Agama

Celana Cingkrang…

Pada Senin (12/10/2009) saya salat magrib di Masjid Kottabarat, Solo. Masjid ini sebenarnya bukan hal asing bagi saya. Saya sering salat di di sana, baik untuk salat Jumat maupun salat Tarawih pada saat Ramadan. Selama itu pula saya tidak pernah merasakan hal aneh. Sebagai masjid yang dikelola Muhammadiyah, saya merasa at home di sana. Namun, pada Senin kemarin saya merasa terusik. Saat muazin mengumandangkan iqomah, saya langsung berdiri dan mengambil tempat di sisi kanan imam di barisan pertama. Sang imam tengok  kiri-kanan untuk mengecek barisan.

Sang imam memperhatikan posisi saya berdiri. Saya tidak memperhatikan apa yang diomongkan. Saya tidak bisa melihat dengan jelas wajah saat imam karena kacamata sudah saya lepas saat mau salat. Pikir saya, paling banter dia meminta saya merapakan barisan. Secara refleks saya meluruskan barisan dengan jamaah lainnya. Selesai. Saya merasa sudah rapat dan lurus. Namun sang imam masih memperhaikan saya dan mengulangi lagi apa yang diomongkan. Lagi-lagi saya meluruskan barisan. Tengok kiri-kanan. “Oke, dah benar-benar lurus,” batin  saya. Anehnya sang imam tak segera memulai salat. Pandangannya masih tertuju ke arah saya. Saya bingung. Salah tingkah. Adakah yang salah pada diri saya? Saya mengecek baju dan celana yang saya pakai. No problem. Dengan celana jins panjang dan jaket saya merasa memenuhi syarat berpakaian untuk salat.

“Dia (imam) minta mas melintingkan celana hingga di atas mata kaki,” kata salah seorang jamaah di samping saya, mencoba membantu memahami “instruksi” sang imam.

Terkejut. Itu reaksi spontan saya. Aneh. Meski hati saya berontak, saya laksanakan perintah sang imam. “Ini untuk melaksanakan sunnah nabi,” kata sang imam dengan nada agak keras sesaat sebelum memulai salat. Mungkin jengkel karena “fatwa”nya tidak saya mengerti. Sebenarnya bisa saja saya mengabaikan instruksi sang imam. Tapi saya tidak ingin ribut-ribut di masjid. Meski saya akui, saya merasa malu ketika ditegur karena menjadi perhatian jamaah lainnya. Saya merasa diperlakukan seperti si “kafir” yang ada di masjid. Jengkel. Salat saya pun jadi tidak khusuk.

Selama salat saya berpikir. Punya otoritas apa dia memaksa saya menckingrangkan celana saya? Bukankah itu hak saya untuk berpakaian? Lagi pula saya belum pernah menemukan riwayat seorang imam berhak memaksa jamaah memakai celana cingkrang (celana menggantung di atas mata kaki). Jangankan sunnah, yang wajib pun seseorang tidak bisa dipaksa. Sang imam mungkin lupa dengan firman Allah : Laa ikrou fiddin… tidak ada paksaan dalam beragama. Apalagi memaksakan sesuatu yang menurut saya sangat tidak substansial : celana cingkrang…hah?…

Sejauh yang saya tahu, Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpakaian yang tidak menutupi mata kaki karena di Arab waktu itu, berpakaian yang menutupi mata kaki adalah simbol kesombongan. Tentu saja simbol orang Arab itu beda dengan konteks masyarakat kita. Bagi masyarakat Indonesia pakaian yang menutupi mata kaki bukanlah simbol kesombongan. Saya belum pernah dituduh sombong hanya karena berpakaian menutupi mata kaki saya. Sejujurnya saya sangat tidak nyaman jika harus bercelana menggantung seperti itu. Pesan yang saya tangkap dari perintah Nabi itu sebenarnya adalah ajakan kepada kita untuk memerangi semua bentuk kesombongan, keangkuhan. Sikap merasa lebih baik, lebih benar, lebih berkuasa, lebih hebat dari orang lain.

Agaknya kita sering menangkap ajaran agama dari sisi luarnya saja, tanpa memahami spirit moralnya. Contohnya dalam soal celana cingkrang. Karena sang imam merasa sudah melaksanakan sunnah Nabi dengan celana cingkrang, seolah-olah dia mengantungi mandat Tuhan untuk menegur bahkan memaksa makmumnya untuk melakukan hal sama. Duh, baru menjadi imam salat magrib saja sudah otoriter, apalagi kalau menjadi penguasa betulan. Sang imam mungkin tidak sadar, demi terlaksananya ajaran sunnah (bercelana cingkrang) dia telah melakukan hal yang haram.

Membikin orang lain malu, marah dan salatnya tidak khusuk adalah sesuatu yang terlarang.  Menurut Jalaluddin Rahmat, ini adalah contoh orang yang berparadigma fikih dan meninggalkan paradigma akhlak. Selalu mengedepankan ajaran fikih ketimbang mempertimbangkan sisi akhlak.

Dengan kejadian ini, saya jadi bertanya : Siapa yang sebenarnya  sombong? Saya…atau sang imam yang bercelana cingkrang itu? Wallahu’alam….

Solo, 13 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s