Media

Infotainmen Bukan Karya Jurnalistik

Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sepakat infotainment bukanlah berita. Produk infotainment tak bisa dimasukkan sebagai karya jurnalistik. Kebijakan ini makin memperjelas posisi infotainment.

Selama ini produk infotainment masih kontroversial. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berpendapat infotainment adalah karya jurnalistik. Para pemburu “gosip” infotainment pun bisa masuk menjadi anggota PWI. Kebalikannya Aliansi Jurnalis Independen (AJI)  menolak. Menurut AJI, infotainment bukan berita karena proses pembuatan  infotainment tidak dilakukan melalui kaidah jurnalistik yang benar. Ormas Nahdlatul Ulama (NU) mengkategorikan infotainment sebagai ghibah (menggunjing) dan haram hukumnya.

Saya sendiri sejak awal menentang infotainment sebagai produk jurnalistik. Dalam banyak kasus, produk infotainment jelas-jelas tidak mengindahkan kode etik jurnalistik. Selain cara memperoleh “berita” sering melanggar prinsip-prinsip jurnalisme, substansi infotainment  pun tidak memenuhi kelayakan berita.

Kaidah dasar jurnalisme selalu mengatakan : berita harus berlandaskan fakta. Berita mesti berorientasi kepada kepentingan publik. Berita tak boleh menembus batas-batas privasi seseorang kecuali untuk kepentingan umum. Sejauh saya mengamati tayangan infotainment, saya sering kesulitan mencerna, membedakan, mana narasi yang berlandaskan fakta, mana gosip, dan mana fitnah. Batas antara gosip dan fakta menjadi sangat tipis. Antara fakta dan opini host (presenter) menjadi campur aduk.

Tema-tema tayangan infotainment hanya berputar (tidak semua tentunya) pada masalah kawin, cerai, pacaran, konflik keluarga, rebutan anak para selebriti. Dalam ranah jurnalisme, tayangan-tayangan infotainment dengan mengusik-ngusik urusan pribadi, menembus kamar tidur merupakan “kejahatan jurnalisme”.  Jika produk infotainment dipaksakan sebagai berita, buat saya, ini sebagai bentuk merendahkan karya jurnalistik. Mendegradasi karya-karya jurnalistik yang “sakral”, mencerahkan, mendidik hanya menjadi urusan ranjang, gosip, dan fitnah.

Karya jurnalisme memang bisa untuk menghibur. Namun karya jurnalistik yang menghibur ini harus dibuat dengan mengindahkan kode etik jurnalistik. Problemnya infotainment yang didesain untuk menyampaikan informasi dan hiburan tak mentaati prinsip-prinsip jurnalistik.

Kesepakatan Dewan Pers dan KPI ini maka acara infotainment hanya tayangan hiburan semata, tak ada unsur beritanya. Infotainment pun harus melalui badan sensor film sebelum layak tayang di televisi. Hal yang paling subtansial, infotainment tak harus dipercaya kebenarannya. Sekali lagi, karena infotainment bukan berita, tayangan hiburan semata…tak ubahnya Anda menonton lawak, dagelan…

Solo, 09 Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s