Agama

Saat Agama Kehilangan Ruh…

Apa sebenarnya agama itu? Tanya seorang murid kepada KH Ahmad Dahlan.

Ahmad Dahlan tak langsung menjawab. Ia justru mengambil biola dan memainkannya. Indah sekali…para muridnya terpesona oleh biola sang kiai.

“Apa yang Anda rasakan,” tanya Ahmad Dahlan.

Murid-muridnya menjawab,” damai, indah, harmoni, keteraturan.”

“Ya begitulah agama,” jawab Ahmad Dahlan. Jawaban singkat tapi penuh makna. Dahlan lantas menyerahkan biola itu kepada muridnya. Dasar tak bisa main biola, sang murid memainkannya sembarangan. Melodinnya tak karuan. Murid lain menutup telinga.

“Apa yang Anda rasakan,”?

“Kacau,” jawab murid-muridnya serentak.

“Begitulah Agama kalau tanpa keteraturan,” sambung Dahlan.

Penggalan dialog dalam film Sang Pencerah ini (mungkin dialog di atas tak persis karena keterbatasan ingatan saya) sangat mengesankan saya. Meski setting cerita ini terjadi sekitar 100 tahun silam, pemaknaan agama Ahmad Dahlan sangat pas di saat agama mulai kehilangan ruhnya.

Meski hanya dalam film, dialog Ahmad Dahlan dan murid-muridnya ini memberi pelajaran berharga. Bahwa agama hadir di dunia pada hakekatnya mengemban misi suci : membangun keteraturan, kedamaian, kesantunan.

Bahwa di dunia ini banyak lahir agama, ini sebagai realitas yang tidak bisa kita hindari. Keragaman dalam keberagamaan adalah sunnatullah (ketentuan Tuhan) yang tak bisa dielakkan.

Sayangnya misi suci agama ini tak selalu dipahami para pemeluknya. Pada banyak kasus agama justru menjadi pemicu—atau lebih pasnya dijadikan alat—yang mendistorsi nilai-nilai kedamaian. Keyakinan akan kebenaran agamanya membuat persespsi bahwa keyakinan agama lain adalah “musuh”. Agama lantas menjadi penyekat : siapa kita, siapa mereka, perasaan in-group dan out-group. Segregasi atas nama agama ini yang acapkali membikin benturan, gesekan.

Hari-hari terakhir ini kita memang dihadapkan pada kondisi yang sangat memrihatinkan. Konflik jemaat HKBP dengan masyarakat setempat, pembakaran permukiman Ahmadiyah di Jabar sekadar contoh betapa benturan atas nama agama menjadi potensi laten yang setiap saat bisa menjadi manifes.

Saya tidak habis mengerti dengan mind set para pelaku kekerasan. Apa sebenarnya yang berkecamuk dalam pikirannya saat menyerang pengikut Ahmadiyah? Menusuk jemaat HKBP saat akan mereka akan kebaktian? Bukankah setiap pemeluk agama bebas beribadah sesuai dengan keyakinannya? Mengapa hanya untuk mendirikan tempat peribadatan saja ditentang? Bukankah mendirikan tempat ibadah itu sesuatu yang sangat mulia? Kenapa mesti diatur secara ketat yang ujung-ujungnya merugikan kelompok minoritas?

Ironi. Coba bandingkan dengan perilaku korup di negeri ini. Kita agaknya sangat permisif. Koruptor seolah tak mendapatkan sangsi sosial, apalagi sangsi hukum. Mereka tetap mendapatkan tempat di hati sebagian masyarakat. Ini yang mengakibatkan perilaku korup tak memperoleh efek jera.

Negara yang seharusnya menjadi juru damai atas konflik agama, sering tak menampakkan peran. Pembiaran demi pembiaran kekerasan agama seolah memberi sinyal, menyerang kelompok lain bisa terbebas dari hukum. Dari sekian aksi kekerasan, berapa yang diseret ke meja hijau? Saya yakin, lebih banyak bebas hukum ketimbang yang diproses. Ini yang menjadi salah satu sebab, kekerasan nyaris tak pernah lepas dari negeri ini. Nyawa, rasa aman, seolah menjadi barang yang sangat murah.

Dalam kaitan ini, agaknya dialog Ahmad Dahlan tersebut patut kita renungkan kembali : agama hadir memberi rasa aman, kedamaian. Kala agama menjadi pemicu konflik, pada esensinya agama telah kehilangan ruhnya…yang tersisa tinggal aturan-aturan, syariat yang tidak bermakna…

Solo, 10-10-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s