Media

Teroris Baru itu Bernama Media…

Teroris adalah tukang teror. Istilah ini biasa dipakai untuk tindakan individu atau kelompok yang bertujuan untuk membuat teror, membuat rasa takut. Bagi teroris, sasaran yang dituju kadang-kadang tak begitu penting. Yang lebih urgen ada efek dari suatu tindakan.

 
Tukang teror tersebut kini tak hanya pantas ditujukan bagi mereka yang sering meledakkan bom. Media pun bisa masuk kategori teroris bila pemberitaan media sudah masuk dalam kategori membikin ketakutan.

 
Fenomena ini mulai nampak terutama saat media memberitakan kasus meletusnya Merapi. Tiap media, khususnya televisi, berlomba-lomba untuk memberitakan yang tercepat, paling eksklusif. Ambisi media seperti ini sangat wajar. Dalam dunia jurnalistik semakin eksklusif berita makin punya news value yang tinggi pula.

 
Terlebih bila ada kasus-kasus luar biasa seperti Merapi meletus. Media, khususnya TV  berita,  berlomba-lomba (kalau tak ingin disebut bersaing) menyampaikan informasi  tercepat, membuat gambar seeksklusif mungkin. Sayangnya dalam menyajikan berita  eksklusif media kadang-kadang tak mengindahkan kaidah-kaidah jurnalisme. Saking semangatnya memberitakan, media lupa pada tugas pokoknya untuk  memberi pencerahan bagi masyarakat. Kredo jurnalisme yang bertumpu pada fakta dan kebenaran diabaikan. Media tak lagi memberitakan secara proporsional, cenderung berlebihan. Tak lagi bisa memilah mana informasi yang diperlukan, mana berita yang justru memantik ketakukan.

 
Berita-beritanya pun tak lagi bersifat empatik terhadap korban. Media cenderung mengeksploitasi bencana menjadi ”jualan”, komoditas untuk meraup keuntungan semata. Gambar-gambar kengerian terus tayang berulang-ulang. Awalnya gambar-gambar seperti  ini bisa memberi informasi penting bagi pemirsa. Namun jika penayangannya terus diulang, publik makin ”muak”. Gambar yang sebenarnya untuk mengusik rasa empati tapi justru bisa membuat pemirsa jadi ”kebal”, kehilangan kepekaan karena terlalu sering melihat.

 
Yang lebih parah, berita-berita yang bersifat live reporter tak punya waktu lagi untuk memverifikasi fakta. Tak jarang berita live tak akurat, keliru sehingga ”menyesatkan”  publik. Menyikapi kecenderungan media, khususnya TV, jaringan relawan di Yogyakarta mengirimkan surat terbuka kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka keberatan dengan berita televisi mengenai bencana Gunung Merapi yang dinilai berlebih-lebihan sehingga menambah resah para pengungsi. Menurut perwakilan relawan,  Aryo Bilowo sebagaimana dikutif detik.com Minggu (7/11), banyak kejadian dalam 10 hari letusan Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah yang diberitakan secara tidak sahih oleh televisi. Mereka cenderung mendramatisasi keadaan, sehingga membuat warga semakin panik.

 
Bencana jurnalisme  

 
Contohnya, Aryo menyebut berita di salah satu stasiun TV swasta pada tanggal 29 atau 30 Oktober 2010. Wartawan televisi itu melaporkan awan panas telah mencapai Jl Kaliurang Km 6,2 atau hampir 25 km dari puncak Merapi. Belakangan diketahui, bahwa yang mencapai lokasi tersebut adalah hujan abu, bukan awan panas. Lalu, pada tanggal 4 November, stasiun TV yang lain melaporkan adanya korban meninggal karena lahar panas. Setelah dicek, korban meninggal bukan karena lahar panas, melainkan terkena awan panas. Namun, wartawan televisi itu tetap bersikukuh dengan liputannya.

Meminjam istilah Ahmad Arif, penulis buku Jurnalisme bencana, bencana jurnalisme,  fenomena ini bisa kita sebut sebagai ”bencana jurnalisme”. Bencana jurnalisme karena laporan karya jurnalistik bencana sudah melenceng jauh dari prinsip dasar jurnalisme.  Tentu ini sangat memprihatinkan. Kasus ini tak hanya merugikan bagi citra jurnalisme, yang lebih payah memancing ketidakpercayaan masyarakat terhadap informasi dari media. Selama ini media menjadi tumpuan akhir masyarakat untuk memperoleh informasi. Masyarakat kadung percaya informasi dari media. Bila belakangan informasi itu ternyata ”menyesatkan”, ini yang perlu dikritisi bersama.

 

Kita tak menampik peran media dalam memberitakan kasus bencana. Solidaritas masyarakat bergerak serentak untuk saling membantu meringankan korban bencana juga akibat ”jasa” baik media. Melalui media mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, lantas tergerak ikut membantu. Dunia jurnalisme memang harus introspeksi diri. Menata diri. Melihat kembali jati dirinya. Bersikaplah wajar. ”Tuhan” Anda adalah kebenaran, bukan rating, oplah. Jurnalisme selalu hadir dengan memberi pencerahan, mendidik, memberi informasi yang benar. Bila kehadiran media justru menjadi teror bagi masyarakat, pasti ada sesuatu yang salah. Waspadalah…

 
Solo, 7 November 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s