Sosial

Generasi Muda, Benih Radikalisme?

Temuan penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tak begitu mengejutkan saya. Penelitian yang dilakukan Oktober 2010-Januari 2011 ini menunjukkan generasi muda cenderung bersikap radikal dalam kehidupan keagamaan. Mereka umumnya menoleransi aksi kekerasan, entah pengeboman, penyegelan, perusakan rumah atau fasilitas ibadah milik aliran keagamaan lain.

sejak awal saya berpendapat benih-benuih radikalisme bersemai sejak generasi muda. Mereka adalah produk pendidikan yang menafikan toleransi, miskin misi perdamaian, meminimalisir sikap memahami perbedaan. Namun hasil survei ini–meski hasilnya masih bisa diperdebatkan–menunjukkan gerakan radikalisme tidak akan hilang dalam waktu dekat. Mata rantai radikalisme masih akan panjang. Sebab, generasi muda dan para pelajar sebagai leader bangsa ke depan saja sikapnya seperti ini. Aksi kekerasan, perusakan rumah ibadah, penyerangan terhadap pihak lain yang berbeda pemahaman/keyakinan, bahkan peledakan bom masih akan menjadi bagian sehari-hari.

Semula saya berharap mata rantai radikalisme akan putus dengan lahirnya generasi baru. Hasil penelitian ini membuat pesimistis. Bahwa gerakan radikalisme masih akan menjadi bagian dari republik ini. Entah sampai kapan….

Kaum muda adalah produk proses. Entah proses belajar mengajar di bangku sekolah maupun proses interaksinya dengan lingkungan. Bila sekolah tak mengajarkan nilai-nilai cinta kasih, lingkungan tak tak memberi ruang untuk belajar memahami perbedaan, bukan hal aneh generasi muda akan bersikap fundamentalis. Apalagi kondisi sosial-ekonomi sangat mendukung.

Lantas kepada siapa kita berharap perubahan? Pelajaran moral? pelajaran agama? Ah,.saya tak terlalu berharap. Saya malah curiga. justru mata pelajaran agama ini yang mendorong orang bersikap keras. Bukan agamanya yang keliru, tapi cara pengajaran nilai-nilai agama yang tidak pas.

Saya tidak akan mencontohkan orang lain. Saya akan bercerita tentang pengalaman pribadi. Awalnya pemahaman saya tidak jauh beda dengan anak-anak muda yang menjadi obyek penelitian LaKIP. Radikal. Saya senang kalau ada aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Apalagi kalau aksi itu dilandasi motivasi “jihad”. Saya begitu bangga saat candi Borobudur diledakkan. Saya merasa makin beriman saat kantor tabloid Monitor dirusak karena menurunkan hasil angket yang dianggap melecehkan Nabi Muhammad. Saya sangat membenci Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu terkesan membela Monitor dengan mengecam aksi perusakan. Saya juga gemar membaca tabloid Ar-Risalah (tabloid radikal dan sering menyerang Pancasila). Beruntung saja saya tidak direkrut jadi teroris…

Memahami perbedaan

Saya sering merenung, kenapa sikap saya seperti itu? Apa yang salah dari kehidupan saya? Mungkin saya adalah korban proses. Korban sistem pendidikan yang tidak ramah terhadap kebinekaan. Selama saya belajar di madrasah (saya menamatkan SD-SMA di madrasah) saya tidak pernah diajari bagaimana memahami perbedaan. Saya tidak pernah dikasih tahu bahwa kekerasan–dalam berbagai manifestasinya–bertentangan dengan agama. Pelajaran kitab suci tak lebih dari hafalan ayat dan terjemahannya. Saya tidak bisa menangkap substansi ajaran kitab suci. Pelajaran sejarah Islam lebih banyak bercerita tentang peperangan semasa Nabi ketimbang membahas misi perdamaian Muhammad.

Saya tidak tahu persis, apakah model pembelajaran agama di sekolah saat ini masih seperti saat saya masih sekolah. Tapi saya yakin tidak jauh berbeda. Buktinya masih melahirkan generasi-generasi fundamentalis. Di Solo, buku pelajaran agama Islam dengan pendekatan perdamaian justru dikecam ramai-ramai dan tidak boleh diedarkan. Di sekolah tertentu tidak meliburkan proses belajar mengajar meski tanggal merah hanya karena hari keagamaan agama lain. Ini kan sama saja mengajarkan murid untuk tidak menghargai, menghormati agama lain. Kebijakan sekolah seperti ini yang melahirkan sikap intoleransi bagi anak didik.

Beruntung paradigma keagamaan saya berubah setelah berkenalan dengan berbagai pemikiran keagamaan. Mulai terbuka dengan perbedaan. Mulai memahami keragaman. Saya menyadari kekeliruan mind set saya dalam memahami agama. Dan banyak tokoh besar lain yang bertransformasi dari fundamentalis menjadi pluralis setelah berkenalan dengan pemikiran tertentu. Ahmad Syafii Maarif –seperti diceritakan di biografinya “Titik-titik kisar dalam kehidupanku”–berubah pikiran setelah berguru kepada Prof Fazlur Rahman di Universitas Chicago AS. Demikian pula Jalaluddin Rahmat,  berubah setelah melalui proses panjang bergelut dengan dunia pemikiran…

Beruntung saya “bertaubat”. Demikian juga tokoh-tokoh lain. Semata-mata setelah berdialektika dengan pemikiran keagamaan yang beragama. Sementara, banyak orang yang tak mengalami kesempatan ini. Ya, mereka terjebak dalam paradigma pemikiran fundamentalis selamanya…

Nah, temuan survei LaKIP ini menjadi tamparan dunia pendidikan. kuncinya merombak dan merekonstruksi kembali pengajaran di sekolah, khususnya mata pelajaran agama. Pelajaran agama mesti disampaikan dengan semangat perdamaian dan dalam konteks kebangsaan yang plural. Ini semata-mata untuk memutus mata rantai radikalisme…

Solo, 29 April 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s