jangan dibikin susah,” katanya terus mengomel. Buat setoran armada taksi Rp 150.000/hari saja, dia sering nombok. Praktis tak ada uang yang dibawa ke rumah. Dia punya anak istri yang butuh makan. Pernah dalam sehari tak ada penumpang sama sekali. Gara-garanya Jakarta diguncang aksi demo besar-besaran. Wajar jika dia begitu antipati terhadap demonstrasi…

Keluhan sopir taksi tersebut barangkali perlu menjadi renungan bersama. Saya yakin bukan hanya sopir taksi saja yang merasakan dampak langsung demonstrasi. Banyak anggota masyarakat lain yang merasakan hal sama. Terlebih banyak jika demo berakhir kericuhan. Siapa lagi yang rugi kalau bukan masyarakat.

Sejatinya, demonstrasi adalah bentuk ekspresi pendapat publik yang sah. Bahkan dijamin undang-undang jika dilaksanakan secara benar.

Demo menjadi salah satu parameter pendapat publik. Makin banyak orang yang demo, bisa menjadi menjadi salah satu indikator banyaknya anggota masyarakat yang sepakat atau tidak sepakat terhadap satu masalah. Meski saat ini mulai populer jajak pendapat [sebagai bentuk ekspresi pendapat publik yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara akademis], demo masih menjadi pilihan penting sebagai alat penekan. Demo masih diyakini memiliki daya tekan lebih ampuh ketimbang ekspresi pendapat publik lain.

Sayangnya ekspresi pendapat publik melalui demonstrasi sangat gampang dimanipulasi. Orang yang punya kepentingan tertentu, mudah sekali mengerahkan orang untuk demo. Asal ada duit, demo setiap saat bisa dilaksanakan. Tak heran, dalam beberapa kasus, orang-orang bayaran untuk demo sering ditemukan. Orang datang ikut demo bukan atas panggilan menyuarakan pendapatnya, tapi demi memeroleh sesuap nasi.  Mereka begitu semangat berorasi, meneriakkan yel-yel, tapi sebenarnya mereka tak tahu apa-apa tentang masalah yang sedang mereka demo.

Wajar publik sering dibuat sinis dengan aksi demontrasi. Meski saya akui, banyak pula demo yang benar-benar murni menyuarakan pendapat publik. Tapi berapa sih aksi murni seperti ini? Mungkin jumlahnya tak banyak. Di sisi lain, aksi demo sering tak memperhatikan kesantunan. Seenaknya saja memblokir jalan, membakar ban di tengah jalan. Ulah mereka tentu mengganggu para pengguna jalan. Apakah mereka tidak sadar pengguna jalan juga harus dihormati?

Ironis memang. Demonstran sering membawa nama “rakyat” dalam tuntutannya. Mereka sering meneriakkan demokratisasi, keadilan, kesetaraan, namun entah mereka sadari atau tidak, tindakan mereka telah menciderai nilai-nilai yang mereka perjuangankan. Memperjuangkan rakyat, tapi mengganggu rakyat pengguna jalan. Memperjuangkan keadilan, demokrasi, tapi mereka bersikap tak demokratis dalam berdemo. Inkonsistensi. Hal ini pula yang membuat, paling tidak saya sendiri, tak lagi percaya dengan aksi demo.

Sudah saatnya kita perlu mengembalikan demo ke ruhnya yang paling dasar, sebagai bentuk ekspresi pendapat publik  yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita tidak ingin aksi demonstrasi justru mengorbankan rakyat kecil, seperti sopir taksi tadi….

 Solo, 6 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s