Muhammadiyah

Menghidukan Semangant Pembaharuan Muhammadiyah

Muktamar Muhammadiyah ke-46 usai sudah. Perhelatan akbar 3-8 Juli di Yogyakarta ini mengandung makna strategis. Inilah muktamar yang menandai pergantian abad umur  persyarikatan. Muhammadiyah kini berumur satu abad sejak didirikan Ahmad Dahlan 1912 silam. Melalui muktamar di tempat kelahirannya, Muhammadiyah mulai menapaki abad ke-2.

Begitu banyak kritik dan harapan terhadap Muhammadiyah di paruh kedua ini. Harapan ini terkait peran kesejarahan Muhammadiyah untuk satu abad ke depan. Jika mengacu jejak rekam Muhammadiyah 100 tahun ini, organisasi ini tidak hanya dikenal sebagai gerakan pemikiran, tapi juga gerakan amal. Siapapun mengakui reputasi Muhammadiyah di bidang ini. Prestasi kasad mata Muhammadiyah adalah ribuan amal usaha yang dikelola, dari sekolahan, perguruan tinggi, panti asuhan, rumah sakit, dsb yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Banyak yang mengatakan, jika dilihat dari amal usahanya, Muhammadiyah adalah organisasi massa Islam terbesar di dunia. Prestasi yang membanggakan warga persyarikatan tentunya. Sukses amal usaha Muhammadiyah tak lepas dari kecerdasan dan keberanian Ahmad Dahlan dalam melakukan pembaharuan pemikiran. Di tengah kejumudan dan kebekuan berpikir di kalangan umat Islam kala itu, Ahmad Dahlan melakukan pendobrakan. Wujud nyata hasil pembaruan Ahmad Dahlan adalah menafsirkan surat Al Ma’un.

Surat ini sering disebut-sebut sebagai surat yang sangat berpihak kepada masyarakat tak mampu, seperti  orang miskin dan anak yatim. Tafsir Ahmad Dahlan terhadap “ayat kaum mustad’afin” (orang-orang tertindas) ini kemudian diwujudkan dalam bentuk amal usaha. Berbagai amal usaha yang dibuat Ahmad Dahlan mengadopsi ajaran Islam (khususnya Surat Al Ma’un) dengan sistem organisasi modern.

Resistensi

Langkah Ahmad Dahlan mengintegrasikan pesan teologis agama dengan kemodernan bukannya tanpa tentangan. Gerakan Ahmad Dahlan yang melampui mainstream pemikiran umat Islam kala itu mendapatkan resistensi luar biasa, terutama dari kelompok tradisionalis. Toh demikian, Ahmad Dahlan terus berjalan dengan pemikiran-pemikirannya. Hasilnya memang luar biasa. Ide-ide besar Ahmad Dahlan menghasilkan karya-karya yang besar pula. Selama 100 tahun ini Muhammadiyah menjadi gerakan  raksasa.

Seiring besarnya organisasi Muhammadiyah, justru kini menimbulkan persoalan baru. Muhammadiyah tak lagi bergerak lincah dalam kancah pemikiran. Semakin gemuknya Muhammadiyah menjadikan organisasi ini cenderung lamban. Pengurus Muhammadiyah sangat sibuk mengurusi amal usahanya. Parahnya lagi Muhammadiyah mulai kehilangan daya kritis dalam menganalisis realitas kehidupan berdasarkan pemahaman teologis. Muhammadiyah tak lagi melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Muhammadiyah cenderung konservatif, justru menolak pemikiran-pemikiran baru. Realitas ini sesungguhnya ironis. Fakta sosiologis lahirnya Muhammadiyah adalah keprihatinannya terhadap berhentinya berpikir di kalangan umat. Namun, setelah 100 tahun justru spirit Muhammadiyah ini mulai meluntur. Amal usaha Muhammadiyah pun tidak beda dengan amal usaha yang dikelola organisasi lain. Lantas, apa beda Muhammadiyah dengan yang lain?

Selesainya Muktamar Muhammadiyah ke-46 hendaknya menjadi ajang refleksi pengurus Muhammadiyah dalam menafsirkan kembali eksistensi Ormas ini. Muhammadiyah perlu kembali ke spirit khittah seperti di awal berdirinya. Bukan setback ke masa lampau melainkan menangkap ulang semangat pembaharuan yang dicontohkan Ahmad Dahlan. Amal usaha Muhammadiyah merupakan hasil tafsir terhadap surat Alma’un. Ini adalah keberasilan pendiri Muhammadiyah itu menurunkan pesan teologis menjadi realitas sosiologis. Tentu setelah 100 tahun, tafsir itu perlu ditafir ulang disesuaikan dengan realitas sekarang. Ahmad Dahlan baru menggunakan satu surat sebagai landasan gerakan. Padahal masih banyak ayat-ayat lain yang terkait pemberdayaan umat yang juga perlu ditafsir dan diwujudkan menjadi gerakan praksis. Tentu ini kerja besar.

Tantangan terbesar Muhammadiyah di abad ke-2 ini sejatinya bagaimana mengembalikan semangat pembaharuan yang menjadi khittah Muhammadiyah. Tak mudah memang. Semakin besarnya Muhammadiyah, semakin plural pula pola pikir pengikut Muhammadiyah. Tak sedikit pula pengurus Muhammadiyah yang justru berpola pikir konservatif, antiperbedaan pemikiran, dan bahkan antipembaharuan. Orang-orang yang anti pembaharuan ini yang menjadi kendala Muhammadiyah untuk berpikiran maju. Pada Muktamar jelang 1 abad di Malang Muhammadiyah lima tahun silam, Muhammadiyah sudah bertekad melakukan tajdid gerakan (pembaharuan gerakan). Semangat tajdid itu belum tampak nyata hingga muktamar di Yogyakarta ini.

Sebagai bagian terkecil dari organ Muhammadiyah, saya hanya bisa merindukan akan lahirnya kembali semangat pembaharuan di kalangan Muhammadiyah. Tanpa spirit tajdid, perjalanan Muhammadiyah di abad ke-2 tak akan banyak artinya. Ahmad Dahlan sudah memulai. Saya menunggu lahirnya “Ahmad Dahlan-Ahmad Dahlan” lain dari rahim Muhammadiyah di abad ke-2 ini…

Solo, 8 Juli 2010

 Simbol Muhammadiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s